Rencana Bermain dan Memainkan Rencana (Cerita Kepompong Buncek 4)

 




Sabtu harinya ngapain? Anak-anak tertawa saat bundanya tahu sedang jadi "kepompong" dengan menempel kalender pergerakan pupa. Hari ini "emak kepompong" sedang menjalani hari kedua dan seperti di peta belajar, akhir pekan adalah saatnya belajar bersama keluarga, bukan untuk secara khusus menggelar studio odong-odong yang biasanya selalu mengeluarkan buanyaaaaak properti nih. 

Apalagi hari Sabtu begini adalah harinya anak-anak ekskul. Mereka tidak mau libur masyaallah semangaatnyaa. Maka semangat itu menular juga (atau mereka tertular dari emaknya) ke emaknya yang masih menjadi emak yang anter-anter anak-anak ke sekolah. Ternyata ada banyak rencana yang terganti-ganti dan di luar dugaan.

Jadi acara memotret kita eehh belajar memotretnya hari ini seperti apaa?


(Rencana) Memotret outdoor

Sebenarnyaaaa Sabtu ini tuh merencanakan untuk bisa keluar kota hari Jumat sepulang sekolah anak-anak, tapiii ternyata paksu harus dinas luar jadi gagal deeeh rencananya. Padahal saat itu ada acara kakak kelas tentang literasi juga, sudah rencana juga untuk mau memotret beliau daaan yang pasti mau motret juga lingkungan di lokasi acara.

Ya sudah deh, hidup memang harus lapang dada untuk menerima dan mengubah rencana. Jadi emak berencana mengganti acara keluar kota dengan mengajak mereka ke lokasi healing alam yang dekat dengan sekolah anak-anak. Meski tidak bisa memotret kakak narsum dan keluar kota, minimaaal bisa memotret anak-anak deh. Gituuu deh rencana emak yang kedua.

Eeehhh, ternyata masyaallah setelah mengantar anak-anak, paksu ngabariin kalau sudah perjalanan balik dan tidak jadi melanjutkan kerja tetapi langsung ke rumah. Waaah bahagianya masyaallah hati emak, berarti bisa bertemu ayahnya anak-anak lebih awal dari jadwal.

(masyaallah ya ini sudah rencana ke berapa hihii)

Jadinyaaa pun alhamdulillah suami datang sebelum emak pergi menjemput anak-anak. Namun menjadi gagal deh mau motret masnya yang memanah. Dari sekolah masnya menuju ke sekolah adek.

Usai ekskul fun Englishnya, adek malah ada insiden sempat terjatuh saat bermain-main dengan teman dekatnya, bestie lah istilah anak sekarang tuuuh. Namun, masyaallah masih teteeep aja maiin dan mengulang lagi larinya. 

"Ah, adek mah lupa Bun sama sakitnya kalau sama temannya." kata masnya.

Iya memang demikianlah anak perempuan sebagai bungsu itu. Saat bersama temannya tentu mah tidak akan menjadi anak yang manja apalagi ngalem, padahal masyaallah ya kalau di rumah yaaa apa adanyaaa gitu ngalemnya.

Berhubung ada ayahnya, jadi acara healing alamnya pun batal juga. Nah kan, masyaallah ini di luar ekspektasi semuaaa. Kami langsung pulang saja ke rumah.



(Hasilnya) Memotret Outdoor

Jadilaaah akhirnya memotret saja di rumah, mau ngajak paksu keluar sebentar jalan-jalan berdua gituu tapiii beliau sedang ada kerjaan walaupun dikerjakan di rumah. Mau keluar tuh ya juga panass bangeet dan mager biasanya kalau sudah di dalam rumah.

Apalagi kondisi udara di kota kami sedang tidak baik juga. Barusan juga ada himbauan untuk kembali mengenakan masker di sekolah anak-anak. Sedih sih yaa, saat beberapa hari ini melihat langit, tetapi memang langit tidak tampak jernih, Padahal sejak dari kecil dulu seriiiiing menatap langit yang baik hati karena apa yang tidak ada jawabannya di bumi, justru menemukan ide dan jawaban dari langit. Truuus, anak-anak pun juga suka ketika diajak emak untuk berimajinasi dengan langit. Menemukan awan-awan dengan bentuk unik dan juga bakal berubah-ubah dalam waktu yang tidak lama.

Memotret langit pun juga menjadi hal yang menyenangkan sekaligus menenangkan. Langit itu memiliki warna sesuai waktunya. Paling suka saat memotret pagi hari atau senja sih (tidak secara spesifik lantas menjadi anak senja karena vi suka semua rasa di langit, tidak hanya senja saja, hihii). Uniknya lagi langit itu selaluuu punya cerita deh, bayangkan sudah berapa banyak bentuk awan di tempat yang sama tiap harinya? Bahkan warna gradasi langit dengan semburatr awan pun tidak akan pernah berada di tempat yang sama dengan model yang sama.

Huwaaaa kok rasanya jadi pengen bikin akun khusus tentang langit ini yaaa, gimana? Mendukungkaah? Jika langit bisa bicara kayaknya berpuluh-puluh cerita tiap harinya yang bakal diceritakannya. Ditambah lagi keberadaan langit di atas sana yang seolah menjadi saksi dari semua cerita di bumi.

Hal yang paliiing menyenangkan saat memotret outdoor itu adalah kepraktisannya. Tidak perlu mengoprek printilan untuk menjadi sebuah foto, hanya memerlukan sudut pengambilan gambar, ide yang tak biasa meskipun obyeknya istimewa.

Nah, kembali ke pemotretan akhir pekan nih yaa, akhirnya emak memotret bunga saja lah yang bisa dipotret. Untuk bunga sendiri adaaa lho bunga yang sangaaat-sangat vi favoritkan, yaitu tuliip! Ngarep bangeeet suatu saat bisa ketemu kebun tulip di Turki, Belanda, atau mana sajaa asal negerinya aman dan baik-baik orangnya deh. Pernah siiih memotret tulip beneran, baru 2x sih. Tulip berwarna jingga dan pink. Lucu bangeet mereka itu akan tegak kelopaknya saat matur, daan jika sudah beberapa hari maka kelopaknya akan melemah dan terlepas dari tangkainya.

Helai kelopaknya lembuut dan daunnya seperti belakang daun kana (ah ini daun masa kecil di rumah dinas bapak yang dikelilingi sawah), semaca kayak ada beludrunya gitu, lho. Batang bunganya tebal mirip batang daun kana juga. Alhamdulillah sudah terobati rasa penasaran ingin berjumpa si bunga tulip.

Untuk properti pemotretan pun vi menyukai bunga sebagai pelengkap, tapiii kadang juga bunganya sebagai hero. Kelihatan makin maniiiis jika ada bunganya. Tidak ada bunga yang spesifik harus ada sih, tapi alhamdulillah di rumah ada beberapa bunga yang halal untuk dijadikan properti. Namun, vi lebih suka bunga kecil-kecil kayak peacock atau aster gitu biar tampil lebih imut.

Dulu pernah ada ilmu dari fotografer senior bahwa bunga sebaiknya tidak selalu dijadikan pemanis sebuah foto. Harus diperhitungkan apakah bunganya masuk ke dalam tema, misla di kafe dan ada vas bunga, okeeelah itu, atau misalnya makanan yang memang ada garnishnya yaitu edible flower tuh yang bisa dimakan, atau memang bunganya adalah sebagai salah satu bahan dalam pembuatan makanan, misalnya dalam pecel kembang turi (duuh ini mah favoriiit), atau tumis bunga pepaya, maka itu saahh bangeet kalau dijadiin hiasan. Saat itu seniornya bapak-bapak siiiih, tapi boleh juga ya logika dan pesan beliau. 

Jadilaah untuk kali ini vi memotret bunga juga. Sebenarnyaa agak nyambung engga sih yaa jika dikaitkan dengan feed sosmed? Mengingat vi juga seneng menata feed (atau malah rempong sendiri? xixiii).


Perasaan dan pelajaran kepompong

Alhamdulillah merasa excellent dengan pencapaian hari ini, dengan suasana hati hari ini. Meskipun banyak rencana yang terganti-ganti, bongkar pasang ide dan rencana, tetapi masyaallah tabarokallah tetap senang, selain juga karena paksu sudah di rumah ya, alhamdulillaah.

Untuk hari ini pun alhamdulillah belajar untuk tidak tergesa-gesa, pass banget lho ini dengan catatan kaki di Quran yang vi baca. Harus mempersiapkan lebih awal dan matang agar hasilnya lebih tepat sesuai harapan dan rencana. Kita memang hanya bisa berencana dan berusaha agar rencana berjalan sesuai yang kita tuliskan atau citakan, tetapi ada Allah yang menggenggam segala rencana dan khususnya waktu pun berada di tangan-Nya.

Secara pembelajaran, memotret outdoor memang memerlukan waktu yang lebiiiiiihhhhh super ringkas bahkan engga perlu persiapan penggelaran lapak. Bonusnyaa adalah healing dengan alam. Namun, sepertinya perlu pendalaman agar bisa menjadi foto yang estetik seperti bayangan vi. Insyaallah masih ada hari esok. Semangaaattt, kepompong!



Posting Komentar untuk "Rencana Bermain dan Memainkan Rencana (Cerita Kepompong Buncek 4)"