Featured Slider

Mengabadikan Kenangan, Cetak Foto atau Unggah ke Media Sosial?




Kenangan memang tak akan pernah kita lalui kembali dalam situasi yang sama, tapi kita selalu bisa kembali ke dalam kenangan bersama sebuah harapan.

Berjayanya Cetak Foto

Pernah menonton episode Spongebob (ah, ini emak-emak kadang suka ikut nyimak tontonan anak-anak, hihi), yang bercerita tentang rumah nanasnya yang menjadi penuh dengan benda-benda yang dianggapnya memiliki kenangan masing-masing? Mulai dari foto masa kecil, kaos kaki bayi, sepatu pertama jaman sekolah TK, pensil penuh kenangan, hingga semua benda yang ia ceritakan dengan kisahnya masing-masing.

Hingga habislah semua tempat penyimpanan di rumahnya, bahkan ia pun susah masuk rumah karena bertumpuknya benda-benda yang terlihat sebagai sampah oleh sang tetangga, Squidword 😅. Dari sinilah akhirnya Spongebob pun mengubah "koleksi kenangan"nya yang lama-lama tak ubahnya seperti tumpukan sampah menjadi tumpukan koleksi foto. Setiap benda ia abadikan dengan kamera. Banyak foto yang sudah ia cetak.

Namun, ternyata sama saja, haha
Koleksi fotonya pun tetap membanjiri rumahnya hingga diprotes tetangganya lagi.

Stay at Home, Stay Happy






Saya sempat membaca sebuah pertanyaan di linimasa, berapa lama orang Indonesia betah #dirumahaja?

Dan seakan menjawab, dengung "kebebasan" itu akan tiba seiring dengan akan diberlakukannya keputusan awal yang baru*.

Kalau bagi saya, jika ditanya berapa lama, maka saya akan menjawab sebenarnya seberapa lama atau selamanya pun mereka bisa tetap tinggal #dirumahaja asalkan S&K mereka dapatkan. Kebutuhan makannya terpenuhi, jaminan kesehatan ditanggung, pekerjaan bisa dialihkan atau bisa beralih ke sistem daring, maka bisa saja mereka lama berada di rumah.

Namun nyatanya, tanpa menutup mata, pergerakan masyarakat sudah kian masif. Jalan sudah mulai ramai, tempat-tempat umum kian penuh, fasilitas publik kian terbuka, dan yang baru saja kita lihat bersama tentang arus pemudik.

Kondisi awal yang baru ini bukanlah era kebebasan. Bukanlah sebuah keterlepasan dari intaian virus covid (yang jadi penyebab utama) dan virus-bakteri lainnya. Masalah utamanya belum selesai.


Bersambung...


Nuansa Lain Iedul Fitri



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ


Belum move on dari Ramadhan
Tapi Allah pergilirkan Syawal menemani kita

Belum surut rindu berlabuh di kampung halaman
Cukuplah merpati virtual yang jadi pengelana rasa

Teriring segenap asa dalam doa,


تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تَقَبَّلْ ياَ كَرِيْمُ
 وَجَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الْعَاءِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ
 كُلُّ عاَمٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ


Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah Ramadhan kita
Mengampuni dosa-dosa kita dan semua orang yang kita cintai
Memperkenankan kita bersua dengan Ramadhan tahun depan
Mengijinkan kita kembali mengagungkan asma-Nya di masjid-masjid tanpa intaian wabah
Dan semoga kita semua diberikan kekuatan menjadi umat terbaik yang dicintai-Nya dan Rasul-Nya.


Selamat Ied Fitri
Mohon maaf lahir dan batin


Salam takzim,
⚘Viana-Ichin-Azzam-Zizie⚘

━━━━━━━━🍃🌹🍃━━━━━━━━━

Puisi Rindu untuk Bapak




Sugeng, bapak
Bagaimana kabarnya?

Aku yakin Allah akan menjagamu
dengan cinta-Nya di sana

Namun aku tak yakin dengan hatiku di sini
yang selalu tak pernah usai
dan tak akan pernah selesai
untuk merindumu di sisi

Lelah Pejuang Peradaban





Perempuan kesayangan nan mulia itu, membiarkan telapak tangannya yang lembut tergurat-gurat oleh penggilingan gandum. Telapak kakinya mengiringi segala kegiatan kerumah tanggaan yang ia lakukan sendiri tanpa asisten.

Memilih hidup bersama laki-laki yang ia tahu tak berlimpah harta, sama sekali tak jadi masalah baginya. Ketika pengantin baru dengan peraduan yang terbuat dari kulit biri-biri, berbantalkan sabut tamar, dan keseharian dengan perut yang tak pernah kenyang, tetap membuatnya cinta pada sang suami. Bahkan mahar dari suaminya, ia hadiahkan kembali pada lelaki kesayangannya itu.

Namun, tetaplah ia memiliki hati sebagai perempuan biasa. Hingga suatu ketika, akumulasi keletihan pada tubuhnya mengantarkan langkah kakinya menuju sang ayah!

Apa yang terjadi?

Episode "Pada Suatu Hari" Bapak



Mungkin kita tak sadar, ulang-ulangan yang kita alami akan menjadi kenangan yang amat dirindukan di saat kita telah menyadari masa tak akan terulang (Viana Wahyu)

Pada suatu hari,
Aku pernah melontarkan sedikit protes pada bapak, yang mengawali setiap kisah harian yang beliau ceritakan pada kami. "Bapak, masak pada suatu hari terus sih?"

Dan bapak hanya tersenyum. Sesekali berganti kata, sesekali tetap sama. Dan aku tak pernah memprotesnya lagi.

Karena sudah cukup seru mendengar cerita beliau padaku dan adek perempuanku. Meski itu pun cerita yang pernah diceritakan beliau. Cerita tersering ialah tentang Kancil, anak yang nakal.

Momen bercerita itu adalah momen kami semua berkumpul di satu tempat yang sama. Ketika bapak bercerita pada dua anak gadisnya, sedang ibu menyiapkan pisang goreng atau camilan apa pun yang membuat keseruan itu semakin hangat.

Satu Niat dan Seribu Alasan



 Foto by  Viana



Satu Niat Memiliki Seribu Alasan untuk Bersegera Melakukannya atau Terus Menundanya (Viana Wahyu)

Broken the Limit!

Sebab nyatanya faktor X yang membuat kita susah berjalan, susah fokus, susah menggapai mimpi itu disebabkan oleh diri kita sendiri. Sehebat apapun sekolah atau kelas-kelas pengembangam diri yang kita ikuti, motornya adalah diri kita sendiri. Bila pun ada bengkel, maka montirnya adalah kita sendiri.

Apalagi emak-emak.. Ketika anak masih bayi, emak beralasan bayi sering menangis dan minta dibuai. Ketika anak beranjak sekolah, emak sibuk jadi madrasah bergelut pikiran dan hati saat banyak PR dan ujian sekolah. Ketika kerja, emak limit waktu untuk keluarga dan tak bisa membelai kata-kata.

Ah, ribuan alasan bisa terukir.
Indah teruntai
Tapi
Sejatinya kita kalah.