Kanvas Orion




Kurasa langit adalah sahabat setiaku. Saat angin menyusupkan hawa dingin yang menggigit hingga ke tulang, langitlah  yang mengantarkan puing masa lalu. Dan saat syahdu kicau burung menyambut matahari pagi, langit pula yang menerima segala gantungan doa dan harapan baru. Ia telah banyak memberiku penyangga hatiku yang rapuh.


Setiap kali aku tengadah, wajah-wajah yang terekam lama di kepalaku, satu per satu sketsa muncul pada gumpalan-gumpalan kapas putih di angkasa. Melambai-lambai padaku sebelum akhirnya bayang-bayang itu pergi tergantikan bentuk-bentuk awan yang lain.


Kelamnya malam semakin pekat, aku teringat pemilik mata bening dengan alis tebal dan bola mata yang nyaris bundar sempurna. Seperti wajah rembulan musim ini yang menjadi pengantar luruhnya daun Kesemek, saat buahnya yang bulat dengan warna semburat cahaya matahari terbenam telah matang, di sudut taman kecil di ujung sana. Kelebat masa lalu berhamburan, termasuk peristiwa saat langit memoles diri menjadi jingga, beberapa saat lalu.


"Wah, ga bakal selamat, tuh! Lukanya dalam gitu."


"Iya, besok juga ia sudah ga ada lagi di sini!"


Aku sudah menutup telinga pada perkataan seperti itu. Seharian aku berjalan tanpa tujuan. Hingga akhirnya di bawah rindang pohon Jeruk, aku putuskan menutup mata dengan luka yang kurasakan darahnya kian membasahi tubuhku. Untuk pertama kalinya aku tak melihat langit untuk mendapatkan kekuatan.



Setengah sadar aku merasa tubuhku terangkat, dan ketika mataku terbuka sempurna, kudapati manusia bermata bening dengan semacam kain yang menutupi separuh wajahnya. Ia membalut tubuhku dengan daun dan menaikkanku di pelana kendaraannya. Ia mengemudi dengan satu tangan, dan tangan satunya memegangi tubuhku.


"Nah, sudah sampai. Sini aku rawat lukamu."


Begitulah, ia kemudian mengguyurkan air dari botol berwarna serupa awan yang diambilnya dari kotak ada tanda merah saling bersilangan, membuatku terjingkat sesaat, tapi aku menikmatinya karena ia memberikan sentuhan yang menenangkanku di kepala. Tidak perih seperti yang kukira, rasanya seperti saat kakiku menyentuh kubangan air jejak hujan.


Tanpa jijik pula ia membersihkan lukaku yang terkena tanah atau tempelan rumput kering. Aku terpejam. Terakhir kurasakan dingin saat ia menempelkan kain tipis yang telah dibasahinya lagi dengan cairan tadi, lalu menutupnya dengan kain seperti jaring panjang berwarna putih kapas. Lalu membuat simpul melingkari tubuhku.


"Cepat sembuh, ya. Ini makanlah agar kau semakin membaik."


Segera tanpa malu-malu kulahap makanan yang ia letakkan di dekatku. Kedua bola mataku terasa berkabut. Ternyata masih ada makhluk-Nya yang baik, setelah aku terpisah lama dengan Enif, gadis kecil dengan bola mata bundar kebiruan, yang selalu ceria membagikan cerita-ceritanya tentang langit bersama dengan makanan yang selalu ia bagi untukku. Darinya aku menikmati makanan mewah, kadang ikan, daging maupun kepingan-kepingan seperti kulit kacang yang berbunyi kriuk ketika dimakan.


Dalam sekejap habislah makanan itu. Aku baru ingat, sebelum perkelahian yang menyebabkan tubuh di bawah tangan kiriku terluka dan terbuka, entah menampakkan apa nama bagian dalam itu, yang kutahu sejak saat itu darah mengalir hingga kaki. Susah payah aku mencoba bangkit menyelamatkan diri. Lalu tergolek pasrah hingga bertemulah aku dengan lelaki berambut lurus, dengan rambut depan yang lebih pendek hingga menutupi dahi, hampir mengenai matanya. Lelaki tinggi itu kini duduk di sebelahku.


"Kau tahu, kau mirip dengan kucingku yang dulu. Bulu cokelat muda dan putih sepertimu. Namun satu dari dua bola matanya berwarna abu-abu. Semoga kau betah ya tinggal di sini." Ia mengelus kepalaku.


Tiba-tiba bayangan ibu hadir, ia selalu memanjakanku seperti ini, dan memang hanya akan jadi bayangan saja, sebab aku terpisah dari ibu dan saudara-saudara kecilku yang menjadi teman berebut bersandar di perut hangat ibu.


"Mulai sekarang, kupanggil namamu Rion, ya."


Kuberikan balasan dengan menyentuhkan kepalaku beberapa kali ke kakinya. Kurasa ia tinggal sendirian di rumah ini, tak ada suara riuh anak-anak atau ada seorang wanita yang menyambut kepulangannya tadi.


"Dok.. Dokter Sirius, minta tolong, dok. Bapak saya tiba-tiba sesak untuk bernafas. Bisakah dokter datang ke rumah kami?"


Tiba-tiba ada seorang gadis berkucir dengan penutup wajah tepatnya di bagian bawah mata hingga ke batas bawah wajah, yang banyak kulihat dipakai manusia-manusia di sepanjang perjalanan, berbicara dari balik pagar rumah dengan nafas terengah-engah, persis ketika aku dulu dikejar kawanan anjing yang tanpa alasan tiba-tiba saja mengejarku.


"Oke, tenang, Dara. Sebentar ya, bapak siapkan dulu peralatannya. Kalau kau ingin menungguku bersiap, buka saja gerbang itu. Atau kalau kau mau pulang lebih dulu silakan. Rumahmu di ujung gang itu kan?"


Bergegas lelaki yang beberapa detik lalu merawatku memasuki bagian dalam rumahnya. Kutatap gadis berambut kecokelatan  yang hanya berdiri mematung di depan pagar. Wajahnya tampak muram seperti awan kelabu yang membawa potongan-potongan kesedihan.


"Hei, kau masih di sini? Ayo kita berangkat!" Lelaki berbaju putih itu menyiapkan kendaraan beroda besar. "Kutinggal dulu ya, kucing kecil." Ia menatapku dengan mata beningnya.


Manusia penolongku pergi dengan kembali memakai penutup hidung dan mulutnya. Ia melapisi bajunya dengan lapisan baju luar berwarna awan putih menutupi separuh tubuhnya. Kontras dengan warna celananya yang pekat. Sekilas kulihat ada semacam tali dengan ujung berkilat seperti warna sinar matahari siang, yang menggantung di lehernya. Serta tangannya menenteng tas kotak yang mungkin berisi perawatan juga seperti yang baru saja dilakukannya untukku.


Mereka segera hilang dari pandanganku. Kurebahkan badanku di alas rumah yang tersusun dari batu-batu besar berwarna putih kecokelatan. Mataku berat untuk tetap terbuka. Semilir angin berbisik dalam buaiannya.


Entah sudah berapa lama aku terpejam tadi, tiba-tiba hari sudah gelap dan terdengar suara kendaraan yang meraung-raung. Perasaanku mengatakan ada hal tidak enak yang telah terjadi. Aku pernah melihat kendaraan kotak berwarna awan berlari kencang di jalanan abu-abu yang mulus tanpa bebatuan dan kerikil. Ada bulatan merah kecil di bagian atas kendaraan kotak yang menyala seperti warna matahari senja.


Bahkan kemarin lusa aku pernah melewati pekarangan tanah merah penuh gundukan dengan kendaraan itu lagi. Beberapa manusia berpakaian sewarna awan putih berada di salah satu gundukannya. Pakaian yang mereka kenakan sempurna membungkus tubuh. Bahkan kedua matanya pun tak begitu jelas kulihat karena ada semacam lapisan bening yang berkilatan tertimpa cahaya matahari. Enif dulu pernah memberitahuku tentang manusia yang bepergian ke langit dengan memakai baju awan. Apakah sama dengan mereka?


Pikiranku berjalan laksana awan-awan yang bergantungan di siang hari, tapi hanya ada bulan bundar yang menyingkirkan awan-awan di sekelilingnya. Sesaat tampak wajah penolongku dan gadis yang akan ia tolong mengerling dari tiga titik bintang yang berdekatan di sisi yang berlawanan dengan posisi bulan. Tapi hanya sesaat. Yang tertinggal hanya aroma tangan saat menolongku tadi, yang kian memudar bersama raungan kendaraan yang semakin lirih tertangkap telingaku.




_______________ In sya Allah bersambung yaaaa



Menyemarakkan walau terlambat, untuk One Week One Writing, Rumbel Menulis Ibu Profesional Depok









Tidak ada komentar