Sebuah Permulaan Jejak Biru Baru

 



Suasana hati emak kepompong itu kok ya kadang masih dengan melihat ke atas. Hei, langit, senangnya melihat warna birumu. Sesungguhnya warna adalah kesan yang ditimbulkan oleh cahaya yang berpendar di atmosfer kita. Dan ini emak kepompong masih sempat terbawa dan terngiang-ngiang dari beberapa bacaan akhir-akhir ini tentang kondisi bumi di masa depan.

Sampai kapankah langit akan tetap biru? Air akan tetap biru? 

Prediksi para ilmuwan berdasarkan kondisi bumi yang semakin menghangat ini (kalau siang tuh semakin panas ya apalagi jika tidak ada angin) bahwa semua keindahan yang masih bisa kita nikmati saat ini bisa jadi kelak hanya menjadi legenda atau tumpukan legenda sebab zaman di masa depan tak bisa diubah hanya dengan mengingat dan membaca legenda, juga sejarah. Ah, tetapi kalau sejarah mah sudah banya juga campur tangan manusia yang membuatnya. Sedangkan legenda menurut emak kepompong malah bisa lebih dipercaya di masa depan sebab dialami oleh sebagian besar umat manusia. Misalnya jika ada gerhana matahari, ada peristiwa alam apa pun yang terdokumentasikan. Hmm jadinya ini sih legenda plus dokumentasi fakta kali ya.

Inilah cerita emak kepompong dengan rasa yang semakin hangat saat ini, tetapi syukurlah udara terasa tidak begitu menyesakkan seperti sebelumnya, dan semoga tidak pernah lagi terjadi.


Di dalam ruang yang terbatas ini emak kepompomng bisa merasakan kondisi di luar, meskipun dalam kondisi terpejam dan juga tidak bergerak (heuu apakah benar kepompong tidak bergerak sama sekali?), hmmm berayun tertiup angin yang agak kencang masih memungkinkan bergerak deh kayaknya, tetapi itu tidak sengaja ya, kaau pergerakan yang disengaja kayaknya engga.

Ujung dari membaca lingkungan itu adalah kesedihan dan ragam pertanyaan apakah yang bisa kita lakukan dan ajakan apa yang bisa didengar oleh seorang emak kepompong ini. Mungkin dengan terus mendokumentasikan kondisi bumi tiap hari kelak akan menjadi salah satu dokumentasi bahwa bumi pernah seindah hari ini (yaaaa meskipun juga di sana-sini juga sudah banyak kerusakan oleh manusia).

Warisan apa yang akan dinikmati oleh generasi ratusan tahun bahkan jika mungkin ribuan tahun di depan?

Memberikan turunan sebuah "hutang" itu sangat tidak adil sekali untuk generasi masa depan. Mereka tentu sudah sulit dengan kondisi bumi yang -mungkin jika tanpa ada penanganan dari sekarang- sudah tidak seramah hari ini. Bahkan teringat tulisan seorang kawan yang pernah dekat, bahwa sebenarnya kita meminjam bumi ini dari anak cucu kita. Ingat, kita hanya meminjamnya, bukan mewarisinya yang hanya tinggal seenaknya menikmati dari generasi pendahulu kita.

Di dunia awal kehidupan bumi pun kehidupan ini tidak ramah karena penuh dengan perjuangan, yaaa sebenarnya sama saja sih zaman sekarang pun ada perjuangannya juga, tetapi sudah tidak lagi menaklukkan atau khawatir dikejar dinosaurus, tidak tenggelam di dalam hutan dengan pohon-pohon yang besar dan aneka satwa yang juga raksasa. Oya bahkan dulu ada zaman saat es mencair. Kondisi mencairnya es ini pun juga masih dan akan terus berlangsung hingga masa depan.

Hari ini aku semakin memahami bahwa waktu kita di bumi saat ini adalah hanya sesaat dan butuh segera untuk mendokumentasikannya dengan segenap potensi yang kita punya. Emak kepompong jadi pengen menulis science fiction anak nih, hihi. Semoga nanti kesampaian dengan ilistrasi dan mungkin foto sendiri.


Ini jejak emak kepompong hari ini. Belum merasa yang excellent karena masih banyak yang harus dilakukan untuk mewujudkan misi (juga mimpi) yang berawal hari ini. Semoga dengan pilihan satu purnama bisa memberikan sebuah jejak yang bermanfaat.







Posting Komentar untuk "Sebuah Permulaan Jejak Biru Baru"