Mengenang Surat-Surat Usang

 

Surat usang


Saat ini siapa yang masih "surat-suratan"?

Anak generasi 90-an pasti tahu dan bahkan ada yang merasakan nih masa-masa menulis surat, mengirim dengan perangko dan pergi ke kantor pos atau memasukkan ke kotak pos yang ada di jalanan kota. Ehm, kalau ga pernah, minimal tahu ya ada nama teman penerima surat yang terpampang di papan sekolah? Hmm atau kalau ga pernah juga, minimal tahu pergerakan pak pos deh ya dengan karakter khasnya berseragam-helm dan motor orange, hihi.

Sekarang bagaimana ya keberadaan surat beramplop dan berperangko itu di masa kini? 


Korespondensi di Masa Lalu

Saya tergelitik ketika kapan lalu bermain dengan kertas daur ulang, membuka buku catatan dari kertas rustic dan menghiasinya, tiba-tiba terlintas untuk mengenang zaman korespondensi saat SMP eh, malah sejak di bangku SD, ding.

Waktu itu oleh Bapak dan Ibu diberikan hak istimewa untuk berlangganan majalah anak, Mentari Putra Harapan (pada tahu ga ya?). Majalah Bobo ada sih, hanya saja entah lebih suka saja dulu pada majalah Mentari ini dibanding majalah lainnya.

Sejak kelas 4 SD kalau tidak salah, saya senang bermain kata (memanjang-manjangkan cerita tepatnya). Pernah beberapa kali mengirim puisi dan juga surat pembaca di majalah. Tapi saking lamanya menunggu kabar, mungkin karena banyak yang mengirimkan karya juga ya, jadi sampai lelah menunggu info kapan terbit, hihi. 

Oh, iya pernah juga iseng mengirim jawaban teka-teki silang atau kuis yang memakai kartu pos beberapa kali, tapi tidak pernah beruntung. Meski begitu tiap pekan tetap saja penasaran mengisi TTS.

Nah, suatu ketika saya tidak menyangka jika salah satu surat saya dimuat di majalah. Wah, zaman dulu sudah senang banget. 

Sejak itu saya mengenal beberapa teman yang mengirimkan surat perkenalan pada saya. Tapi saya lupa sih, kayaknya dulu harus melalui seleksi Bapak/Ibu dulu untuk membalas surat mereka. Sebab ada juga yang mengirim surat berisi arisan kaleng. 🙈.

Pernah tahu tidak istilah surat kaleng? 

Juga arisan kaleng? 

Ya, memang ditujukan untuk hal-hal yang memang tidak jelas dan cenderung menjadi keburukan. Seperti bunyi kaleng yang nyaring bunyinya jika kosong (eh, itu mah tong yaa). 

Rasanya saat SD saya hanya berkirim surat dengan teman-teman yang sekota saja, yaitu teman-teman yang kami berkenalan saat ada lomba tingkat kecamatan atau kabupaten.


Mengenal Sahabat Pena

Nah, ketika duduk di bangku SMP, barulah saya mengenal sahabat pena yang lebih luas lagi jangkauannya. Saat itu saya sudah diizinkan untuk berkorespondensi dengan teman-teman luar pulau, dan demi keamanan memakai alamat sekolah. 

Tapi sahabat pena pertama saya saat berseragam biru putih justru teman satu sekolah berbeda kelas. Awalnya kami kenal saat pelaksanaan perayaan tujuh-belasan di kota kami dengan pawai sepeda hias. Kami berdua berpasangan untuk saling bersejajar selama di jalan.

Teman saya itu perempuan ya, hihi. Dan sejak itulah kami berkirim surat. Tak perlu pergi ke kantor pos untuk mengirimkan surat kami, meskipun kami memakai perangko, namun kami memberikan langsung saat di sekolah. Bahkan Lucu ternyata kalau diingat, karena selain menunggu balasan, kami pun jadinya bisa mengoleksi lembaran-lembaran kertas surat yang cantik-cantik penuh bunga, berwarna pink dan wangiii. 

Dan berlanjut dengan mengenal teman-teman dari luar Jawa, salah satunya dengan media majalah. Hayoo ada ga yang pernah iseng membaca nama-nama unik di majalah? Naah, saya salah satunya yang akhirnya mencoba mengirim surat pada mereka.

Ada yang beneran menjadi sahabat pena, ada juga yang surat itu tak pernah berbalas. Bahkan pernah saya yang mendapat surat lebih dulu.

Senangnya saat itu tuh ketika nama saya bersama para penerima surat lainnya dipajang di info pengumuman di kantor BP (bagian pembinaan siswa atau kalau sekarang itu menjadi psikolog sekolah). 

Sampai duduk di bangku SMA, saya masih meneruskan korespondensi ini. Oh, iyaa selain berkirim surat dengan teman luar kota, saya pun juga menjadi pen pall dengan teman-teman satu sekolah. 

Saat itu kan gawai masih langka, jadilah kami pun saling curhat di surat, bahkan pernah marahan atau berbaikan dengan surat. Ketika ketemu bertangisan. Ah, anak-anak gadis. 🤭


Surat di Masa Kini

Ketika mengenal pelajaran komputer di bangku SMA dan diminta membuat email (terus dipakai buat chattingan, MiRC 🤭) sejak itulah berkirim surat menjadi lebih luas. Bahkan ketika kuliah, istilah email, milis (mailing list) ini sangat ramai.

Senang sih ketika membuka email dan menemukan inbox dari teman yang akhirnya berkuranglah momen berkirim surat dengan surat fisik. 

Lupa kapan terakhir berkirim surat fisik, kayaknya ketika di asrama kampus pernah sih saya mendapat surat yang disampaikan oleh ibu asrama.

"Vi, ini ada surat dari ...."

Ternyata bukan saya saja dan para manusia lainnya yang berubah mengikuti roda kehidupan, namun surat pun nyatanya ikut berubah.

Kabarnya nih, seiring dengan perkembangan zaman keberadaan surat di kantor pos sudah sangat minim. Istilah surat yang zaman dulu memang berisi surat resmi dan non-resmi, untuk saat ini teralihkan menjadi surat resmi atau hanya untuk pengiriman dokumen saja.

Tapi pengiriman kabar melalui kartu pos masih ada, lho!

Itulah mengapa beberapa blog yang masih mendalami dunia korespondensi ini menginfokan bahwa perangko sampai saat ini masih ada. Saya sendiri terakhir membeli perangko (eh ga jadi terbeli karena saat itu penjaganya sedang tidak ada) sudah beda jauh karakternya dengan masa lalu. Lebih kekinian foto maupun desainnya.

Ah, jadi kangeeeen koleksi perangko dari sejak zaman SMP dulu. Sudah ada beberapa album yang saya dan adik kumpulkan. Namun sayang karena adanya banjir di kota kelahiran kami di Ngawi (yang saat itu saya sudah kuliah) album-album dan juga satu lemari majalah-majalah terkena banjir yang merendam rumah kami. 

Menuliskan surat-surat usang itu rasanya bagai memunculkan kembali memori pertemanan di masa lalu. Saat masa menunggu balasan surat itu menjadi keunikan tersendiri.

Bila bukan karena qadarullah-Nya pula, maka surat-surat sahabat saya insyaAllah masih tersimpan rapih walau kertasnya pasti sudah menguning, khas surat zaman dulu. Ada beberapa sahabat pena saya yang sampai saat ini kami masih bersapa di sosmed dan dia mengatakan jika masih menyimpan surat-surat saya dari zaman SMP-SMA. MasyaAllah. 

Bila masih ada surat-surat saya waktu itu, ga perlu deh mengoleksi properti fotografi kesukaan saya di dunia still life dengan membeli beberapa surat, kartu pos dan perangko jadul karena insyaAllah saya pun punya sendiri. 

Jadi pingin berkirim surat lagi, deh. Meski mungkin kondisi sebagai emak-emak, nih pasti beda ya dengan kondisi saat masih pelajar dulu. Tapi ga ada salahnya mencoba lagi.

Ada yang mau menjadi sahabat pena saya sekarang? 

Posting Komentar untuk "Mengenang Surat-Surat Usang"