Jumat, 20 Juni 2014

Dolly, Sebuah Keterpaksaan



Bismillah


Sebuah nama yang tiba-tiba menjadi booming dan muncul ke permukaan, meski ia bukanlah nama yang baru, dan hanya dikenal atau sengaja dikenal oleh kalangan tertentu saja. Bukan familiar sebagai nama Indonesia, apalagi nama Jawa di tanah arek-arek Suroboyo. Bagi warga yang mengusung nilai ketimuran, akan mengubur rapat-rapat dan jangan sampai terpeleset menyebut nama yang menjadi perputaran uang lewat bisnis yang menjual manusia, yang sebagian besarnya adalah perempuan. Nama yang berada di sebuah gang di pelosok daerah Surabaya yang gaungnya tersohor hingga ke wilayah Asia Tenggara. Dan aku ingin, hanya aku saja yang menyebut nama itu, saat ini, cukup lewat tulisan ini. Jangan ke suamiku, anakku, pun turunannya kelak. Dan se-siapa pun dariku, dan juga dari semua manusia yang memanusiakan manusia. 

Dolly !

Satu demi satu terlucuti fakta mengenaskan di dalamnya, seperti halnya terlepasnya satu demi satu rasa malu manusia-manusia yang masuk ke dalam pusaran Dolly. Prostitusi. Perdagangan manusia dan lebih tepatnya lagi jual beli rasa malu pada hal-hal yang dilarang-Nya. 

 Terpaksa Memilih Jalan Perlawanan Hati

Menuliskan poin ini, membuatku kembali menggelar ingatan pada novel “Existere” karya senior di dunia pena, mbak Sinta Yudisia, yang sayangnya semasa aku di Surabaya, belum sempat bertemu beliau. Dalam novel bersampul hijau tosca dengan sketsa wajah perempuan yang mengisahkan dunia kelam di Dolly, dari ragam sudut pandang tokohnya yang semuanya adalah perempuan, antara sang pelaku atau kini disebut dengan wanita harapan lengkap dengan liku-liku di sekelilingnya—keluarga yang menjadi ‘korban’ sang wanita harapan—dan seorang bidadari dunia yang suaminya terjebak oleh salah satu perempuan dari lembah Dolly.

Hiks...terpaksa sebenarnya membaca novel tersebut, sebab aku tak begitu suka dengan genre yang “menantang” meski aku sendiri kadang terlintas ide-ide menulis yang tak biasa, dan karena aku mendapatkannya dari tangan seorang perempuan kinasih, mbakyu dan juga senior dunia pena juga, mbakyu Shabrina Ws yang memberikan novel “Existere” itu untukku. Bagian tentang resensi novel ini in sya Allah akan tertulis menyusul.

Dan kembali pada “terpaksa memilih jalan perlawanan hati” ini maksudnya ialah bahwa dari berbagai alasan menjadi perempuan harapan di sana seringkali dengan alasan ekonomi, yang menjadi dalih kebanyakan. Meski yakin sekali bahwa sebelum memutuskan terjun ke dunia hitam itu pun hatinya akan ada penolakan. Tahu tapi tak bisa berlalu. Mengerti rugi tapi tak bisa menghindari.

Jika memang dosa itu telah raib dari hati, serangan AIDS itulah momok terbesarnya. Dan sampai poin ini pun ada saja yang berusaha melanggengkan perdagangan rasa malu itu dengan menebar jala-jala bertopeng k*nd*m. Selalu, akan terus ada jaring-jaring yang mengeruk keuntungan dari keruhnya air.


Paksa Untuk Sebuah Kebaikan

Jika untuk menjadi atau jika memilih perjuangan hidup dengan menapakkan tilas pada jalur kemaksiatan memakai istilah “terpaksa”. Terpaksa untuk menyambung hidup, terpaksa untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, dan alasan terpaksa yang lain. Maka seharusnya bisa memaksa diri untuk memilih jalur kebaikan. Jalan kebenaran. Meski memang kebaikan itu seringnya harus menemukan jalan terpaksa. Tapi terpaksa dan memaksa diri untuk memilih kebaikan kenapa tidak ? Dan harus dipaksa.. !

Pun jika langkah bijak dengan segala balutan ketegasan dan kelembutan seorang ibu dari sosok pemberani Walikota Surabaya, yang akrab disapa Bu Risma, dianggap sebagai sebuah pemaksaan, dan memang benar, itu adalah sebuah tindakan pemaksaan. Memaksa insan-insan yang berkecimpung terang-terangan atau samar-samar di Dolly untuk bertaubat dan kembali ke jalan fitrah. Adakah setiap jiwa yang lahir ke dunia ingin hidupnya dalam bayang-bayang kegelapan atau berada dalam kegelapan ?

Andaikata dosa tak bisa terlihat oleh hati, semoga berbagai akibat buruk yang menyertainya sebagai pengingat hati yang berkarat. Adanya penyebaran virus AIDS, ragam penyakit mengerikan, adanya perzinahan yang merugikan keluarga, menghancurkan keluarga dan juga menghancurkan negara, juga manusia seluruhnya.

Mungkin fiksi, bisa jadi hanya imajinasi, tapi tak bisa dipungkiri ada dalam realita tanpa embel-embel sensasi, bahwa korban dari zina itu bisa jadi adalah keluarga dari pelaku atau suatu ketika ada keluarga pelaku yang dizinahi. Naudzubillahi min dzalik.

Suatu hari ada seorang pemuda mendatangi Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!” Orang-orang bergegas mendatanginya dan menghardiknya. Kemudian Rasulullah saw berkata, “mendekatlah.” Pemuda itu mendekat dan duduk. Lalu Rasulullah berkata, “Relakah engkau jika ibumu dizinahi orang lain?” “Tidak, demi Allah, wahai Rasul.” Jawab sang pemuda. Begitu disebutkan Rasulullah hingga seluruh urutan mahram si pemuda. Hingga akhirnya sang pemuda sadar karena Rasulullah dan hidayah-Nya.[1]

Kalaupun ada yang berkedok bahwa Dolly, dan dolly-dolly yang lain di muka bumi, adalah sumber pemasukan keluarga, pemasukan daerah, dll, tak lain hanyalah panah-panah api yang ditiupkan oleh iblis saat merayu Nabi Adam dan Hawa.
Bukankah itu manis, bukankah itu indah. Selalu, rayuan adalah manis di luarnya, dalamnya tak akan pernah ada yang bisa menerka selain Sang Pencipta hati, yang seringkali manis di luar tapi pahit di dalam, apalagi rayuan dari iblis yang terusir dari surga dan hanya ingin mengajak manusia ke jahanam.

Dan jika setelah markas besar jual beli rasa malu dan harga diri itu ditutup di Dolly, maka bisa jadi akan tetap ada benih-benih yang tertinggal atau mengendap, mengingat torehan sejarah trafficking di dalamnya yang terkenal dan terbesar se-Asia Tenggara pasti akar yang menghunjam sudah sedemikian kekar. Bisa jadi akan tumbuh Dolly yang lain, atau perjuangan menutup Dolly masih terus akan bergulir. Karena memang era penjualan manusia, dan seringnya penjualan perempuan, usianya sepanjang usia peradaban manusia, meskipun agama dan hukum serta HAM dijunjung untuk berusaha mengenyahkannya.

Selama nafsu duniawi masih merajai manusia yang ditiupkan oleh iblis-iblis dengan balutan yang manis dan menipu, maka selama itu pula ‘perang’ terhadap bisnis pemuas nafsu laknat akan selalu ada. Kebaikan dan keburukan akan selalu beriringan, seiring nafsu yang diberikan Allah pada manusia. Hanya saja, lebih besar mana nafsu untuk berbuat kebaikan atau kebatilan. Kita masing-masing yang memilih jalan di antara keduanya dengan kemampuan yang kita mampu, dengan tangan, lisan atau diam (hati).

Menjadi pedang bukan berarti selalu menantang
pun menjadi sesumbar untuk menjadi pemenang
sebab pengayun bilah ketajamannya bukan selalu garang
tapi juga sosok lembut yang berhati bintang


Jika kelembutan tak mampu mengasah kekarutan yang terentang
Maka sudah saatnya pedang itu berkata seiring genderang



Pun hati-hati baja itu sebenarnya tak jua sekokoh karang
yang tak akan mungkin tiada terbelah jika hidayah datang
mungkin jalanmu masih remang-remang
dan jadi boneka dalam bayang-bayang
Tapi sosok pemilik pedang yang bertandang
masih menautkan asa melihatmu meraup selendang
menutupkan aurat dan tunduk sembahyang
pada pemilik jagad yang tiada pernah tumbang



Viana Wahyu
Kota Idaman, 22 Sya’ban 1435 H : 08.50



sumber :

[1] Inspiried by Al Hadits. Dikeluarkan oleh Imam Ahmad Juz V hal. 256- 257, At-Thabrani Juz VIII hal. 190, 215. Al-Albani menshhahihkannya dalam kitab Silsilah ash-Shahihah no. 370.)


http://www.merdeka.com/peristiwa/sejarah-gang-dolly-sampai-terbesar-di-asia-tenggara.html

http://www.jawaban.com/index.php/news/detail/id/91/news/140618181034/limit/0/4-Fakta-Dibalik-Kontroversi-Penutupan-Dolly.html
 

http://kampus.okezone.com/read/2014/05/30/373/991933/berikan-dampak-negatif-pada-anak-dolly-harus-ditutup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar