Oleh-oleh dari 40th karya Pipiet Senja di TIM Jakarta

  "Bertahan dengan karya. Menulis sebagai terapi"   

Entah karena batas ambang toleransi terhadap sakit yang sudah di atas rata-rata manusia atau karena sang makhluk bernama sakit itu sendiri yang sudah bingung cara mencederai jiwa yang terus melangkah meski perih meraja ?    

Perjalanan lintas propinsi kali ini (halah padahal antara Jakarta-Depok aja hihi) seru ! Ada ilmu, pengalaman, refreshing, dan selalu kehebohan anak-anak dan untungnya tidak membuat emaknya rempong.  

Sabtu kemarin ada acara syukuran milad bunda Pipiet Senja yang bersamaan dengan 40tahun karya beliau di Gedung Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Taman Ismail Marzuki Jakarta. Sebuah kehormatan tersendiri saat saya dapat bbm langsung dari beliau (bukan broadcast).      

Paginya kepala agak pusing, sempat ragu saat suami nanya jadi berangkat atau tidak. Dan, akhirnya  bbm bunda Pipiet sehari sebelum hari H  yang membangkitkan saya, "empat hari ini saya wira-wiri RSCM terus, ambil darah, transfusi, ini itu......". Huwaah ! Saya langsung bergegas, masak pusing aja jadi kendor semangatnya untuk melangkah. Manini saja tak mudah menyerah.   




Naik kereta api tut tut tuuut...eh, bukan kereta api ding kereta rel listrik tepatnya dari rumah di Depok menuju TIM. Sampai di TIM sempat foto-foto sebentar (hihi biasa emak-emak narsis). Dan meski ada papan penunjuk arah di mana gedung PDS HB Jassin, tapi ternyata susah juga menemukannya. Padahal ini kali ketiga saya ke TIM hiks.  

Akhirnya setelah tanya satpam, kami menemukan gedung tersebut. Ternyata berada di belakang gedung Planetarium yang langsung jadi fokus saat kita masuk TIM. Sayang gedung berwarna biru itu pintu masuknya berada di samping dan harus ke belakang, sayangnya lagi tak ada spanduk acara bunda. Makanya susah nyari-nyari. Apalagi saat itu bersamaan dengan penuhnya mobil-mobil pengunjung TIM dan ada lomba balet juga karena banyak anak-anak gadis kecil pake baju ala balerina.   Begitu menemukan papan nama gedung menyempatkan diri foto sebentar. Tapi gedung teater besar di sebelah PDS lebih menarik hehe.

Puas foto langsung naik ke atas diikuti dua bodyguard cakep. Saat ngisi buku tamu tiba-tiba dengar bunda Pipiet berseru, " Nah, itu Viana...dia penulis dari Depok".   MasyaAllah terharuuu....saya merasa belum pantas disebut penulis. Langsung deh menghambur ke beliau yang saat itu sedang ngobrol-ngobrol dengan tamu beliau. Cipika-cipiki dan foto deh hihi.   Suasana masih relatif sepi peserta acara, jadi ketika kami datang kami diajak ketemu dengan Butet, anak beliau yang sudah menambah cucu bunda Pipiet. Chuby anaknya Butet, cantiikk dan gendut...putih pisan. Heuheu jadi ngayal mbayangin adeknya Azzam :D  

Acara belum dimulai dan kami pun akhirnya turun dari ruangan untuk ishoma di luar. Azzam malah berlari-lari dan minta difoto dengan berbagai gaya (mirip emaknya waktu masih balita hihi).  
Akhirnya kami kembali lagi. Tapi tiba di lokasi, dua bodyguard malah ingin di luar dulu. Ya sudah akhirnya sang emak melangkah sendiri menuju ruang acara (tidak janjian dengan BaW'ers juga siy ya, tapi mbak Eni martini sudah posting info di sini juga kayaknya).  Sayang pesertanya tidak (eh belum) memenuhi kuota kursi yang disediakan. Manini pun tidak duduk di kursi depan di bawah banner menghadap peserta.  

Saat saya datang, sedang berlangsung penuturan testimoni para tokoh, ada istri direktur Dzikrul Hakim, bu Linda Djalil dan bang Iyus, dll.   Nah, ini dia testimoni yang menurut saya menarik :  
"Saya banyak belajar dari mbak Pipiet. Padahal saya lebih dulu berkarya dibanding beliau. Tapi ternyata karyanya banyakan beliau. Saya pun juga sakit, namun ketika ingat mbak Pipiet yang ke mana-mana harus naik angkot, dengan waktu tertentu harus transfusi, membuat saya bangkit. Saya punya mobil ada sopir masak kalah sama beliau? Tuhan bisa marah sama saya jika saya tidak tahu diri (untuk terus berkarya). Saya bisa menulis dalam waktu 3-7menit, hasilnya? Itu urusan belakang, yang penting terus menulis. Dan saya sembuh karena menulis!" (Linda Djalil)  

"Andaikata teh Pipiet menjalani takdirNya dengan kembali padaNya, saya tak akan menangis. Sebab banyak karya n sumbangsih manfaat beliau untuk umat. Ada banyak jejak yang bisa kita ambil untuk terus lekat dengan beliau." (Bang Iyusnya majalah Annida)  

Saat ini bunda Pipiet sedang menggarap proses pemfilman novel beliau "Cinta dalam sujudku" dan satu lagi ada peserta yang tertarik mengenalkan beliau dengan produser untuk novel true story 

"Tuhan, jangan tinggalkan aku."

Hmm....saat berada di sana, saya merasa Allah masih melimpahkan karunia untuk saya. Masak nulis saja tidak mau berjuang. Alhamdulillah tidak harus kenal menulis di mesin ketik kayak masa-masa awal bunda dengan mesin ketik jadulnya. Dan tidak harus (dan semoga tidak akan) keluar masuk rumah sakit. Bunda canggih banget, saat di ruangan dengan tangan terinfus bunda tetap nulis megang laptop !    

Beliau juga welcome dengan siapa saja yang ingin dekat dengannya. Saat kita dekat dengan beliau kita harus bersyukur meski kadang itu membuat saya maluuuu, "Nak, sudah sampai halaman berapa bukunya?"  

*nyengir nutup muka pake buku. Laptop mana laptop....?  
Depok, 20 Mei 2013

Tidak ada komentar