Tahun Baru, Nonton Kembang Api Berekor Mulut Tetangga

Jakarta Timur, 31 Desember 2009

Sama dengan tahun baru masehi yang sudah-sudah, tak ada kembang api, tak suka petasan, tak ikutan konvoi  dan tak ada terompet. Namun bedanya tahun baru masehi kali ini aku telah menjadi istri, belahan jiwa suamiku tersayang yang tiap hari makin menyayangiku dengan hadirnya sang junior yang pada malam tahun baru ini berumur 28 minggu.

Di kontrakan kami yang serba minimalis yang secara keseluruhan berjumlah 20 unit dengan terpecah menjadi 4 deret, para tetangga sudah pada sibuk nyambut tahun baru, ada yang bersih-bersih rumah, masak untuk makan besar bersama keluarga, bahkan ada keluarga kecil (maksudnya anaknya masih kecil-kecil) yang pagi-pagi sudah berangkat ke Ancol! Ckckck…segitunya.


Yah, namanya orang, beda prinsip boleh kan?

Sedangkan aku dan suami, eh sama nanda yang dalam perut ding, tak merencanakan sesuatu yang istimewa, karena bagi kami tahun baru yang sebenarnya adalah tahun baru Hijriah, tahun barunya muslimin yang menjadikan momentum hijrah Nabi Muhammad sebagai titik awal perubahan menjadi lebih baik. Maka kami pun hanya bincang-bincang saja di ruang tamu sambil ngemil dan liat film di TV dengan pintu rumah terbuka.  Pinginnya sih tidur saja, tapi ga enak sama tetangga yang masih pada melek, karena jika kami tidur otomatis lampu rumah kami matikan, dan secara langsung pintu rumah pun kami tutup, tapi kan banyak tetangga di luar gitu loo. Akhirnya kami pun ikutan ngobrol ngalor-ngidul bersama tetangga.

Hampir saja aku mencapai titik jenuh menanti detik pergantian tahun, dan berencana menyudahi acara ngobrol dan say “good nite” pada tetangga kalau saja si Raihan (anak laki-laki usia empat tahun sebelah rumah kami) yang membawa segepok kembang api.

“tante, ayo main kembang api” katanya padaku

“eh..iya mainnya di sini aja bareng-bareng ya..” kataku

Lalu Raihan pun beraksi bersama kakak perempuannya, Suci, yang berumur lima tahun, mereka memainkan kembang api kecil dan membawanya di tangan mereka sambil berlari-lari. Lucu.

Puas bermain dengan kembang api mininya, kini mereka meminta ayahnya agar menyalakan kembang api besar. Ayahnya kemudian menggali sedikit tanah di depan rumah mereka untuk ditancapi kembang api model roket ukuran besar. Sedangkan sang ibu bercakap-cakap denganku sambil melihat kegembiraan anak-anaknya. Ia pun bercerita padaku bahwa ia telah menghabiskan tiga ratus ribu rupia untuk membeli kembang api. Woow, angka yang besar bagi anak-anak yatim temannya Inu, anak yatim cucu pemilik kos-kosan kami di daerah Kwitang. Tiga ratus ribu ludes dalam semalam.

Wiiiing….Duarrrrr!!

Suara kembang api roket yang mengangkasa bercampur dengan kilatan cahaya yang ditimbulkannya. Begitu berulang kali hingga habis lima roket kembang api dan tampak binar bahagia pada dua bocah itu, karena seolah kembang api punya mereka lah yang lebih tinggi daripada pijar kembang api dari rumah-rumah bertingkat dekat kontrakan kami yang nampak di atas atap-atap rumah kontrakan kami. Yah, aku pun belajar tentang makna kebahagiaan anak-anak kita. Bahwa uang berapapun besarnya tak masalah asal anak-anak senang, begitu kata Ibunya Raihan. Namun dalam hati aku menambahkan bahwa kelak jika nanda yang sekarang sedang dalam rahim ini dan adik-adiknya nanti besar, aku dan suami harus bisa mengarahkan agar mereka tahu mana yang manfaat dan mubadzir sejak dini.

Kali ini, Raihan dan Suci ingin yang lebih seru. Sang ayah akhirnya memindahkan pijakan kembang api dari depan rumah mereka ke tengah jalan kompleks kontrakan kami.

“Ayah…ayah…yang seru yaa…” kata Suci sambil mendekap tubuhku. Ia senang melihat kembang api yang sudah membumbung, namun ia kaget ketika sang kembang api baru mengudara.

Wiiiing…Duarrrr…!!!

Kembali lagi roket kembang api itu mneyalak, namun arahnya bukan ke atas namun menyamping, ke arah rumah pemilik kontrakan kami, Mami Anggun, begitu anak-anak kecil sering memanggilnya. Ia berperawakan sedang dan suka menyemir rambutnya plus aksesori kacamata hitam tebal dengan celana model tiga perempat yang menjadi kesukaannya. Hehe…sebenarnya sih Mami Anggun lebih anggun jika mengganti kacamatanya dengan frame warna ungu dan memakai rok xixixi…

Hati kami semua berdesir, khawatir roket itu menyambar rumahnya. Namun sang roket hanya bertengger tepat di atas atapnya. Pfuhh…Alhamdulillah…namun...

“Wooiiii…siapa main dar-der-dor ya..? Bikin orang jantungan ajaaa….!!!” Suara Mami Anggun terdengar lantang membelah malam yang gempita.

Respon yang tak kami kira sebelumnya, akhirnya kami semua pun spontan lariiii….pulang ke rumah kami yang hanya berjarak sepuluh meter dari rumah Mami Anggun.

Sesampainya di teras rumah kami masing-masing, kami pun tertawa dengan kejadian tadi. Akhirnya Raihan dan Suci diajak ayah dan ibunya bermain kembang api di Jembatan Klender, sedang aku dan suami hanya menatap kilatan kembang api hingga ke atas atap rumah Mami Anggun, ikut menanti detik-detik pergantian tahun masehi.

Kampung Depok, tahun baru 2011
Kangen Zaky, Raihan dan Suci serta
Dua peri kecil, Putrid an Nana yang selalu menanyakan kabar dedek di perut
“adeknya sekarang dah besar looo”

Tidak ada komentar