Featured Slider

Puisi Rindu untuk Bapak




Sugeng, bapak
Bagaimana kabarnya?

Aku yakin Allah akan menjagamu
dengan cinta-Nya di sana

Namun aku tak yakin dengan hatiku di sini
yang selalu tak pernah usai
dan tak akan pernah selesai
untuk merindumu di sisi

Lelah Pejuang Peradaban





Perempuan kesayangan nan mulia itu, membiarkan telapak tangannya yang lembut tergurat-gurat oleh penggilingan gandum. Telapak kakinya mengiringi segala kegiatan kerumah tanggaan yang ia lakukan sendiri tanpa asisten.

Memilih hidup bersama laki-laki yang ia tahu tak berlimpah harta, sama sekali tak jadi masalah baginya. Ketika pengantin baru dengan peraduan yang terbuat dari kulit biri-biri, berbantalkan sabut tamar, dan keseharian dengan perut yang tak pernah kenyang, tetap membuatnya cinta pada sang suami. Bahkan mahar dari suaminya, ia hadiahkan kembali pada lelaki kesayangannya itu.

Namun, tetaplah ia memiliki hati sebagai perempuan biasa. Hingga suatu ketika, akumulasi keletihan pada tubuhnya mengantarkan langkah kakinya menuju sang ayah!

Apa yang terjadi?

Episode "Pada Suatu Hari" Bapak



Mungkin kita tak sadar, ulang-ulangan yang kita alami akan menjadi kenangan yang amat dirindukan di saat kita telah menyadari masa tak akan terulang (Viana Wahyu)

Pada suatu hari,
Aku pernah melontarkan sedikit protes pada bapak, yang mengawali setiap kisah harian yang beliau ceritakan pada kami. "Bapak, masak pada suatu hari terus sih?"

Dan bapak hanya tersenyum. Sesekali berganti kata, sesekali tetap sama. Dan aku tak pernah memprotesnya lagi.

Karena sudah cukup seru mendengar cerita beliau padaku dan adek perempuanku. Meski itu pun cerita yang pernah diceritakan beliau. Cerita tersering ialah tentang Kancil, anak yang nakal.

Momen bercerita itu adalah momen kami semua berkumpul di satu tempat yang sama. Ketika bapak bercerita pada dua anak gadisnya, sedang ibu menyiapkan pisang goreng atau camilan apa pun yang membuat keseruan itu semakin hangat.

Satu Niat dan Seribu Alasan



 Foto by  Viana



Satu Niat Memiliki Seribu Alasan untuk Bersegera Melakukannya atau Terus Menundanya (Viana Wahyu)

Broken the Limit!

Sebab nyatanya faktor X yang membuat kita susah berjalan, susah fokus, susah menggapai mimpi itu disebabkan oleh diri kita sendiri. Sehebat apapun sekolah atau kelas-kelas pengembangam diri yang kita ikuti, motornya adalah diri kita sendiri. Bila pun ada bengkel, maka montirnya adalah kita sendiri.

Apalagi emak-emak.. Ketika anak masih bayi, emak beralasan bayi sering menangis dan minta dibuai. Ketika anak beranjak sekolah, emak sibuk jadi madrasah bergelut pikiran dan hati saat banyak PR dan ujian sekolah. Ketika kerja, emak limit waktu untuk keluarga dan tak bisa membelai kata-kata.

Ah, ribuan alasan bisa terukir.
Indah teruntai
Tapi
Sejatinya kita kalah.

Biografi Semerbak sang Cinta Sejati




Sungguh indah cinta mengungkap cinta, cinta yang membuat yang kita cintai semakin kita cinta lewat tutur penuh cinta dari insan yang ia cintai...


Ketundukan pandangan seorang laki-laki muda yang dikenal sebagai Al-Amin, di hadapan seorang perempuan terhormat, businesswoman terbaik, dalam perbincangan tentang bisnis ke Syam, ternyata menggoreskan sebuah kesan yang mendalam pada jiwa perempuan anggun tersebut.

Selama perbincangan, sang lelaki senantiasa menundukkan pandangan. Dan hanya sekali seingat sang perempuan, bahwa lelaki di depannya sempat mengangkat wajahnya. Tampaklah seutas senyum yang menghias dari pemuda pemilik kening yang lebar, dagu yang lepas, dan pesona mata hitam serta gigi yang putih. Rekaman momen sesaat ketika ia menerima pendelegasian kafilah dagang dan mengucap terima kasih. Lalu kemudian kembali menunduk.

Ah, hatinya sedang mengagumi pemuda itukah?

Jejak Bersajak




Selalu ada jejak yang akan terpulas
dalam rindu yang memagut sendu
dan rindu yang meminang lapangnya hati
mengeja sekam seakan pualam
mengidung langgam berpeluk malam
menguat diri pada makam
jejakmu baru saja dimulai kawan...

Orang Tua Kita, Surga Cinta Kita

Bismillah




Mencinta adalah proses mengaktifkan segenap sistem diri untuk melebur pada yang kita cinta (Viana Wahyu)


Bila ada yang bertemu mertua untuk pertama kali saat akad nikah, maka aku salah satunya.

Pada tanggal 6 bulan 6 tahun 2009 adalah momen pertama berjumpa orang tua suamiku. Itupun aku baru cium tangan bapak dan ibu mertua usai aku sah menjadi menantu beliau.

Akad nikah kami berlangsung sepekan setelah silaturahimnya si mas ikhwan. 30 Mei 2009 di rumah Ngawi, si mas ikhwan ditodong bapak untuk melamar anak gadisnya ini. Padahal agenda si mas ke rumah sebenarnya hanyalah bersilaturahim. Ingin mengenal keluarga calon istrinya. Jadilah suami waktu itu hanya datang seorang diri.