Rabu, 24 November 2021

Cerita Kuncup-Kuncup Hati (Fitrah Seksualitas pada Anak)

 

"Wah tahu-tahu anakku sudah gede saja." Lha, trus memang emaknya ke mana aja 🙈 Kalau kata orang Jawa, tahu-tahu itu sama dengan ujug-ujug yang berarti proses instan.


Tidak Pernah Ada Ujug-Ujug

Hihi, kalau saya dan Ayahnya Ziezam sebisa mungkin tidak berkata demikian sih, karena alhamdulillah dan insyaAllah kami yang mendampingi mereka. Menyaksikan proses tumbuh dan berkembang anak-anak yang dititipkan ke kami. 

Dan semua yang kita alami dan jalani semuanya melewati proses dan tentu saja izin-Nya. Bahkan mie instan saja butuh proses ya untuk bisa dinikmati.


Memilih Partner

Alhamdulillah partner pertama dan utama menjalani peran orang tua ini adalah bersama kangmas suami ya. Namun dalam cerita kali ini mau mengajak anak gadis cilik yang bernama Zie, lima tahun untuk menemani bundanya belajar menyelami peran sebagai bunda. 

Alhamdulillah identifikasi pertama sudah terlalui, yaitu ketika Zie sudah memahami terlahir sebagai laki-laki atau perempuan di usia kurang dari tiga tahun. Dari sejak bayi khususnya dari didikan keluarga besar kami, anak-anak memang wajib diarahkan yang benar dan terang mereka sebagai laki-laki atau perempuan. 

Jadi sejak lahir untuk Zie sudah dikenalkan dengan kerudung yang tentu saja nyaman dipakai. Waktu itu sengaja saya memilih kerudung berbahan tile yang adem dan seperti ada pori-pori besar. Memilihkan warna-warna pink dan pastel serta ada pom-pom di kedua telinga. MasyaAllah lucuuu kalau ingat, karena sekarang di usianya yang berada di sekolah usia dini, dari sejak usia 4 tahun kurang lebih, Zie sudah tidak mau lagi memakai kerudung pom-pom. 


Zie berkata, "mau pakai kerudung panjang kayak Bunda." 

MasyaAllah tabarokallah, Nak.

Selama ini kalau tantangan alhamdulillah masih terkondisikan. Hal yang saat ini disenangi Zie ialah bermain bersama masnya. Ke mana mas main, pengen ikut, apa yang mas main, pengen ikut juga. Bahkan kini tidur pun minta diceritain masnya. 

Saya dan suami memahami perbedaan usia di antara kedua anak kami yang terpaut enam tahun yang mungkin menyebabkan sang adek manja ke kakak laki-lakinya. Namun di usia anak pertama kami yang berusia sebelas tahun, menjadi wajib bagi kami untuk harus lebih memerhatikan anak-anak. 


Merencanakan Perjalanan Kisah

Dengan tantangan di atas akan berusaha untuk menjadi pagar dan pengiring mereka. Menjaga kedekatan mereka sebagai saudara. InsyaAllah dalam waktu dua belas hari akan mencoba menguraikan rencana tersebut menjadi aksi. 

Alhamdulillah untuk hal ini suami setuju dan siap menjadi tim sukses ketika saya mengarungi zona 6 di Bunda Sayang batch 7 Ibu Profesional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar