Perlukah Donor Asi Pasca Melahirkan?






Butuh donor asi, pliiis, fast respon dunk!


Beberapa kali grup pesan elektronik menampilkan pesan serupa. Apalagi di saat belakangan ini angka kenaikan penyintas covid ikut bertambah. Kira-kira kalau membaca pesan di atas merasakan hawa panik tidak dari sang penyampai/ penerus pesan? 


Wallahu alam bagaimana hal sebenarnya yang terjadi, sih. Namun sebagai orang yang pernah menjadi nakes dan edukator kesehatan ibu dan anak, saya ingin ikut membantu yang saya bisa lakukan untuk mereka. Meskipun asliiii banget, dengan atau tanpa donor asi, sebenarnya mereka sendiri pun bisa menjadi solusi atas masalah mereka saat itu. Mau tahu rahasianya? 😃 Pertama inhale-ekshale dan coba berpikiran positif dulu, yuk.


Bismillah

Setiap Ibu Hamil Dibekali dengan Kesiapan Menyusui


Ini aturan pertama dari Allah, yaaa. Ada ayat yang menyampaikan tentang kehamilan dan penyusuan. Lalu secara fisik dan sains dibuktikan pula dengan memang semakin tumbuh dan berkembangnya "pabrik ASI" selama hamil. Nah, karena yang memberikan keadaan istimewa tersebut Allah, maka Allah pun telah melengkapi dengan perlengkapannya. Kondisi yang khusus karena hamil ini hendaknya dan sebaiknya diikuti dengan perawatan. 


Jika sejak kehamilan disiapkan untuk menyusui insyaAllah saat melahirkan nanti akan siap untuk menyusui.


Jika di fasilitas kesehatan pertama dengan bertemu bu bidan, nanti akan diberikan pemahaman komprehensif tentang masa kehamilan dan masa persiapan menyusui. Akan diajarin juga bagaimana cara merawat aset terbaik bunda untuk bayi kelak, biasanya dengan alat peraga. Kalau sama bu bidan mah ga usah sungkan-sungkan ya.


Di dokter obstetri dan ginekologi (kebidanan dan kandungan) juga bisa disampaikan hal ini. Namun kalau di kota besar, biasanya dokter obgyn ini lebih sibuk maka terkadang perawatan kehamilan dan persiapan menyusui kurang atau tidak memungkinkan untuk disinggung. Apalagi jika dokter obgynnya laki-laki, hehe wajib izin dan mengikutkan pak suami/ mahram ya, Bun. 




Berikut tips yang bisa dilakukan saat kehamilan ala saya:

1. Pemilihan fasilitas kesehatan. 
Hal ini penting sekali ya, karena menentukan sekali bagaimana nantinya proses melahirkan yang termasuk di dalamnya terkait proses pemberian asi, apakah jika sectio diperbolehkan untuk IMD jika tidak ada penyulit, apakah faskes (terutama faskes swasta) ada kerja sama dengan pihak susu formula, apakah nanti setelah melahirkan bisa rawat gabung antara ibu dan bayi, termasuk perlu tahu bagaimana penanganan pihak faskes jika ada kendala dalam menyusui.

Di faskes pro-asi, para nakes akan membantu ibu-ibu yang terkendala seperti ini untuk bisa menyusui. Jadi kembali sesuaikan dengan visi-misi untuk melahirkan ya.

2. Jangan malu bertanya.
Siapkan catatan kalau perlu jika melakukan pemeriksaan kehamilan, tentang hal apa saja yang ingin diketahui berdasarkan kondisi yang dirasakan, sumber referensi yang dibaca, dan yang paling penting jika ada perkataan dan pernyataan yang sebenarnya hanyalah mitos yang tidak bermanfaat. Kalau sudah dicatat, jika itu berupa tulisan di buku, jangan sampai tertinggal di rumah ya. Lalu kalau ditulis di pengingat ponsel sekalian dikirim ke pak suami bakal lebih oke.

3. Ikuti anjuran dan saran terbaik dari tenaga kesehatan.
Di zaman sekarang ini media informasi semakin terbuka ya, jadi jika memang menemui hal yang dirasa meragukan bisa memperoleh second atau third opinion. 

4. Selfcare, Buuuk! 
Nah yang ini biasanya bikin bumil bakal lebih rajin mempersiapkan bekal, khususnya untuk persiapan menyusui. Perawatan kulit yang otomatis menimbulkan strechmark, perawatan jalan lahir, dan perawatan untuk persiapan menyusui serta perawatan pasca salin.

Persiapan menyusui ini sendiri memerlukan ilmu.  Ada hal-hal yang bisa dan tidak bisa dilakukan serta harus disesuaikan dengan usia kehamilannya untuk mencegah hal yang tidak diinginkan. Jika dilakukan sesuai anjuran, ASI bisa keluar memasuki masa-masa persalinan, bahkan saat trimester ketiga kehamilan. 

Persiapan di sini juga termasuk persiapan di sini selain fisik adalah berupa persiapan pengetahuan terhadap ASI dan menyusui iti sendiri. Misalnya, secara teori bayi insyaAllah masih bisa bertahan dalam 1-2 hari (ada juga yang menyebutkan sampai 3 hari) tanpa ASI, nah hikmahnya adalah ibu yang melahirkan jika ASI belum keluar maka ada kesempatan untuk membuat ASI keluar. Penasaran caranya? InsyaAllah di postingan lainnya, ya.

5. Pikiran positif dan doa. 
Hal yang tidak boleh ketinggalan banget, nih! Sebab setelah semua hal di atas dilakukan, namun masih ada pikiran negatif bahkan kekhawatiran yang berujung kecemasan maka akan memperburuk juga kondisi kehamilan, saat melahirkan maupun saat menyusui nantinya. 

6. Peran suami
Wahai para calon ayah, istrimu adalah tanggung jawabmu. Dampingilah ibu dari anakmu dengan ikut belajar mempersiapkan diri menjadi ayah asi. Dukungan ini akan sangat membantu sekali bagi para ibu baru (dan setiap ibu yang melahirkan) yang akan memicu lancarnya produksi asi. Zaman sekarang banyak lho para suami yang ikut kelas persiapan melahirkan, kelas yoga dan kelas selama kehamilan. Atau jika malu ada kok komunitas para ayah yang peduli asi.


Sebenarnya jika selama kehamilan diupayakan hal-hal mayor di atas, insyaAllah nantinya keluhan "asi tidak keluar" yang berujung pada perbedaan keputusan dan penanganan jauh dari harapan karena tidak memilih faskes yang sesuai visi dan misi bisa diantisipasi sejak dini. Sebab jika hal ini terjadi imbasnya bisa membuat ibu stres dan bakal membuat baby blues atau hal-hal yang tidak diinginkan lainnya.


Jadi, sebenarnya insyaAllah ga perlu panik ya, Bun untuk mencari donor saat baru saja melahirkan dan ASI qadarullah belum keluar. Donor ASI pun bukan menjadi solusi instant, lho untuk permasalahan jika ASI belum keluar. Ibu dengan covid dan virus menular pun masih berpeluang untuk memberikan ASI secara langsung pada bayi dengan mengikuti standar prokes pemberian ASI. 


Kenapa saya katakan bukan solusi instant, sebab berkaca dari salah satu hukum fiqh, bahwa menyusui anak orang lain hingga 3x kenyang maka akan menjadi saudara sepersusuan. Kalau dalam Islam hal sepersusuan ini bisa menjadi lebih panjang. 


Jika harus bekerja sama dengan donor asi

Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad sendiri pun selain disusui oleh Ibunda Aminah, ibu kandungnya sendiri juga menurut beberapa kisah beliau memiliki ibu-ibu penyambung asi. Kukatakan penyambung asi karena memang beliau sempat disusui oleh ibunya sendiri sebelum disusui dan dititipkan pada Ibu Halimah As Sa'diyah (bahkan ada yang mengisahkan ada dua ibu susu yang lain). 


Halnya jika disetarakan dengan masa kini, tradisi bangsa Arab yang memberikan balas jasa pada perempuan desa yang membantu menyusui anak, dikarenakan harapan bahwa di desa lebih bagus secara kondisi geografis dan untuk tumbuh kembang anak dibanding di kota saat itu. Selain memang kalau dari kisah Nabi Muhammad, yakin deh pasti ada hikmahnya kenapa Allah mengizinkan hal tersebut terjadi. Sedangkan donor asi di masa sekarang dikarenakan kondisi terhalangnya untuk memberikan asi pada anak.


Sebuah apresiasi pada keberadaan asi yang kian disadari keberadaan dan pentingnya saat ini. Tanpa meminggirkan kondisi yang berbeda, asi yang memang diciptakan-Nya adalah hal paling utama yang banyak sekali manfaatnya. Dan donor asi membantu para ibu dan keluarga yang ingin memberikan asi pada anaknya, baik pemberian secara langsung maupun dengan memberikan asip (asi perah)nya saja. 


Jika memang yang terbaik dengan donor ASI silakan, karena kondisi dan usaha maksimal tiap orang beda-beda. Cita-cita, keinginan, visi dan misi pun pasti berbeda. Tugas para ayah untuk membantu para ibu agar bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak.




Kondisi ketika ibu dilarang menyusui

Sebagai penutup, ada yang membuatku ingin menuliskan keadaan apa yang membuat seorang ibu dilarang memberikan asi atau bahkan tidak boleh menyusui. Sebab tanpa edukasi yang benar dari praktisi kesehatan dan pemahaman yang komprehensif dari orang tua baru, hal ini bisa menjadi salah kaprah. Bukan lantas jika asi tidak keluar segera setelah melahirkan, maka solusinya (paniiik mencari) donor asi. Atau jika tidak sempat melakukan IMD maka menganggap proses menyusui gagal. 😖

Dalam bukunya, dr. Asti Praborini dan dr. Ratih Ayu menyampaikan bahwa masalah-masalah menyusui semua bisa diselesaikan tanpa stres. Bahkan dibahas juga bagaimana ibu dengan HIV bisa dan boleh untuk menyusui hingga 2 tahun, lho!

Namun tentu kondisi yang istimewa ini butuh hal istimewa juga. Ibu dengan HIV (yang virus di dalam tubuhnya bisa tertular lewat cairan tubuh, termasuk asi dan darah bila timbul lecet berdarah di dada), wajib banget untuk mempersiapkan proses menyusuinya sejak hamil. Perlu berkonsultasi dengan nakes dan mendapatkan antivirus atau hal lain sesuai kondisi.


Jadi tidak mudah secara medis untuk menghakimi seorang ibu yang baru saja menjadi ibu dilarang menyusui karena sakit. Yang seperti apa dulu sakitnya? Kaitannya dengan covid, menurut kemenkes RI pun memperbolehkan ibu dengan covid untuk tetap menyusui dengan protokol kesehatan. Faskes pro-asi selama covid pun akan membantu hal ini.


Proses menyusui itu proses yang membahagiakan setelah kehamilan. Pilih mana saja yang palinggggg membuat yakin dan bahagia setelah semua usaha dilakukan dan dipersiapkan dengan benar dan matang ya, sebab
busui butuhnya sebenarnya cuma: bahagia dan bersyukur.
🌻 Semangaaat!

Posting Komentar untuk "Perlukah Donor Asi Pasca Melahirkan?"