Lembar-lembar Kesempatan dan Sayap Peran yang Terpintal

 

catatan pupa buncek 4


Membutuhkan atau dibutuhkan? Rasanya kalimat pertanyaan itu yang harus selalu ditanamkan emak kepompong dalam-dalam di sanubari yang berkorelasi dengan puasa pekan kedua ini. Kebutuhan sebagai hal yang aktif atau pasif? 

Namun, peran itu sejalan dengan kesempatan bukan? Buat emak kepompong yang berujung pada "kebanyakan" menerima dan mengambil peran adalah ya karena anggapan bahwa yang datang adalah sebuah kesempatan. Sampai-sampai juga bilang ke anak-anak sebuah rumus begini,

Jika ada kesempatan + keinginan walau setitik= ambil kesempatan itu dan berusaha maksimal mewujudkannya

Tapiii jika ada kesempatan + tidak ada keinginan= buang jauh-jauh, semoga nanti akan datang kesempatan yang sama dengan keinginan yang beda jika itu memang rezeki


Dan hal tersebut termasuk ke dalam hal antirugi engga sih? Hihi, sifat emak-emak bangeeet kalau ini apalagi kalau misalnya kesempatan berperan itu gratis, hmmm pasti bisa menebak jawaban emak kepompong ya. Hanya saja selama puasa ini jadi berbeda-beda lo jawaban yang dihasilkan, tiba-tiba mendapatkan rencana untuk nanti bakalan puasa dari "banyak berkata iya". 💥


Pekan ini puasa emak kepompong masih sama dengan pekan kemarin, bukan karena pekan kemarin kurang nyaman pencapaiannya sih, semata karena kalau ditanamkan "puasa" dalam diri tuh jadi bisa lebih ngerem. Puasa dari menjauhi kebanyakan mengambil dan menerima peran ini nyaman dilakukan dan mendukung banget dari ritme yang sedang emak jalankan antara dunia nyata dan maya.

Sama seperti di atas bahwa emak kepompong selama ini menganggap bahwa peran yang hadir itu sama dengan kesempatan, sama dengan rezeki. Hal yang juga tertuang di cipus alias cerita puasa pekan 1 bahwa jika memang tak bisa direngkuh yaaa itu berarti bukan rezeki yang harus dikayuh. (By Me, Viana)

Baca juga Cipus alias Cerita Puasa Pupa 1


Hal yang sudah berhasil jauh lebih baik di pekan ini adalah di pekan ini grafiknya bukan ke atas (tapi ke samping, ehh) malah bikin roller coaster yaaa, biar tidak flat tanpa bayangan hiks. Meskipun tidak sampai dalam tahap need improvement tetapi merasa lebih bisa puasa di pekan pertama kemarin. Mungkin hal ini disebabkan juga karena kondisi fisik yang sedang menurun ya, jadi grafik puasanya ikut menurun juga.

Kadar produktivitas untuk mengerjakan peran jadi ikutan tidak naik-naik ke puncak gunung, tetapi turun ke lembah nih, Yaaa anggap saja ini sama dengan petualangan yang sempat dihadirkan ayah bersama elang untuk kami ketika keluar kota. Masyaallah dataran tinggi saja tidak semuanya berupa tanjakan lho dalam perjalanan menuju puncak. Bahkan turunan pun tidak selalu merupakan jalan yang melandai ke bawah seperti perosotan tetapi juga diiringi dengan adanya tanjakan.

Yang penting remnya berfungsi dengan maksimal. Mau jalan tanjakan atau turunan insyaallah bisa dilalui dengan baik. Nah, remnya itu adalah puasa emak kepomping inii. Puasa saja emak kepompong jadi lebih nge-slow dan low energy gini apalagi tidak puasa. Alhamdulillah puasanya justru memberi energi yaa.


Lulus puasa?

(Bukan) Kunci keberhasilan pekan ini

Kalau emak kepompong menyebutnya belum berhasil sih yaaa, eh berhasil aja deh karena alhamdulillah ini buat emak kepompong masih terbilang lulus sih meskipun tidak cumlaude. Hanya saja kalau dibandingkan dengan pekan satu memang agak jauh ya karena raga sedang tidak bisa bergerak bahkan terbang dalam selubung.

Karena kondisi badan sedang tidak fit, maka manajemen waktu dan juga multitasking yang menjadi 2 dari 3 bagian kunci pencapaian pekan 1 kemarin, tidak bisa maksimal dilaksanakan. Biasanya bisa muteerr kayak baling-baling bambu tetapi karena sakit mah ya alhamdulillah belajar menikmati saja kondisi badan yang tidak biasanya ini.

Namun, ada satu dari tiga hal yang masih tetap bisa dilakukan yaitu menonaktifkan notifikasi perpesanan, ini penting sih buat emak kepompong agar masih bisa berusaha untuk fokus meskipun pikiran sebenarnya ya ingin istirahat dulu. Tanpa adanya notifikasi itu sangat membantu agar tidak kedistraksi ketika bekerja dengan ponsel atau laptop. 

Serta selain itu adalah alhamdulillah dukungan dari keluarga, bapak kepompong alhamdulillah meskipun di tengah kesibukan waktu beliau di kantor dan dengan pekerjaan yang sampai dilanjutin di rumah. Anak-anak pun alhamdulillah dimudahin juga untuk belajarnya di saat emaknya tidak bisa maksimal (baca: talk active) seperti biasanya.

Bismillah insyaallah sembuuh yaa. Aamiin.

Selanjutnya apa?

Menimbang dari capaian pekan ini dengan kondisi yang ternyata jika dalam kondisi yang tidak fit maka akan berpengaruh juga ke tasking-tasking kita, maka seperti juga rencana di depan bahwa emak kepompong sepertinya bakal berusaha untuk puasa dari banyak berkata iya untuk peran atau mungkin puasa dari sampah-sampah perangkat elektronik.

Nah kalau puasa dari sampah media ini pun juga masih berhubungan dengan cemong alias cerita kepompong sebab pemilihan passion fotografi itu juga berkaitan erat dengan penyimpanan media. Di sini emak kepompong juga termasuk tipe yang penyayang banget dengan kenangan. Kalau ingat serial Spongebob dulu yang menceritakan tentang si spon kuning pengoleksi foto-foto sampai foto yang dia cetak memenuhi rumahnya hingga ke halaman para tetangga? Kurang lebih seperti itulah sebuah kenangan itu tak mudah terlupa.

Boeh dibaca juga: Penyimpan Kenangan atau Penghilang Kenangan?

Buat emak kepompong, kenangan itu senada dengan jejak-jejak yang menghampiri kita. Yaaa masih sama ya dengan analogi peran itu adalah kesempatan yang mendatangi kita. Emak kepompong sendiri juga tidak tahu kenapa dulu pada akhirnya tiba-tiba ingin membuat akun Instagram penaviana dan berniat menjadikannya sebagai diary foto digital. Padahal saat itu masih belum punya kamera digital, hanya sebuah ponsel aja.

Ternyata keinginan untuk menyelami dunia fotografi pun disambut baik oleh suami emak kepompong dan juga eyangnya anak-anak, dari ibu pula akhirnya emak kepompong mendapati cerita bahwa kamera adalah hadiah pertama yang diberikan oleh bapak dan ibu untuk emak kepompong. Hiks, terharu engga sih? Engga nyangka bakal nyambung gitu, berasa bahwa jalan-jalan yang terhampar untuk kita itu tak diciptakan tanpa tujuan, sebab dengan kedalaman pikir dan juga kejernihan hati maka insyaallah kita akan mendapatkan benang-benang merah yang berhubungan meskipun terpisah-pisah dan tidak bisa ditebak seperti labirin.

Bahkan keinginan emak kepompong untuk belajar menggambar pun juga ternyata ada lho korelasinya dengan dunia menulis dan juga fotografi nih, yaitu hasil dari menggambar digital atau belajar ilustrasi ini ternyata bisa banget dan akan sangat mendukung dengan pilihan emak kepompong untuk menjadi penulis cerita anak. Ya, kaan meski rasanya tuh kok kayaknya ngapaiiin ya dari seorang emak, penulis, fotografer eeehh kok melangkah juga belajar ilustrasi. 

Ternyata semuanya insyaallah adalah pesan untuk jalan kehidupan kita. Ehhh iyaaa, emak kepompong ini juga yaaa pernah menjadi bidan lho. Meskipun kini belum lagi bisa kembali ke dunia pelayanan medis tetapi semoga suatu saat bisa kembali belajar di dunia medis dan ketiga hal yang selama ini ditekuni akan bisa menjadi penegak dan penguat dari eksistensi diri sebagai .... emak kepompong! 

Oya, stempel pekan ini sebagai berikut







Posting Komentar untuk "Lembar-lembar Kesempatan dan Sayap Peran yang Terpintal"