Rabu, 27 Januari 2021

7 Tips Menulis Feature Anti Ngelantur dari Kang Ali Muakhir

Tips Menulis


Berbekal nekat sebenarnya memberanikan diri ikut kelas menulisnya Ruang Aksara feat Kang Ali Muakhir (Kang Alee). Apalagi menulis feature seperti disebutkan Kang Alee sebagai tulisan yang tak pernah basi. Seumur-umur meski sering mendengar istilah yang dekat pengucapannya dengan future ini, sepertinya saya belum pernah menuliskannya di masa lalu. Mungkin inilah saat tepat belajar nulis feature yang semoga tak akan pernah luntur di masa depan.

Hingga tibalah sesi belajar live di ruang virtual yang dipandu oleh Mba Dewi 'Dedew' Rika, penulis kondang yang saya tambah ngefans lewat buku Anak Kos Dodolnya, sayangnya versi komiknya belum saya dapatkan. Siapa tahu setelah nulis ini Mba Dedew baca dan tiba-tiba komiknya sudah mendarat di rumah saya, hihi ngarep.


Sosok Kang Alee sebenarnya lebih sering saya ketahui lewat buku-buku anak, namun ternyata saat perkenalan di zoom, beliau juga seorang editor video! Wah, bukan sekadar piawai dengan kata-kata ya, Ditambah beliau menyukai traveling juga, pasti banyak sekali hal yang terkait human interest yang bisa dipetik dan dibagikan lewat passion beliau.

Baca juga: Jalan-jalan ke 'istana buku' Perpusnas

Feature



Lantas apa sih feature itu?


Secara sederhana Kang Alee menyampaikan bahwa feature ialah kemasan menarik dari paduan berita dan opini. Sisi membumi dari sebuah berita yang lekat dengan fakta dibalut dengan sisi kelangitan yakni opini atau olahan kreativitas ide penulis.

Jadi kalau ala saya, feature itu gaya bercerita dari sebuah berita. Biasanya kan berita itu seringnya kaku, lugas, membongkar fakta, kadang juga ngeri kalau yang disampaikan sebuah kabar yang memang membuat nyali ciut. Maka dengan feature, kita seolah bisa bermain peran menjadi reporter (duh, dulu pernah punya cita-cita jadi wartawati) di stasiun penyiaran kita sendiri pula, yang bebas memodifikasi berita dengan bahasa kita sendiri, senyaman kita.

Sampai di penjelasan ini saya pun menganalogikan kalau menemukan resep makanan, ketika eksekusi di dapur seringkali akhirnya ditambahkan bumbu ini, ditambah racikan itu, sehingga hasil akhirnya ada sentuhan kreasi yang kadang karena keterbatasan kondisi menjadi tidak sesuai resep, namun bumbu dan bahan dasarnya tetap harus sama, ternyata malah menampilkan cita rasa baru yang lebih pas.

Saya bocorkan ya tips Kang Ale menjadi 'chef' dalam menulis feature, namun sekali lagi ala saya ya, seorang pembelajar pengikat kata yang belajar menyampaikan kembali hasil berguru pada beliau.


Satu, angkat sisi paling menarik. 


View


Kupas dalam-dalam sebuah berita/peristiwa/fakta yang ingin kita tulis hingga menemukan titik paling apik.

Oya, kadang feature itu juga berupa tulisan biografi, maka temukan titik paling istimewa dari tokoh yang bisa menggaet pembaca.

Jika berupa berita/peristiwa, menggali sisi paling fenomenal atau yang bisa jadi viral ketika hal tersebut ditulis, juga boleh.

Saya tertarik dengan tulisan feature Kang Alee yang mengupas Pulau Galang, Batam, ada sisi tersembunyi bahwa pulau tersebut menyimpan cerita dari para pengungsi Vietnam ke Indonesia. Apalagi ketika pandemi COVID-19 merebak di tanah air, Pulau Galang pun menjadi salah satu pulau untuk karantina WNI yang berasal dari luar negeri.

Menarik ya. Bisa langsung kepoin tulisan feature Kang Alee ini di sini 



Dua, bukan berita biasa. 


Bukan berita


Berbeda dengan penulisan berita ya, feature dituliskan dengan rangkaian kalimat yang menarik pembaca dan membuat mereka penasaran.

Kang Alee menjelaskan jika berita dituliskan dengan hal pokok berada di awal, maka untuk feature gagasan klimaksnya berada di tengah atau bahkan di akhir.

Misal membahas tentang keamanan transportasi publik saat pandemi, nah hal-hal pentingnya bisa ditempatkan di tengah tulisan atau di akhir dengan kesimpulan yang sederhana tapi mudah diingat.


Tiga, ceritakan dengan gaya bahasamu sendiri


Bahasa sendiri



Anggap saja sedang menulis di diary atau curhat ke sahabat, maka menulis feature pun akan nyaman sekali. Kenapa harus nyaman? Sebab feature adalah tulisan sepanjang masa, tak lekang oleh waktu yang berbilang dan tak hilang ditelan zaman.

Kang Alee bercerita tentang masa kecilnya ketika memelihara kelinci. Sudah 'mengklaim' dengan menulis "Kelinciku hilang" namun kelincinya ternyata tidak benar-benar hilang apalagi mengecil, sebab kelinci beliau yang tidak tampak dalam pandangan karena kelincinya melahirkan selusin anak kelinci.

Kisah yang sederhana ya, langsung teringat dengan background Kang Alee yang memang seorang penulis cerita anak. Ide yang bebas diambil darimana saja, namun upayakan cerita yang ditulis adalah tulisan yang abadi, tetap asik saja dibaca generasi 90-an atau millenial. 


Empat, pilih judul yang oke.


Judul feature


Seperti kalau kita jalan-jalan ke marketplace, kalimat awal yang menarik sering membuat kita mampir untuk melihatnya. Di sini Kang Alee memberikan beberapa judul yang bisa diintip di blognya yaa, 

- Wujudkan Smart Home dengan Bardi Smart Home di Rumah dan di Gedung
- 7 Jurus Sukses Lewat Internet Ala Madina Quran
- Jalan ke Mana Pun Saya Pilih Internet Unlimited. Mau Tahu Alasannya?


Lima, lead yang memikat.


Lead


Mengutip dari yang disampaikan Kang Alee tentang lead yaitu intro atau teras feature yang berisi hal terpenting untuk menarik perhatian pembaca pada suatu hal yang akan dijadikan sudut pandang tulisan.

Ada beberapa macam lead, yaitu
1. Lead ringkasan/ kesimpulan di awal
2. Lead bercerita ala penulis novel/fiksi yang bisa menggiring pembaca untuk tetap stay tune sampai kata terakhir
3. Lead deskriptif/ penggambaran, biasanya dipakai untuk feature human interest/ profil.

Jadi secara mudahnya lead itu diartikan sebagai sebuah teras atau halaman muka setelah judul, yang kalau saya tafsir bebaskan menjadi sebuah pengantar dari tulisan feature itu sendiri.

Ingin tahu lead yang kece bagaimana ala Kang Alee? Lanjutin bacanya yaaa di Blog Kang Alee


Enam, penutup yang manis.


Ending


Namanya juga ala saya ya, jadi harapannya tuh ketika sebuah feature telah tertulis dengan menawan, maka sajian 'dessert'nya pun usahakan juga menjadi hal yang tak mudah terlupakan, setelah hidangan utama tersajikan.

Memang perlu latihan sih ya, bagaimana menutup sebuah tulisan agar tetap nyambung dengan isinya, namun juga tak terkesan sebagai ending yang dipaksakan selesai.


Tujuh, terus menulis, menulis dan menulis!


Terus nulis


Dari semua hal tadi, yang menjadi inti dari belajar kepenulisan yaitu praktik nulisnya, dong! Duh, tulisan ini pun sebagai jalan belajar untuk menjadi tulisan feature. Mohon dimaafkan bila jauh panggang dari api ya.

Sesi belajar daring bersama Kang Alee yang dipandu Mba Dedew berlangsung seru tanpa menegangkan, apalagi Kang Alee yang tinggal di Sunda masyaAllah ramah pisan, semua pertanyaan tuntas beliau jawab.

Sungguh, saya yang di awal sempat merasa keder karena sudah lama sekali tidak belajar kejurnalistikan, ternyata menulis feature itu justru hal yang terlihat menyenangkan, sebab kita bisa berkreasi dalam penyampaian gagasan yang kita angkat dari sebuah berita. Jadi tulisan saya ini apakah sudah laik disebut feature? Semoga Kang Alee berkenan mereviu tulisan sederhana ini. Terima kasih Kang Alee dan Ruang Aksara Mba Dedew. 🌻


Kang Alee dan Mba Dedew











3 komentar:

  1. Terima kasih sangat, tulisan yang lengkap, memuat informasi acara sekaligus tips menulis. Leadnya bikin baper pembaca, soalnya pasti ingin baca sampai habis, hehehe.
    Goodluck

    BalasHapus
  2. Kereen.... Izin belajar dari tulisannya, ya Kak.

    BalasHapus
  3. Baca postingan ini, terasa aura mastah dari tulisannya. Tambah lagi panutanku dalam menulis. Salam kenal, kakaaa.

    BalasHapus