Khitan dan Sebuah Kenangan



Ketakutan terbesar datang dari kecilnya keteguhan jiwa

Horornya Emak itu Kalau Anak..

Khitan...
Sunat...
Sirkumsisi...

Emak-emak yang punya anak laki-laki merasa deg-degan ga sih kalu dengar atau baca kata ini ? Apalagi kalau si anak bujang belum disunat ! Masya Allah.. langsung nyut-nyutan berasa ingin pingsan, hihi..

Kalau mau pingsan, mah, ini saya yang doeloe... Secara waktu itu masih kuliah di awal semester 1 pernah diajak kakak yang kuliah di kedokteran untuk membantu dia dan teman-temannya dalam baksos pelayanan khitan gratis.

The best of Seven

Anak pertama kami, Azzam, sebenarnya sudah dari sejak TK B mengutarakan keinginannya untuk disunat. Apalagi teman-temannya sebagian besar memang sudah sunat. Ditambah lagi ada tayangan sejuta anak yang ada episode disunat tanpa nangis.




Namun, menimbang beberapa hal dan adeknya mau lahir, maka saya dan suami sepakat untuk menundanya. Terlebih kalau dari keinginan saya yang nantinya ingin ada tasyakuran ketika khitan.

Untuk waktu pelaksanaan khitan ini ada beberapa pendapat ya, baik pendapat di dunia medis maupun dalam Islam.

Waktu untuk berkhitan memang masih diperselisihkan ulama, ada pendapat yang mengatakan hari kelahiran, hari ketujuh atau ketika berusia tujuh tahun. Adapun yang lebih tepat adalah boleh kapan saja asalkan tidak melebihi usia baligh.

"Sebagian memilih dilakukan khitan ketika hari lahir, ada juga pendapat ketika berusia tujuh hari dan jika ingin ditunda maka pada hari ke-40 dan jika masih ingin ditunda lagi maka saat berusia tujuh tahun yaitu umur diperintahkan agar melaksanakan shalat karena salah satu syarat shalat adalah thaharah (suci). Dan hal ini tidak sempurna kecuali dengan berkhitan.”[2] (Syekh Abdullah Al Jibrin rahimahullah)

Setelah menyiapkan segalanya, terutama tanya sana sini dan browsing ini itu sampailah kami pada pemilihan tempat pelaksanaan khitan untuk Azzam, kami memilih Rumah Sunatan dengan metoda klamp dan tanpa jarum suntik.

Maka bismillah.. di usia 7 tahun tepatnya tanggal 24 Desember 2017 ketika libur sekolah, mas Azzam akan dikhitan. Sebenarnya saya dan suami mengharap banget akung dan yangti bisa tindak ke Depok, tapi qadarullah akung sedang kurang sehat dan ikut mendampingi cucu tergantengnya beliau lewat telepon.

Hari H Sang Pangeran Bersarung

Bismillah..

Memperbanyak bekal terutama doa dan sholat hajat sebelum berangkat. Anak lanang sih senyum-senyum saja sejak dari rumah sampai di tempat khitan, sedang emaknya ? Alhamdulillah selow juga dan harus kuat ya... In sya Allah anak lanang kami hebat dan kuat.

Dokter dan tim di sana baik-baik dan lucu. Hihi iyaa dunk kalau tidak begitu anak-anak bisa langsung kabur sebelum disunat. Di awal kedatangan ada sesi foto dulu, si mas Azzam dipakaikan baju model ala pangeran gitu tapi tanpa kuda putihnya yang gagah, dan ada sesi foto bersama keluarga. Di ruang tunggu Rumah Sunatan yang sudah disulap dengan banyak balon pesta juga terpampang banyak sekali foto-foto tokoh maupun artis yang memakai jasa Rumah Sunatan.

Si adek Zizie mainan dengan ayahnya, dan bunda ngajak ngobrol si mas tentang hal-hal yang menyenangkan. Nantinya saya dan suami sudah berbagi tugas ketika di dalam ruang tindakan.

Taraaa...

Mas Azzam pun dipanggil ke ruangan tindakan yang berada di lantai 2. Alhamdulillah selama kami di RuNat ini tidak terdengar anak-anak yang menjerit ketika proses sunat maupun nangis-nangis setelahnya. Entah kalau di rumah ketika biusnya habis, hihi.

Asisten menyambut kami dengan ramah di ruang tindakan, ada kursi di sebelah bed, dan ada sofa besar dengan ruangan yang penuh poster khas anak-anak. Sebelum tindakan, ada sesi foto bersama dokter dan Azzam mendapat sertifikat sunat.

Senyum-senyum lagi dong si cah bagus ketika diberikan VR dan ada macam-macam pilihannya filmnya yang akan diputar selama tindakan.

Jreenggg.. jreengggg...

Akhirnya proses khitan pun dimulai. Si mas didampingi oleh ayah, dokter dan asistennya. Sedang bunda dan adek tetap berada di ruangan yang sama sambil tetep dong ngobrol sama adek, sambil videoin si mas buat kenang-kenangan, ikut nimpali juga obrolan ayah dan mas, juga yang tak kalah pentinggg nanya-nanya ke dokternya tentang proses dan post sirkumsisi (kata ayah, kalau dalam hal nanya-nanya dokter begini bunda paling cerewet deh 🙊)

Alhamdulillaah.. proses selesai..

Trus bagaimana si mas ?

Huplaaa.. si mas masih senyum-senyum saja ketika dia dipakaikan celana batok dan sarung. Ah pangeran bunda tetep cakep kok meski pakai sarung.

Tahu kan kenapa mak usai dikhitan anak-anak masih senyum-senyum aja ?

Hihi iyaa.. karena masih ada obat biusnya 😄 sampai rumah sekitar setengah jam baru terasa deh sensasinya.

Post Sirkumsisi

Inilah babak yang sebenarnya, mak. Yakin deh, in sya Allah pas proses sirkumsisi/khitan itu si anak akan senyum-senyum saja karena sudab dibius dan tidak sehoror yang dikhawatirkan. Sedikit rasa sakit dan ini sebaiknya disounding sejak awal ya, ialah ketika anak akan dibius. Lazimnya dengan jarum suntik, tapi di RuNat ini alat anestesinya berupa needle free injection. Jadi anak tidak akan ketemu sama sekali dengan jarum suntik, apalagi jika anak punya trauma.

Perawatan post khitan pada metoda klamp ini cukup mudah ya, mak. Dari RuNat nanti kita akan dibekali medical kit yang terdiri dari 2 spuit tanpa ujung jarum untuk menyemprotkan air ketika pembersihan, ada obatnya juga, kassa, antiseptic, celana batok, celana plastik, tas med kit dan sertifikat. (Ini saya lupa pernah foto atau tidak yaa untuk macam isian tas medical kitnya, bisa googling ya mak kalau ingin tahu).

Selama masa penyembuhan, anak boleh mandi ya, mak dan harus terus menjaga kebersihan.

Yang perlu dijaga juga ialah posisi anak agar jangan sampai tidur tengkurap. Untuk hal ini ayah memberikan guling-guling di samping mas agar posisi tidurnya hanya miring dan tidak sampai tengkurap.

Dan yang tak ketinggalan ialah asupan makanan ya, mak. Perbanyak kandungan protein seperti telur atau ikan gabus agar mempercepat pemulihan. Tapi sebaiknya diperhatikan juga apakah anak ada alergi atau tidak ya.

Terakhir.. ingatkan dan kuatkan anak setiap saat tentang labelnya kini, "alhamdulillah sudah jadi anak shalih, ya mas.. sudah gede.. sholatnya harus lebih giat lagi.. " dll. Bikin anak bahagia dengan hal yang ia sukai.

Dan ada satu pernyataan si mas, "berarti nanti mas bisa jadi imam sholat dunk, yah, bun ?"

Masya Allah.. in sya Allah nak.. minimal jadi imamnya adek ya, nak.. tapi in sya Allah kalau makin kece hafalannya dan bagus bacaannya suatu saat bisa jadi imam yaaa..

Aamiin..

"Mas senang ga disunat ?", tanya Ayah

"Senang dong yah, jadi dibolehin apa-apa saja kecuali main bola dan lari-larian"

ya iyalah, leee.. belum pulih gituu..

"Iya dong dibolehin apa saja asal mas senang dan cepat sembuh.. dan tidak minta sunat lagi..🙈"

Masya Allah...

Yang Tersisa dari Episode Khitan


Atas permintaan mas, kami tidak mengadakan tasyakuran khitan, mirip dengan kecilnya Ayah yang tidak mau dirame-ramein. Selain itu eyang-eyang baik di Madiun maupun di Sidoarjo dalam kondisi tidak bisa tindak ke Depok karena pertimbangan kesehatan.


"Azzam hebaat, umur 7 tahun sudah berani disunat.. akung bangga, lho.."


"Semoga makin jadi anak shalih, pinter, cerdas, ya mas.." sambung yangti.


Alhamdulillaah.. meski komunikasi kami hanya lewat telepon ataupun whatsapp.


Dan alhamdulillah lagi ada eyang-eyang guru Cangkring yang kebetulan sedang berada di Depok. Setidaknya kami bisa mengadakan syukuran kecil-kecilan untuk mas Azzam.


In sya Allah kami berencana akan mudik menemui akung dan yangti Madiun pada bulan Januari ketika ayah bisa cuti. Namun qadarullah.. Allah lebih sayaaaangg banget pada akungnya ZieZam dengan menjemput beliau 2 pekan lebih awal dari rencana kami mudik atau 2 pekan juga post Azzam khitan, sebelum sempat bertemu cucu paling ganteng yang sering dipanggil "nang" atau "cah bagus" atau juga "Raden Ronggo" 😭😭😭😭. Akung pergi setelah kami sempat komunikasi pada siang harinya dan malamnya beliau terasa sesak. Satu jam kemudian usai yangti menelpon, kami mendapat kabar duka 😭


Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu anhu

Dan masya Allah.. anak laki-laki kami ketika baru tahu akungnya wafat ketika baru di rumah Madiun tegar sekali.. mengantar akungnya hingga di peristirahatan terakhir tanpa menangis..

"Akung sudah ketemu Allah, ya, bun?"

Allahu Akbar...

Ternyata skenario Allah lebih dahsyat, ternyata cara Allah membuat kita jadi lebih kuat itu dengan cara yang kadang tidak kita duga sebelumnya.. Allah mengajar kita dengan cara-Nya.. dengan kadar-Nya.. dengan sayang-Nya..

-------⚘⚘⚘---------


Barokallahu fiikunna ya ayah bunda, bapak-bapak, emak-emak yang menyiapkan anak laki-laki untuk khitan.. in sya Allah semua akan baik-baik saja asal mengenali betul kondisi anak, tempat khitan dan post khitannya. In sya Allah tidak akan pingsan dan khawatir yaaa... 😊


Tulisan ini semoga bisa ikut menyemarakkan #oneweekonewriting #kelasmenulis Ibu Profesional Depok dengan tema pekan pertama yaitu "anak".. Labuhan terbaik dan guru terbaik kita..

3 komentar untuk "Khitan dan Sebuah Kenangan"

Shireishou 25 September 2019 pukul 13.31 Hapus Komentar
MasyaAllah tabarakallahu... Keren banget euy 7 thn malah minta sunat sejak TK. Mana ga ribet prosesnya dan dilakukan dg gembira.
Doakan si Yura 7thn lekas mau, yaaa.... Soalnya susah bgt bujuk dia sunat. Aduh. Ini yg calon lahir kayaknga begitu lahir lgsg sunat aja deh biar ga ribet
Viana Wahyu 26 September 2019 pukul 07.28 Hapus Komentar
Aamiin ya robbal alamiin.. in sya Allah kk Yura pinterr nanti pas khitan yaa.. hehe boleeh sekalian si adek pas masih bayi bun, semoga dimudahin yaa rencana2 terindahnyaa.. makasiiy dah berjejak ya mak Shirei 😍😍
meti suryati 10 Oktober 2019 pukul 13.55 Hapus Komentar
Aku baru sempat baca Mak dan aku terharu loh sama Azzam. Semoga sehat selalu ya Nang, dimudahkan urusannya sama Allah