Peta Mimpi dan Peta Waktu, Kolaborasi Kuat Giat Menulis


Kita berjalan dari satu deadline ke deadline berikutnya, dan hidup itu sendiri adalah kumpulan deadline!

Adakah yang deadliners? 😀 Barisan pecinta deadline, yang jika tidak ada deadline seolah ruh bergeraknya kurang berasa, kurang menantang adrenalin dan bahkan sampai ada istilah the power of kepepet 🙈.

Tapi percaya ga kalau deadline itu memang membuat kita hidup, walaupun harus menyematkan kata "dead" yang berarti kesudahan, akhir, ending dari kehidupan ini. Dan jadilah deadline adalah garis kematian!

Kenapa bukan lifeline? 🥰

Ternyata memang ada rahasianya, lho, yang coba kukupas di sini.

Start from your finish

Daftar Mimpiku


Jika bergerak ala batalyon Pejuang Literasi, ada pengingat yaitu tentukan langkah pertamamu dari tujuan akhirmu. Bukan sekadar strong why saja, tapi sebuah gelora yang membakar dari sebuah alasan kenapa harus berbuat, dan itu berasal dari goal terbesar kita.

Nah, jika kemarin tertulis di dreamlist bahwa menulis adalah jalan setapaknya surga, warisan tanpa habis turunan, dan jejak ilmu maka muaranya ialah sebuah lansekap yang insyaAllah berada di negeri akhirat. 

Jika finishnya ialah: akhirat. Maka startnya ialah: waktu sekarang kita di dunia.

Fix ya, deadline besar= akhir kehidupan kita. Yang sayangnya kita tak pernah tahu kapan masa tugas kita berakhir. Jadi mari kita rumuskan langkah kita.

Peta Perjalanan


Seperti halnya pendakian, untuk mencapai puncak kita membutuhkan peta dan singgah pada pos-pos persinggahan.

Bismillaah

Pos 1: target 1 tahun

  • Lahir buku solo, dengan menulis sehari 5 halaman
  • Lebih fokus menulis konten di blog dan sosmed, serta menemukan niche menulis yang tepat, dengan menulis tiap dua hari sesuai jadwal konten di instagram dan update blog minimal sepekan sekali.

Pos 2: target 3 tahun

  • Melahirkan buku solo tiap tahun, dengan menulis sehari 10 halaman.
  • Mulai belajar berbagi/ sharing tentang materi kepenulisan
  • Personal brand pada akun menulis sudah semakin mantap, dengan menulis konten IG tiap hari dan update di blog seminggu 2-3 kali.

Pos 3: target 5 tahun

  • Minimal lahiran 'anak' 5 buku dalam 5 tahun, dan menulis sehari 1 bab!
  • Rutin berbagi/ sharing kepenulisan
  • Personal brand sudah terbangun (menulis IG tiap hari dan di blog seminggu 2-3 kali
  • Belajar membangun literasi kemasyarakatan

MasyaAllah semoga Allah mudahkan ... aamiin

Alhamdulillah, puncak!

Persinggahan-persinggahan itu sungguh terlihat mudah ditulis, mudah terlihat di peta, namun kenyataan pendakian itu tak semudah angan. 

Tapi ingatlah, puncak dari target ada di atas sana. Ada di puncak pendakian. 

Membayangkan wajah yang terasa seperti tersisir lembut oleh angin, aroma buah pepohonan di puncak pegunungan yang menggelitik hidung dan leluasa memasuki paru-paru, dan sinar matahari yang seperti kehangatan sweater saat kedua kaki dan tangan bersimpuh di altitude kesabaran.

Mari kita rayakan dengan kesyukuran. Jika Allah mengizinkan lahir buku solo tiap tahunnya, maka akan berusaha membagi kebahagiaan itu dengan mengajak keluarga kecil kami tafakur/ berkemah/ traveling sambil berbagi ke masyarakat sekitar. 

Jika pendakian itu ambyar ...!

Yang pasti jika pertahanan ambyar, jangan sampai bubaaaar.

Hukumannya ialah tetap senyuum! Pantang menangis dan berurai air mata. 

Detilnya, jika dalam sehari tidak jadi 30 halaman (jika di tahun pertama), maka hukumannya ialah membaca buku dan wajib mereview. Lalu di bulan berikutnya harus berusaha mengejar ketertinggalan, dengan menuliskan kekurangannya.

Memang pendakian itu adalah kumpulan langkah-langkah kecil. Yang kadang harus terseok, tergelincir bahkan terkilir karena kurang hati-hati dan dispilin. 

Mungkin memang akan ada kekecewaan, tapi yakin bahwa skenario Allah tak pernah salah. Untuk itu akan berusaha menebus kekurangan, kelemahan itu dengan evaluasi diri serta berinfak dengan materi titipan-Nya atau pun sedikit ilmu dan pengalaman. 

Daftar Cek Harian


Kehidupan adalah ibadah terlamaaaaa yang kita jalani. Jika tak berusaha menemukan butiran berlian setiap harinya dalam jalur pendakian ini, maka kehidupan kita pun rawan menjadi remahan yang tiada arti. Hanya menemukan kerikil yang tajam menusuk kaki, lalu mengeluh dan jenuh.

Yang membuat perjalanan kita bernyawa ialah mimpi, 

Yang menjadi garda internal agar kita tetap dalam alur pendakian dreamlist yaitu komitmen, keteguhan dalam mencapai persinggahan-persinggahan

Dan garda eksternal diri kita yang mampu menjaga kita agar serius pada komitmen ialah daftar centang harian kita. Yang akan mengevaluasi perjalanan kita.

Ah, semua pasti memiliki strategi masing-masing yaaaa, dan di atas adalah rupa dari perwujudan misi asik 'pendakianku'. 

Yuk, semangaaat dengan kondisi masing-masing, dengan ujian dan cerita kita sendiri-sendiri. Saling mendoakan yaa, semoga Allah selalu memudahkan mimpi-mimpi kita menjadi teman perjalanan paling mengasyikkan sebelum deadline itu tiba.

Kita memang tak pernah tahu kapan deadline itu menyapa, tapi dengan adanya deadline, kita akan selalu teringat pada peta perjalanan dan peta waktu harian kita. Dan rahasia kapan deadline itu menjadi finish kita, adalah salah satu jalan untuk kita mencintainya. Cinta tanpa batas pada yang tiada batas. Allahu Akbar.

Posting Komentar untuk "Peta Mimpi dan Peta Waktu, Kolaborasi Kuat Giat Menulis"