Refleksi Kemerdekaan



 *17 Agustus 2014 s.d 22 September 2014*


Baru ingat saat buka-buka file pernah nulis ini... Saat diminta dadakan oleh suami untuk membuat refleksi kemerdekaan, setelah dia semalaman tak berhasil juga menulis tentang hal ini. Dan seolah seperti benar-benar menjiwai isi proklamasi... suami hanya memberi tempo yang sesingkat-singkatnya padaku, hanya dalam waktu setengah jam ! Dan alhamdulillah aku bisa menyelesaikannya dalam waktu sepuluh menit... ! Horeee... merdekaaa !

Sebenarnya aku diminta sekalian membacakan isinya saat malam 17-an di mushola warga bersama anak-anak santri, sayangnya waktunya malam jam delapan hingga selesai, dan Azzam sudah tak bisa dinego lagi untuk melek. Jadilah akhirnya kangmas yang membaca tulisanku. yeaay... \^_^/






Refleksi Kemerdekaan : Saat Surga itu Bermula dari Indonesia
Oleh : Viana Wahyu

Bismillahirrohmaanirrohiim


Merdeka itu...
Saat negeri indah yang kita diami, Indonesia, berani menunjukkan jati dirinya, dengan pijakannya yang kokoh, dengan lantang suaranya dan dengan kegagahan rakyat yang bersahaja.

Merdeka itu...
Bukan warisan kolonial, tapi harga dan hadiah terindah dari Yang Maha Kuasa untuk seluruh rakyat Indonesia. Saat langkah mengusir penjajah yang dibayar dengan derai air mata, darah dan nyawa menemukan muara keindahan dunia. Saat segala pengorbanan yang tak murah dan tak sedikit bukan hanya terjadi dalam hitungan hari, tapi tiga setengah abad, ratus lima puluh tahun. Duhai... seperti apakah wajah negeriku saat itu hingga sekian lamanya dalam ujian besar..?

Merdeka itu...
Bukan sekedar mengingat segala jejak para pejuang yang telah gugur dan menyinggahi taman makam pahlawan menabur bunga. Bukan semata berdiri menantang matahari menghadap sang merah putih yang terkembang oleh bayu. Bukan....bukan itu...




Merdeka itu...
Saat negeri kita....saat kita sebagai penjunjung dan pewaris negeri ini...bersatu mempertahankan keutuhan ibu pertiwi. Saat kita tangguh dengan segala kekuatan melawan segala bentuk tindakan yang meruntuhkan negeri.

Dan,
Semua tapak Indonesia yang telah beranjak 59 tahun adalah dominasi peran pemuda. Tunas-tunas bangsa yang mewangi membela negara tercinta. Bibit-bibit penuh keberanian yang berani menggelorakan semangat rakyat Indonesia. Generasi penerus bangsa yang tak takut tergerus keelokan dunia dan tak terjerumus oleh godaan kelicikan manusia yang ingin menguasai Indonesia.
Sumpah pemuda....Rengasdengklok...hingga puncaknya adalah diproklamirkannya kemerdekaan oleh Soekarno-Hatta adalah rekam petilasan para pemuda dengan keberaniannya. Mungkin pemuda-pemuda itu nekat, tapi kekuatan mereka dahsyat meski hanya bersenjata bambu runcing. Mungkin langkah mereka di luar logika, tapi mereka mampu luluh lantakkan segala ancaman negara walau harus berkorban raga dan meninggalkan keluarga.

“Ingatlah tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke alam gua, lalu mereka berdo’a,”Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami..”QS Al Kahfi : 10.

Hingga Quran pun mengabadikan kisah keberanian, ketangguhan dan kesabaran para pemuda Kahfi menjadi nama satu surat, saat mereka berani menentang kedzaliman penguasa dengan akidah yang lurus.

Dan, Indonesia pun mengabadikan pemuda dalam pulas merah dan putih. Yang tegas dalam keberanian sang merah dan kokoh dalam sucinya kesabaran sang putih.

Kini, saatnya kita menjaga kemerdekaan itu dengan hati yang bening. Saatnya kita mempertahankan kemerdekaan itu dengan kemurnian akidah. Saatnya kita berjuang dan bekerja untuk Indonesia dengan semangat para pemuda, dengan mengerahkan pemuda, dengan membekali generasi penerus itu dengan iman, dengan menjaga semangat perjuangan seperti semangatnya para pemuda.

Surga tak akan direngkuh dengan mengeluh
Jalannya panjang dan berliku penuh peluh
Sesekali terseok dan terjatuh
Kesabaran dan keteguhan menjaga iman itulah yang akan menjadi buluh
Sulur panjang yang akan membawa ke surga-Nya yang utuh
Cinta yang akan membuat kita kuat dan tangguh
Cinta yang akan membuat kita bersatu dengan teguh
Bercerai berai akan membuat negeri indah ini rusuh

Surga sebelum surga itu bisa jadi ada di Indonesia yang teduh
Saat kita merdeka dengan segala maknanya di ujung sauh
Namun tetap merendah pada Allah Sang Penggenggam futuh (kemerdekaan)

“Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” QS At Taubah: 89


Depok, malam 17 Agustus 2014 " merdekaaaa....!"


Posting Komentar untuk "Refleksi Kemerdekaan "