Rindu dalam sepincuk nasi pecel

Bahagia itu lekat dengan sederhana meski hanya sekedar menikmati sepincuk nasi pecel berdua :)
Ceritanya minggu kemarin lagi pengen makan nasi pecel pincuk yang dijual di kedai pecel. Padahal di rumah juga ada sediaan sambal pecel impor dari Madiun dan pohon pisang depan rumah. Tapi tetap rasanya beda antara beli dan bikin sendiri hihi.




Nasi pecel pincuk itu pecel yang diletakkan dalam daun pisang yang disemat dengan lidi di salah satu ujung menyerupai kerucut tanpa tutup saat dimakan. Kalu di Ngawi, Jatim kota kelahiran saya atau di Madiun domisili ortu sekarang, pecel itu berupa kulupan atau sayur hijau rebusan mulai kacang panjang, bayam/kangkung, kadang ada daun singkong/pepaya, tauge, kembang turi putih/merah, lamtoro/petai cina dan irisan mentimun mentah plus kemangi. Disiram sambal pecel yang yummy. Oya...ada sepotong tempe goreng atau peyek kacang yang renyah.

Kalu di sini biasanya dijual di pasar rakyat di kawasan perumahan terkenal di Depok yang lumayan dekat dari rumah. Awalnya pasar ini berada di kawasan Juanda tapi karena kebijakan pemkot akhirnya dipindah. Herannya tiap kali ke pasar rakyat bersama suami dan Azzam, selalu ga beruntung. Yang ga jualan, pindah dan pas dicari sudah habis atau pas suami ga bisa nganterin ke sana. Pas kemarin nyoba yang berangkat suami saja ke TKP dan taraaa.....! Alhamdulillah suami pulang membawa bungkusan dua styrofoam berisi dua porsi nasi pecel.

Sayang beda dikit sensasinya makan di styrofoam dengan di pincuk. Kalau di rumah ortu selalu setiap pagi hunting nasi pecel pincuk. Tak akan pernah bosen meski tiap hari makan pecel. Bersyukur bisa menikmati makanan nikmat yang sederhana. Sehat pula. Apalagi makannya sepincuk berdua di lincak bambu di bawah pohon jambu biji.

Hiks, habis nulis postingan ini jadi kangeeeen ortu di Madiun heuheu

1 komentar

  1. oh nasi pecel, kesukaan suami

    sekedar saran mbak, picnya kegedean, mgk bisa diatur besar kecilnya di postingan

    http://chemistrahmah.com

    BalasHapus