Kamis, 25 September 2014

Bunda Kerja di RS *di Rumah Saja*


Di rumah atau di luar rumah ?

Bunda Kerja di RS* di Rumah Saja
:: Viana Wahyu ::



Berkarier di luar rumah atau berkarier dari rumah tak akan pernah ada habisnya jika dibahas. Semua pasti punya pandangan dan alasan kebaikan masing-masing, tapi kalau pilihan itu sebuah kecenderungan yang tak bisa dipaksakan. Walau aku sendiri merasakan sebenarnya 'keterpaksaan' berkarier dari rumah, hiks...

Semenjak memutuskan mengakhiri masa kebebasan sebagai seorang gadis dan menerima dengan lillahi ta'ala dengan hadirnya seorang laki-laki yang menjadi imamku, maka aku resign dari pekerjaan sebagai tenaga medis di bidang pelayanan. Dan atas izin Allah, bulan kedua dari pernikahan kami, sudah ada kabar baik dengan kehadiran cah bagus di tempat paling kokoh se-dunia. Niat untuk kembali bekerja saat hijrah mengikuti suami di Jakarta pun terpaksa dibatalkan karena ortu dan mertua yang 'ngeman' calon cucunya.

"Ga usah kerja dulu, nduk... dieman-eman calon bayinya.."

Memang cucu pertama sih di keluargaku. Dan aku sendiri, yang semasa di Surabaya sudah puas menjadi penjelajah dan bahkan sudah berkarakter 'muslimah pembalap' (uhuk) dengan menaklukkan medan di Surabaya, harus menjadi sosok kalem dan lembut demi buah hati. Kalau suami sih, dia nrima karakter istrinya yang sudah diceritakan di postingan kisah ta'aruf yaa, kalau istrinya ini bukan sosok yang kalem (ehem).

Akhirnya aku pun menikmati masa-masa kemanjaan itu. Dimanja suami, ortu dan mertua. Jadi rinduuu masa-masa dimanja begituu hihi. Memulai aktivitas yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan saat di Surabaya. Hanya berkutat di rumah kontrakan (saat nikah) vs pagi sampai sore di rumah bersalin dan shift malam di rumah sakit bagian VK (saat single) lama-lama membuatku stuck. Bosan. Dan ga bisa ke mana-mana karena belum paham peta Jakarta dan karena terikat ijin yang ga dibolehin kangmas pergi sendiri hihi (bedaaa bangeet dengan saat jadi gadis :D ).

Hingga akhirnya kembali menemukan passion menulis yang sempat terkubur saat di bangku kuliah karena kesibukan praktik dan nulis asuhan kebidanan bertulis tangan bo' hihi... ga sempat lagi jadinya nulis selain di diary. Dan baru saat lulus bisa bikin blog dan ikut komunitas menulis di FLP (ups, ijin masang nama yaa meski cuma sebentar juga ikutan FLP di Surabaya karena waktu kelas menulis yang selalu hari Minggu dan kerja yang liburnya tak selalu jatuh hari Minggu).

Maka, menulis akhirnya menjadi passion ketika status berubah menjadi calon bunda dan telah menjadi bunda (hingga saat mengetik postingan ini). Ruang kerja pun dinamis, bisa di mana saja. Waktu kerja juga elastis, mau pagi, siang atau sore asal anak dan suami sudah kelar keurus hihi.

Dan baru-baru ini ruang kerja pun kian bertambah jangkauannya sejak Azzam sekolah TK. Aku membawa laptop ke sekolah agar bisa lebih memanfaatkan waktu. Sebab jika sudah di rumah, bakalan tak sempat membuka si lepivi* nama laptop kesayangan* kecuali dua lelaki sudah pada tidur. Dan Azzam memberlakukan peraturan baru buat bunda " Bunda ga boleh pegang hape dan laptop kalau sama Azzam, kalau pegang buku boleh... buat nyeritain ke Azzam" Oalaahhh... xixixi


'Ruang Kerja" sambil menanti Azzam sekolah


'Ruang Kerja' sambil nemanin anak makan di luar usai belanja


"Ruang Kerja" sambil nemanin anak main
Dan masih banyaaaak lagi koleksi "ruang kerja" bunda Viana hihihi... kapan-kapan deh diaplod khusus foto ruang kerja :D


Membersamai anak-anak walau kehilangan waktu untuk diri sendiri lebih kupilih dibanding meninggalkan anak-anak dan menghilangkan waktu mereka bersama kita #VianaWahyu

Tetaplah menjadi bunda yang hebat di mata anak-anak kita, duhai bunda...
senyuman anak lebih dari segala yang kau miliki, bahkan dirimu sendiri...

“Anak adalah kehidupan, mereka sekedar lahir
melaluimu tetapi bukan berasal darimu.


Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu
karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.


Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya, karena
jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi
bahkan dalam mimpi sekalipun.


Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
menuntut mereka jadi seperti sepertimu.


Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan
tidak tenggelam di masa lampau.


Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang melucur.
Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menentangmu dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.


Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap”.
#Puisi Kahlil Gibran dalam "Anakmu bukan anakmu" yang juga bisa dilihat di sini



Kalau ditanya "ga pengen kerja lagi? " jawabnya "ya pengeeen lah... ini pun juga sudah kerja, kalau nulis terus dapat honor hihi.."

Tentang skenario kembali kerja sesuai profesi, biarlah Allah yang kelak akan mengembalikan bunda kembali bekerja di RS*Rumah Sakit* atau Bunda tetap kerja di RS* Rumah Saja* hihihi


Depok, 25 September 2014
"Bunda love you, mas Azzam...more than bunda love my self.."


Tidak ada komentar:

Posting Komentar