Kereta Proletar



"dik, jemput mbak di Stasiun Gubeng ya.."

Bersama kuda besi aku menuju stasiun. Aku berhenti di tempat para penjemput di dekat tukang2 becak. Satu demi satu wajah2 lelah keluar dari stasiun yang hanya jadi tempat singgahnya pengangkut orang-orang itu. Wajah2 lelah dan sumringah bersama bawaan yang tak sedikit adalah gambaran dari orang2 yang tiba dari ular besi yang sering jatuh dari rel itu.

Akhirnya mbak yang kutunggu datang juga. "naik kereta apa tadi mbak?" ia menjawab "biasalah dik, kereta rakyat...hampir ga dapat duduk tadi.."

Kereta rakyat..tapi aku dan teman2 ku biasa menyebutnya kereta proletar. kereta yang benar2 gambaran masyarakat Indonesia. Ular besi yang menelan manusia hingga ke stasiun tujuannya, ular besi yang mungkin besinya sudah tua hingga sering terdengar berita ada kereta jatuh, ular besi yang kotor, pengap, sempit...Yah, kecuali jika ular besi itu "high class"

Dalam kereta proletar itu berbagai tipe manusia masuk. dan, hal yang sering membuatku tak nyaman adalah kehadiran pedagang yang tak pernah berhenti, pengemis yang aneh2, pengamen yang suaranya serak...

Aku fikir bagaimana orang2 itu bisa naik "strata" jika mereka mengamen, berdagang, meminta juga pada orang2 yang tak "high class"? Ya sama saja...ekonomi dari rakyat miskin untuk rakyat miskin...Ya, tapi akupun juga tak punya solusi buat mereka...Sebab jumlah mereka yang sudah bejibun di negeri paling kaya no 1 dari belakang ini...kalopun mereka pindah sasaran misal ngamen ke orang2 yang lebih kaya mungkin bisa lebih dapat penghasilan gedhe....(atau malah ndak dikasih saking pelitnya ya..? )

Yah, walau ndeso tapi orang2 desa itu solidaritasnya sangat tinggi..! Dan jika ditanya lebih bahagia mana orang kaya dengan orang desa ? maka orang desa akan lebih bahagia dibanding orang kota.

So, jika demikian memang tepat kenapa Indonesia ga pernah maju2....

Tidak ada komentar