Sabtu, 01 Januari 2022

Jalan Kebaikan Tak Pernah Sunyi

 Review Film Di Bawah Lindungan Kabah


Baru sekarang sempat melihat filmnya 🙈. Namun judul ini mengingatkan pada novel di perpustakaan SMA dengan judul yang sama karya pujangga baru: Buya Hamka. 

Secara visualisasi, saya suka film ini. Kondisi latar tempat di tanah Minang, kondisi waktu tahun 1922 yang masih jadul sekali dan juga tatanan tempat khususnya bangunan rumah gadang serta surau kampung yang khas dengan sungai dan kincir air besar dari bambu sepertinya. Ikonik!

Berada di setting waktu sebelum kemerdekaan mengingatkan saya pada negara Belanda yang semestinya di tahun tersebut ikut menjadi inspirasi bagi rakyat kita dalam pembangunan, salah satunya untuk membuat kincir air. Tapi entah saya belum paham tentang kincir air ini. 

Ketika menyimak kisahnya, terasa sekali kemurungan dan kesedihan sang tokoh utama yaitu Hamid. Seorang anak yatim namun cerdas dan salih serta disekolahkan oleh Haji Jafar, bapaknya Zainab. 

Kedekatan keluarga mereka menjadikan hati Hamid dan Zainab pun tertaut. Ada adegan yang unik dan juga diangkat menjadi poster dan cover film ini, yaitu ketika Hamid dan Zainab bermain dan saling sapa di balik pagar kayu. Ah, romantis yang smooth sekali di zaman dahulu yang dibumbui nilai agama karena tanpa sentuhan. 

Saya sendiri mencoba merasakan bagaimana bisa saling mengetahui keberadaan tangan di sebelah pagar kayu dan mengikuti arah tangan lawan. Tapi rasanya masih susah kecuali pagar kayunya tipis, hihi. 

Namun yang pasti getaran hati dan kedekatan mereka yang ditunjukkan dari awal hingga akhir film ini antara Zainab dan Hamid.

Saya suka dialog ini:

Zainab: "Hamid, kamu akan pergi ke dunia yang lebih luas, sedang aku akan memasuki dunia yang lebih kecil."

Hal ini dikarenakan Hamid akan melanjutkan sekolahnya ke Thawalib (perguruan tinggi ya mestinya, tapi saya kurang paham sih). 

Hamid: "Zainab, hiasilah duniamu yang kecil itu agar kamu merasa nyaman."

Heuheu padahal nyamannya Zainab itu kan bersamamu, Hamid. 

Berikutnya adalah adegan-adegan yang mengantarkan pemirsa untuk merasakan alur yang dialami Hamid dan Zainab. InsyaAllah lanjut yaaa ....

Tidak ada komentar: