Cilukba di Telaga Refleksi Buncek 4

 

Refleksi di Telaga Buncek 4


Memilih bayangan atau kenyataan? 

Kalau tentang kehadiranmu yang menentramkan sih milih kenyataan ya, Mak, tapi kalau kenyataan itu tidak mengenakkan mending milih enggak ngalamin ya engga sih? 🤭

Fix, anggap saja perjalanan para ulat penjelajah hutan buncek 4 ini semuanya menyenangkan yaaa. Tak ada bayang-bayang kelabu menyelimuti harapan, yang ada hanyalah bayangan peta belajar dengan segenap keteguhannya akan terus mengejar kita. Nah, kan jadi membayangkan si peta belajar itu jadi bisa terbang dan selalu hadir ke mana pun para ulat itu berada. Namanya juga bayangan kaaan?

Lalu ngapain kita di telaga refleksi? Tentunya selain menimba air, bermain air, yang utama adalah untuk berkaca, gaees! Di hutan kan tidak ada kaca kecuali cermin ajaib di legenda Snow White yang dibawa-bawa (eh sampai dibawa ke hutan engga sih? Iyess aja deh ya).  Ini nih hasil cilukba-ku dengan air di telaga, boleh ya nanti tinggalin komentar di sini.




Bongkar keranjang tahap ulat


Begini hasilnya bongkar-bongkar isi keranjang di telaga refleksi. Untuk peta belajarku kemarin kuberi nama "Magical Story" ala Viana, jadi semua hal yang magic-magic berkaitan dengan fotografi yang ingin kudalami di hutan.

*mantap deh ya gamifikasinya, kita belajar di hutan, lho sambil membayangkan si ulat kecil menenteng kamera yang didapat dari "pakeeett!" melalui ekspedisi para peri kurir. 😂 Betapa majunya hutan kita ya, kan? 


Haii, isi keranjangku!

Jawab " Haii juga dong."

"Unboxing" barang-barang yang berada di bakul itu menyenangkan. Seperti halnya saat bongkar isi paket gitu, ada perasaan senang meskipun kita sebenarnya sudah tahu apa isi di dalamnya, itu kalau kita yang memesan sendiri, sih.

Memisahkan antara makanan utama dan camilan, makanan utama adalah hal-hal yang masuk ke peta belajar, sedangkan camilan adalah yang tidak termasuk di panduan pilihan belajar. Oya hadiah juga termasuk dalam pemilahan, dan aku juga memasukkan hajatan keluarga kemarin ke dalamnya juga.

Alhamdulillah menemukan daun-daun yang lezaaat di hutan. Semuanya enak dengan rasa masing-masing, kayak daun mint tentu beda dengan rasa daun kemangi atau daun basil. Judulnya lalapan ulat yaa karena ulat yang ini nih sukanya yang segar aja biar tidak usah memasak yang bisa membuat polusi hutan. Huhu kasihan negeri yang banyak oksigennya ini karena kemarau dan kekeringan akhirnya banyak hutan dan lahan yang terbakar. Semoga ujian ini lekas berlalu yaa.

Pemilahan keranjang tahap ulat buncek 4

Pemilahan keranjang tahap ulat buncek 4

Ubek isi keranjang tahap ulat buncek 4


Keriuhan Kekhusyuan di telaga

Hihi, semua ulat pada bongkar muat dan memilah-milah. Kalau pun misal ada keramaian bisa jadi itu adalah suara klontang-klontang dari bawaan kami. 

Di tahap kali ini bisa dibilang adalah "unlearn" pada masa ulat, sebab kami tidak diminta untuk makan tetapi menganalisa makanan yang telah kami kumpulkan dan dapatkan.


Pantulan bayangan di telaga refleksi


Hasil dari cilukba adalah alhamdulillaah ternyata masih lebih banyak isi makanan utama dibandingkan camilan. Ah, syukurlah ini sesuai dengan misi menghindari kegemukan belajar jika malah lebih banyak ngemil dibandingkan belajar, eh makan besar. Kadang-kadang kalori di camilan justru lebih besar kan meski terlihat itu makanan ringan, sebut saja seblak, mie, cireng, cilok, bakso, batagor, siomay, dimsum, es oyen, es doger, es pisang ijo, aduuuh banyak sekali kang jajanan masuk hutan.  

Sebagai tipe pencinta gambar dan foto aku lebih menyukai model sumber ilmu berupa visual atau audio visual. Lebih mudah mencerna bahasa lewat mata baru turun ke hati dibandingkan mencerna dengan mendengarkan saja. Bukannya cinta juga turunnya dari mata dulu baru ke hati?

Harapannya dengan adanya cinta bisa lebih mudah untuk belajar, membumikan ilmu dan menyenangi praktiknya nanti. 

Sayangnyaa di hutan ilmu pengetahuan ini aku belum menemukan semua daun yang kusematkan di peta belajar, jadinya kemarin mencari di luar hutan (dengan pemesanan paket sih jadi engga ribet kalau harus berjalan sebagai ulat, hihi).

Sebenarnya di belantara terdapat buanyaaaaaaakkkkk ilmu, tetapi selain misi sendiri untuk mencoba fokus pada poi juga karena ada pesan dari peri agar kita tetap berpegangan pada peta belajar. Yaa kalau misal kita belanja sudah ada senarainya kan lebih enak dibandingkan jika harus belanja tanpa daftar. Bisa kalap, bisa terlewat apa yang sebaiknya sesuai kebutuhan atau sesuai keinginan. 

Senangnya menjadi satu dari ratusan ulat penjelajah jenggala tuh alhamdulillah di fase pertama setelah menjalani sebagai (seorang?) telur seisi hutan sayaaangggg banget. Peri-peri hutan yang baik, teman-teman yang lucu dan perhatian, alam yang indah (jadi bisa bermain imajinasi), dan terutama terima kasih untuk diriku yang sudah mencapai tahap ini. 

Namun, di antara capaian ini aku merasa ada yang harus ditingkatkan lagi yaitu tentang pengaturan waktu. Kemarin-kemarin bisa menjadi lebih awal mengerjakan misi jika berhubungan dengan teman ulat, kasihan gitu kalau misalnya mereka menjadi telat gara-gara kita yang terlambat menyapa atau memberi hadiah, juga membuat potluck. 

Tentunya kita engga bisa terus bergantung dengan kondisi ini kaan? Aku merasa agak lambat jalannya untuk menyelesaikan misi karena memang tipe perfeksion hiks, model yang begini suka susah ya kalau merasa kurang pas ini, itu dan begini begitu. Selalu saja merasa ada yang kurang, walaupun sudah menyicil mengerjakannya. Sepertinya tak ada lagi strategi di etape berikutnya selain menurunkan standar kepantasan dan menganggarkan waktu yang lebih banyak. Masyaallah berasa banget waktu itu sangat berharga dan benar-benar mahaal, jadi harus benar-benar membuat RAWV alias rancangan anggaran waktu ala Viana. ☀️

Selain itu juga karena energi yang ada terbagi ke sana ke sini terutama di dunia virtual. Sudah terlanjur mengambil peran dunia maya ini, mungkin nanti harus mengevaluasi kembali bagaimana sebaiknya. Untuk keluarga dunia nyataku, alhamdulillah terima kasih ya sudah banyak mendukung bunda. 🥰


Rasa menjadi ulat buncek 4


Alhamdulillah sampai tahap ini senengggg bisa bekerja sama terutama dengan diri sendiri. Berdamai dengan segala kondisi, berlarian mengejar matahari yang seolah semakin cepat tenggelam dan terbitnya. Meskipun semua sesuai dengan tahapan misi diri, tetapi masih belum puas karena ada spot-spot yang harus direlakan untuk tidak diangkut dan ditinggalkan. Semoga jalan di depan lebiiih bisa sesuai harapan dengan standar kepantasan ala aku yang lebih sederhana.

Meskipun jalan tahap selanjutnya masih samar-samar, masih berbayang, tetapi bayangan itu semakin menguatkan untuk sebuah kepak sayap nantinya. Ini adalah hutan kupu-kupu, tempat para caterpillar nantinya akan bermetamorfosis menjadi makhluk yang cantik. 

Mungkin bayangan di depan tidaklah tergambar saat ini, akan seperti apa medannya, bagaimana jurangnya, seperti apa keindahannya, sejauh apa tapak yang harus terlalui, seberat apa tantangannya, semoga Allah berikan kemudahan. Aamiin

Menyederhanakan harapan itu salah satu meninggikan nilai diri untuk lebih peka pada hal-hal kecil yang berserakan namun selama ini terabaikan. Yakinlah hal-hal receh yang selama ini tidak terhiraukan bisa bersinar laiknya mutiara dengan kesederhanaan hati kita. (Viana Wahyu)



Posting Komentar untuk "Cilukba di Telaga Refleksi Buncek 4"