Sentuhan Kesyahduan dalam Ramadan

 

Ramadan


Pernah merasakan hati yang seolah berderit-derit ketika mendengar lantunan sholawat dengan ritme yang sendu? Ditambah lagi biasanya bersandingkan dengan peristiwa yang membuat hati ikut mendung. Salah satunya dalam bulan Ramadan ini ialah ketika santunan pada anak-anak yang dimuliakan-Nya. 


Saat mengikuti dan mendampingi adek di acara pemberian santunan yang diadakan di sekolahnya, saya sempat mendengar ibu-ibu di sebelah saya menyampaikan pada anaknya, " ... sudah tidak mempunyai ayah dan ibu." Hal tersebut disampaikan mungkin karena adanya penyebutan yatim piatu oleh pemandu acara. Hati ini seketika hujan dan pandangan mata terasa tergenang air. 😭🥺


Ya Allah, saya langsung mendekap adek di depan saya dan berdoa dalam hati, semoga Allah menjaga anak-anak kami dan mengizinkan saya dan ayahnya untuk mendampingi mereka di dunia hingga mereka memiliki cucu-cicit. Aamiin ya robbal alamiin.


Mereka yang istimewa


Meskipun saya sudah beberapa kali menyeka air mata dan membalikkan badan dari acara (hiks ga enak kalau sampai ada yang tahu saya sedang nangiss, hiksss), sesampainya di rumah saya masih menumpahkan rasa sesak dengan bercerita pada suami dan masih membiarkan air mata mengalir.


Saya pun juga yatim. Allah yang Maha Pengasih ternyata lebih mengasihi bapak rahimahullah. Tapi banyak anak-anak muda, bahkan anak kecil seusia adek di TK yang Allah berikan kemuliaan dalam umur mereka yang masih kecil. 


Pun saya sempat bertemu dengan wali alumni yang Allah berikan kasih sayang baru setahun yang lalu. Sang ibu kini menjadi dua sayap dalam sebelah sayapnya. "Semoga Allah berikan kekuatan yaa, Mah", saya mengucapkan ini pada beliau sambil hujan di dalam hati. 


Hikmah kehidupan Rasulullah di masa kecil


Ya Allah, kehidupan ini memang rahasianya adalah kuasa-Nya. Ketika kita melihat sebuah kesedihan dan ujian yang berat, bukanlah tanda bahwa Allah menjauh. Namun bisa jadi dalam pandangan-Nya yang lebih mengetahui kemampuan hamba, terlampir sebuah kemuliaan dan kekuatan dalam ujian tersebut. 


Saya pun teringat pada kehidupan Rasulullah yang terlahir sebagai anak yatim. Beliau bahkan menjadi yatim piatu di usia kecil. Dan kembali mengingatkan saya pada isi sebuah hadits bahwa Rasulullah dan anak-anak mulia yang istimewa di dunia nantinya akan berdekatan seperti posisi jari tengah dan jari manis. 


Allah bisa jadi memang telah menetapkan garis kehidupan yang, dalam kacamata manusia, sulit pada diri Rasulullah. Tapi Allah membuat keputusan tersebut bisa jadi salah satu hikmahnya adalah untuk meneguhkan hati semua umatnya. Menguatkan jiwa para anak-anak yatim piatu dan menggembirakan hati mereka, bahwa mereka memiliki panduan kisah dari kehidupan Rasulullah SAW. 


Setujukah jika menyimpulkan bahwa Ramadan adalah dermaga rasa? Semua rasa bercampur dalam derik asa, semua asa ternaungi doa, semua cinta ada cerita, dan cerita itu ada dua warna, bahagia dan ujian. 


Kadang bagian terberat dari ujian bukanlah meneguhkan pijakan kaki sendiri, tapi bagaimana bisa bertahan dan menjadi peneguh bagi orang-orang yang kita sayang. Insyaallah yakin bahwa Allah tak pernah meninggalkan hamba-Nya, tapi jejak-jejak kesedihan mau tak mau memang harus kita lewati dan rasakan selama berpijak di dunia. 


Idul Fitri ala Rasulullah pada anak-anak mulia


Jika di Ramadan insyaallah banyak para dermawan dan hati-hati yang Allah ketuk dengan kemurahan hati, maka lebaran atau Idul Fitri pun tetap menjadi waktu terindah untuk semua, termasuk untuk anak-anak istimewa yang dirindukan surga. 


Pernah kan kita mendapati cerita saat ada anak yatim piatu yang bersedih saat Idul Fitri. Di saat anak-anak lain bisa berbaju baru, bisa bergandengan tangan dengan para orang tua menuju tempat salat Ied dan tersungging senyum di wajah. Saat itu Rasulullah memuliakan sang anak dengan memberikan hadiah istimewa sekali, dengan menjadikan beliau sebagai ayah bagi sang anak dan bunda Aisyah sebagai ibunya juga. Masyallah. 


Saya ingin meneruskan tulisan ini dengan hal-hal yang bisa kita lakukan untuk para anak mulia tapi rasanya hati belum sanggup. Teriring doa-doa untuk para anak mulia dan keluarga mereka, semoga Allah berikan kemuliaan dan penjagaan terbaik di dunia dan akhirat. 


Ayo kita perbanyak syukur dengan mencintai keluarga yang Allah amanahkan dan mengajak keluarga kita berbagi. Ramadan belumlah usai, yuk kita lapangkan hati kita dan semua orang. ❤




Posting Komentar untuk "Sentuhan Kesyahduan dalam Ramadan"