Lelah Pejuang Peradaban





Perempuan kesayangan nan mulia itu, membiarkan telapak tangannya yang lembut tergurat-gurat oleh penggilingan gandum. Telapak kakinya mengiringi segala kegiatan kerumah tanggaan yang ia lakukan sendiri tanpa asisten.

Memilih hidup bersama laki-laki yang ia tahu tak berlimpah harta, sama sekali tak jadi masalah baginya. Ketika pengantin baru dengan peraduan yang terbuat dari kulit biri-biri, berbantalkan sabut tamar, dan keseharian dengan perut yang tak pernah kenyang, tetap membuatnya cinta pada sang suami. Bahkan mahar dari suaminya, ia hadiahkan kembali pada lelaki kesayangannya itu.

Namun, tetaplah ia memiliki hati sebagai perempuan biasa. Hingga suatu ketika, akumulasi keletihan pada tubuhnya mengantarkan langkah kakinya menuju sang ayah!

Apa yang terjadi?


Sang ayah ternyata memberikan sebuah wejangan yang menggetarkan hatinya. Mengubah rasa penat yang mampir pada dirinya menjadi ketundukan dan keikhlasan pada laku hidupnya.

Maukah kau tahu pesan itu?

Ya, pesan yang datang dari seorang mulia yang kita rindukan, baginda Rasulullah saw. Mudah sebenarnya bagi seorang Fatimah ra, perempuan terpilih yang kisahnya terbagi di sini, untuk mendapatkan khadimat/asisten rumah tangga.

Tapi, simaklah yang membuatnya tak pernah lagi meminta khadimat,

"Maukah kalian kuberi tahu sesuatu yang lebih baik dari yang kalian minta? Bila hendak naik ke pembaringan, bertakbirlah 33 kali, bertasbihlah 33 kali, dan bertahmidlah 33 kali. Semuanya itu lebih baik daripada seorang pembantu." (HR. Muslim)

Masya Allah..



Semoga kita tidak kufur nikmat yaa. Ketika zaman sudah lebih mudah dibanding zaman perempuan-perempuan mulia bunda Khadijah, Aisyah, Fatimah dan juga Asiyah, namun kita juga lebih mudah mengeluh. Lebih mudah stres.

Dan lebih jauh ialah mudah untuk menjadi tidak bahagia.

Lihatlah Fatimah ra, yang tidak bertemu kosakata sosmed. Ketahuilah riwayatnya yang tak pernah ditemukan foto profilnya. Ia begitu bahagia dalam kesahajaan. Ia begitu taat dalam keterbatasan dunia.

Bila iman menjadi kekuatan Fatimah. Maka apa yang kita punya? Hati yang sering futur dan terlena serta mudah putus asa?

Sungguh jauh bandingannya.

Namun, tetaplah bersemangat. Karena meski iman di hati kita masih meredup, jangan pernah memadamkannya. Iman yang akan menuntun hati kita untuk bersyukur atas hidup kita.

Sepahit-pahitnya kehidupan kita, masih banyak kepahitan saudara-saudara kita jika kita tundukkan kepala.

Yuk bersyukur,
Yuk bahagia,
dan selesaikan task-taskmu dengan berbinar, mak 🥰

Bila lelah
Tenang, mak, itu fitrah
Beristirahatlah,
Asal kita tak mudah berserah
dan mudah goyah

Peluklah suamimu yang berpayah-payah
Berjuang mengusahakan nafkah
Dunia di luar sana tidaklah mudah
bahkan kadang harus berderai dan berdarah

Rengkuhlah anak-anak yang tersenyum merona
dengan segala rupa masakan yang kau suap ke mulut mungilnya
atau cerita yang kau labuhkan pada otak mereka

Kau tidak sedang berjuang sendiri,
Suamimu pun terus berlari
membuatmu dan anak-anak berseri

Ada bahu suamimu untuk bersandar
ada senyum anak-anak untuk membuatmu tegar
dan ada cinta-Nya untuk menguatkanmu bersabar

Tetaplah bahagia duhai emak-emak fillah
Meski lelahmu tak lekas terbayar di dunia
Allah yang akan melunasinya kelak di jannah

Aamiin


Salam,
Viana Wahyu
di sepetak rumah Depok, berjuta cinta terjejak




Referensi cerita: www.dakwatuna.com






1 komentar untuk "Lelah Pejuang Peradaban"

Viana Wahyu 25 Agustus 2020 pukul 20.11 Hapus Komentar
Alhamdulillaah