Sayap-Sayap Peran (Cerita Puasa Pupa Pekan 1)

fase puasa pupa bunda cekatan 4



Haloooo, tahu engga sih kalau kepompong itu sedang puasa selama mereka berada di dalam selubungnya? Nah jadi judulnya niih si ulat yang kemarin banyaaak makan dedaunan di hutan kupu-kupu, sekarang memasuki fase diet tuh yang nanti akan menjadi sebuah perubahan besar bagi dirinya (kalau ini mah tahu ya di pelajaran biologi). 

Daaaan emak kepompong yang empunya blog ini juga sedang menjalani fase puasanya si kepompong, aduh jadi keinget anak-anak kalau mereka lihat kalender kepompong yang emak tempel di mading rumah, puas banget rasanya melihat analogi emaknya itu menjadi kepompong (apalagi kemariiin pas jadi ulat 😅). Periode kepompong di hutan buncek ini sendiri berlangsung samaaa lho dengan lama masa kepompong sebenarnya, yaitu selama 4 pekan (kalau aslinya kurang lebih deh yaaa). Pekan ini emak kepompong berpuasa yang berkaitan dengan peran. Atuhlah ke mana-manaaa ini di waktu-waktu belakangan ini, daaan ini ceritanyaaaa yang ramai rasanya.


Mengurangi diri dari


Pekan ini aku berpuasa untuk mengurangi peran atau agar tidak kelebihan muatan, Kakaaak. Merasa banget kalau selama ini tuh ke sana ke sini, ambil ini itu, dan akhirnyaaa begitulaaah, ambyaar ya. Paham bangeet sebenarnya kalau peran yang kebanyakan itu amat sangat tidak baguus dan pasti tidak fokus, tetapi ada alasan kenapa akhirnya banyak ngambil peran ini itu karena misalnya sekarang sedang di peran A dan B, kemudian tak lama ada momen langka untuk peran C, akhirnya diterima deeh. 

Sempat ngobrol santai sama seorang kakak yang bertanya "memangnya engga nyesel kalau misalnya nanti engga maksimal?"

Perasaan engga maksimal, bakal banyak kekurangan, dan lain-lainnya itu sempat adaaaa sih, karena engga bisa dipungkiri kaan usia kita juga terus bertambah tiap harinya, dan kapasitas alias kekuatan raga pun menurun tiap hari seiring umur yang bertambah (duuuh, sebenarnya emak kepompong engga mau bahas umur siiih, anggap saja masih adik kakak lah sama anak sulung yang sudah bujang niih ya). 

Mengerjakan beberapa peran sekaligus itu engga bakal bisa dilakukan di waktu yang sama. Ini peran yaa beda dengan pekerjaan, jadi yang emak kepompong lakukan selama puasa ini adalah mengurangi peran misalnyaa peran sebagai penanggung jawab di tempat A, lalu menjadi pelaksana di tempat B, harus berbagi di tempat C, dan lain-lain. Sulit sih ini tapiii satu hal yang emak kepompong rasa bahwa ragam peran itu sudah terlanjur diambil dan harus dilaksanakan, kecuali jika memang ada yang bisa didelegasikan atau berbagi pelaksanaannya dengan partner.

Meskipuuun ya akhirnya ada jugaa peran yang akhirnya dengan berat hati terpaksa say good bye. Semua memang kembali lagi ke prioritas dan kebutuhan apaa yang paling mendesak. Sedih juga sih saat ternyata yang diharapkan ternyata tidak bisa direngkuh, tapiii ya sudah yang bisa dijangkau saja. 

Saat ini lagi menanamkan kuat-kuat bahwa
Kalau ada yang tidak bisa diambil, berarti itu belum saatnya menjadi rezeki

Menempatkan diri di semua peran itu bisa jadi masih mungkiiin asal waktunya tidak bersamaan. Jika sudah berbenturan maka pasti hanya satu yang bisa dijalani, kecuali tasking atau pekerjaan yaa. Misalnya multitasking itu begini, emak kepompong sedang mengetik di laptop, sambil dengerin webinar di ipad, dan sambil mengecek email dengan ponsel, pluuuus sambil membiarkan mesin cuci berotasi dengan sendirinya, serta nunggu tukang ojol datang membawa pesanan. Nah semua masih bisa dilakukan jika merupakan kegiatan yang beragam. Begitu kata tautan di bawah ini.

Sedangkan akan berbeda jika itu adalah peran, misal peran sebagai istri, emaknya anak-anak, tukang anter anak-anak, kokinya keluarga, manajer keluarga, pengajar passion, pelayanan masyarakat, itu semua adalah peran, baruuu di dalam peran itu ada tasking-tasking.




Lulus?

Alhamdulillah di pekan puasa ini emak kepompong telah melakukan capaian yang tidak biasa dilakukan sebelumnya. Sebenarnya sudah pengeeen sih ngurang-ngurangi berat badan muatan peran tapi kayaknya masih adaaa aja apa-apa sehingga belum juga terealisasikan.

Oyaaa, mestinyaa jika ini puasa dan para kepompong wajib juga menepi dari grup-grup, kalau menurut emak kepompong niiih, bukankah sebaiknya juga segala jalan media sosial juga dibekukan? Misaal komentar di FBG itu dibekukan atauu mungkin para kepompong yang post di media sosial pribadinya juga bisa untuk menonaktifkan komentar engga sih? Jadi yaa benar-benar ada dirinya sendiri saja di dunia maya. Kecualiii ya jika memang ada grup-gurp sosmed selain buncek itu sendiri.


Kunci keberhasilan?

Ah, kalau emak kepompong mah merasa kalau belum 99% berhasil sih yaaa, pengeeen nerusin lagi nih puasanyaa, sebab masih banyak waktu yang masih harus dijalankan dengan peran-peran yang telah terpilih ini. Semoga nanti akan ada masanya terurai dan semakin rapiiih mana yang benar-benar peran mendesak. 

Menurut emak kepompong niih, karena memiliki banyak peran juga artinya berada di habitat-habitat bahkan ekosistem yang berbeda-beda dan bejibun niih hiks, maka perlu sekali kemarin itu untuk kembali mengatur dan melakukan tanpa bosan manajemen waktu, kapan kandang waktu harus online, kapan harus ke grup ini, grup itu. Selain itu juga untuk efisiensi dan efektivitas waktu maka emak kepompong membuat banyaaak alarm. Mabok alarm deeh serumah.

Mematikan notifikasi perpesanan dan juga sosmed, ini juga pentiiing sih buat emak kepompong, karena kalau tidak, membaca pintasan pun akna mendatangkan kepo dan akhirnya membuka juga aplikasinya.

Multitasking. Ini buat emak kepompong menjadi salah satu kunci bisa melaksanakan puasa juga di pekan pertama, karena beberapa pekerjaan bisa dilaksanakan dalam satu waktu. Jadi terasa lebih efisien dan tidak usah memerlukan waktu tambahan untuk melakukan yang lain. Sayangnya kan waktu memang sudah disetting 24 jam saja nih dalam sehari oleh Sang Pencipta, jadi yaa memang tidak bisa untuk perpanjangan waktu, yang bisa kita lakukan adalah mengatur waktu biar tidak dikejar-kejar oleh waktu (kebaliik kan?).



Dan yang masih jadi PR adalah menjaga imunitas dan stabilitas tubuh. Ngerasa banget kalau banyak peran maka akan memerlukan banyak waktu juga untuk menjalankannya. Entah apakah karena faktor usia yang nambah juga akhirnya bikin susah juga buat begadang. Dulu mah bisaaa tidur malam hanya dua jam dan paginya fresh saja saat antar anak-anak, tapiiiii semakin ke sini semakin ke sana hehe, semakin pusing rasanya kalau kurang tidur. Bawaannya kalau anak bungsu sudah minta temeni dan ceritain tidur, itu emaknya pengen bablas juga deeh, dan sedihnyaa itu yang sering terjadi. Hiks.

Ini stamp selama puasa pekan pertama





Selanjutnya apa?

Berkaca (dan dandan, eeeh) dari pekan kemarin, maka meskipuuun alhamdulillah pekan yang telah berlalui bisa berjalan sesuai harapan namun emak kepompong ingin lagi melakukan puasa tidak over peran lagi. Harapannya suatu saat peran-peran ini bisa terlaksana sesuai masanya dan atau terdelegasikan ke partner-partner untuk dilakukan hingga selesai. 

Memang tantangannya adalah bagaimana bisa memilih peran yang benar-benar dibutuhkan (jawab: semuaaaa hiksss), untuk seorang yang masih perfeksionis ini. Menurunkan standar kelaikan adalah salah satu hal yang bisa emak kepompong lakukan. Kembali lagi dengan quote ini,

Semuaaa adalah rezeki, jika memang tidak bisa direngkuh, maka berarti belum rezeki, saatnya menempuh jalan lain yang bisa dikayuh. (Viana Wahyu)

Semangaaat!!








Posting Komentar untuk "Sayap-Sayap Peran (Cerita Puasa Pupa Pekan 1)"