Minggu, 31 Januari 2021

Jebakan Screenshot

Screenshot


Awalnya menganggap adanya larangan pada UU ITE jika tangkap layar sebagai sebuah hal yang berlebihan. Tapi ternyata ngerasain juga menjadi korban.

Dan ternyata hal tersebut berlanjut ketika belajar memahami aturan dalam sebuah komunitas yang 'mengharamkan' menyebarkan screenshot percakapan whatsapp. Lagi-lagi sempat menjadi kubu penolak kebijakan tersebut hingga sampailah pada kejadian  yang menyebabkanku sempat berpikir untuk menulis capslock "Jangan mengambil foto saya dan menyebar luaskan tanpa izin!" 

Nah, foto itu termasuk data pribadi bukan sih? 


Kalau menurut penjelasan dari Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 20 Tahun 2016 tentang Perlindungan Data Pribadi dalam Sistem Elektronik. Data pribadi dijelaskan adalah data perseorangan tertentu yang disimpan, dirawat, dan dijaga kebenaran serta dilindungi kerahasiaannya. (Kominfo).

Mengapa sampai merasa menjadi berang-berang yang berang? 

Masalahnya ialah ketika ada fotoku yang tertangkap layar oleh teman dan kemudian oleh beliau fotoku tersebut diolah menjadi video, yang kabarnya diunggah ke sosmed juga. Sedangkan foto adalah salah satu hal yang menjadi kesepakatanku dan suami untuk tidak mengunggah foto pribadi ke sosmed. 

Meski terkesan tak bermakna ya bagi orang lain, tapi itulah janjiku pada suami untuk menjaga beliau, dan beliau bilang sebagai bentuk penjagaanku, agar tak ada foto receh apalagi tanpa seizin dan sepengetahuan beliau. 

Maka ketika tahu ada teman yang mengunggah fotoku ke sosmed tanpa seizinku (bahkan tanpa pemberitahuan) lebih dulu, seolah cermin yang dipakai berkaca, tiba-tiba pecah berkeping-keping. 

Kami memang tidak tinggal di gua yang menepi dari dunia, namun kami hanya membatasi publikasi diri yang menurut kami bukan hal primer untuk dibagi pada publik. 

Lebih lanjut untuk pilihan 'menyembunyikan' foto diri kulakukan karena usahaku untuk berbakti pada suami. Terserah dunia mau membincang seperti apa. 😀

Dan terutama untuk foto anak-anak, kami pun berupaya membatasi meski jujur ingin bangeeet, bangeeeet share foto lucu dan aksi memukau mereka ke publik. Tapi pertanyaan lanjutannya untuk apa? Apakah biar dapat apresiasi dari orang lain? Ah, rasanya dangkal sekali ini kalau bagi kami.

Serta pertanyaan terakhirnya ialah, 

 Apakah anak-anak ridho 
jika foto masa kecil mereka
 diunggah di muka umum? 

Sekarang saja jika kudapati foto zaman aku bayi dan yang dipajang orang tua di rumah, itu membuatku tak nyaman. Maka sebisa mungkin foto-foto diri terutama saat kecil atau tanpa hijab, kuturunkan dari pajangan. 

Mungkin tak mudah ya dimengerti orang lain, tapi kami hanya berusaha menjalani hidup ini dengan cara yang nyaman, menurut kacamata kami. 

Bahkan kini alhamdulillah, anak sulung kami meminta izin dulu apakah fotonya boleh diunggah di status, lalu anak bungsu dengan tegas menolak jika divideoin tanpa berhijab atau kadang hanya tampak tangan seperti Bunda. 😄 MasyaAllah, anak-anak kamii 🤗

Data pribadi berupa percakapan


Nah, jika berupa perbincangan tentu sebenarnya sudah saling memahami yaa jika pesan pribadi itu ya berarti jangan disebar luaskan ke orang lain, walau hanya ke satu orang jika tanpa meminta izin pada lawan bicara kita dalam pesan.

Mudahnya begini deh, jika kita ngobrol asik lalu ada rahasia-rahasiaan, atau ga sengaja terpeleset ngetik yang sebenarnya bukan konsumsi umum  apalagi akun infotainment, hihi, nah kemudian menjadi viral yang menyertakan nama kita, bagaimana perasaanmu, Ferguso? 

Sedang untuk percakapan dalam grup, kaidah dan etikanya kembali ke kesepakatan bersama dalam komunitas tersebut. Tentunya jika percakapan pribadi saja kita harus hati-hati, apatah lagi saat kita berada dalam grup. Ada banyak nama yang bisa tersangkut.

Pasal 26 ayat 1 pada UU ITE menyebutkan, "Kecuali ditentukan lain oleh Peraturan Perundang-undangan, penggunaan, setiap informasi melalui media elektronik yang menyangkut data pribadi seseorang harus dilakukan atas persetujuan orang yang bersangkutan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar