Hipoksia Kelas Matriks di Pekan Ketujuh

Foto instagram Viana


Air beriak tanda tak dalam
Jika jiwa mak berteriak tanda harus menyelam lebih dalam ? πŸ˜„

Mak-mak classmates di matriks apa kabar ?

Masuk pekan ketujuh ini kok saya merasakan atmosfer hipoksia (kekurangan oksigen) ya di kelas ? Yuk bangun.. bangun.. jangan sampai pingsan, maaak.. perjalanan kita masih panjang. Sepertinya kita butuh piknik yaa ke alam desa pegunungan yang menenangkan hati dan bisa merefresh stok oksigen ketenangan di lobus jiwa kita.

Sebenarnya apa yang terjadi ?



Saya sebagai anak murid yang suka telat ikut diskusi kelas karena sering crash dengan waktu pembersamaan anak-anak hanya bisa mengira-ngira kondisi sebagian besar teman-teman pekan ini. Pada pekan ini kami masuk ke materi produktivitas sebagai gambaran dari bunpro, materinya seru (dan materi apapun selalu seru) yang membahas produktivitas dikaitkan dengan kemuliaan dan selalu dong tentang misi peradaban kita yang mau ga mau akhirnya membuat kita flash back pada jawaban-jawaban NHW di belakang.

Kemarin mak fasil menyampaikan bahwa pencapaian pemahaman hingga pekan ini memang bergantung pada kondisi dan peta pemikiran masing-masing dalam memahaminya. Hanya saja ketika kelas kami yang biasanya selalu ramai ketika diskusi mendadak senyap tanpa ada pertanyaan yang masuk ke korming itu menandakan apakah ?

Apakah kami sudah sebagian besar paham ? Atau malah sebagian besar kami (atau malah semuanya πŸ™ˆ) pada bingung ? Hihi..

Kalau dari yang saya coba analisis dari masalah ini kemungkinan karena kita beranggapan bahwa step saat ini makin sulit. Materi semakin kompleks. Istilah ajaib semakin bermekaran. Dan akhirnya kita memanen kebingungan karena merasakan kemajemukan perasaan maupun pemikiran dalam waktu yang singkat.

Merasa ga sih perasaan baru kemarin kita mengumpulkan NHW daaan sekarang sudah ditagih NHW lagi πŸ˜† sedangkan bisa jadi ada di antara kita yang entah karena berbagai hal menyebabkan kurang waktu atau perlu waktu lebih lama lagi untuk belajar, melakukan pengayaan hingga benar-benar paham.

Saya pun sempat merasakan jeda kehampaan ini pada pertengahan pekan kemarin karena pada tiap pekan harus bolak-balik ke Jawa. Dalam perjalanan dan kesibukan di Jawa masih bisa sedikit menyisakan ruang untuk memikirkan NHW tapi eksekusinya itu yang seperti lari maraton dan akhirnya saya pun tersengal-sengal juga nafasnya.

Naaah kehampaan suplai oksigen ke otak ini yang harus kita push lagi agar kita bisa kembali optimal belajar di kelas, bisa semangat dan terus semangat hingga akhir sesi. Saya share yang kemarin saya lakukan untuk bisa kembali bernafas tanpa tersengal untuk menyelam lebih dalam di samudera ilmunya IIP

5 Tips Melepaskan diri dari Hipoksia (di kelas Matriks) ala Viana :

1. Piknik

Ini tidak terbatas pada terminologi kata piknik kebanyakan ya mak, tapi lakukan saja hal-hal yang bisa ngecharge kembali semangat kita. Bila tidak alergi hihi, mak bisa buka kembali NHW 2 apa saja aktivitas yang membuat mak bahagia. Maka lakukan. Bikin kandang waktu efektif seperti NHW 6 pekan lalu.

Tapiii kalau pengen sejenak lepas dulu dari NHW (hihi padahal namanya sudah dibuat jadi nice tapi kalau pikiran lagi suntuk yang nice (baca nais aja ya ^_^)  pun bisa jadi bikin nangis ya mak heuuu). Maka jauhi dulu NHWnya. Lakukan kesenangan mak hingga kembali bahagia. Hingga hormon oksitosin kembali terbangun pada diri kita. Saya pernah menuliskan aliran rasa tentang oksitosinasi. Ah tapi kan maunya tidak nyebut NHW dulu yaaa πŸ˜„πŸ˜… Ya sudah mak pembelajar pasti bisa tahu dan memahami kondisi jiwa mak untuk hal-hal yang membahagiakan mak yaa ⚘.

2. Fokus pada diri sendiri

Biarlah dunia sosmed dengan hingar bingarnya, abaikan komentar-komentar miring orang tentang kita, berhentilah kepo kehidupan orang. Kadang sosmedlah yang membuat kita jadi abai pada fitrah dunia nyata kita. Keluarlah. Dunia nyata seringkali lebih indah dari sosmed loh. Tuh, pak suami yang duduk di sebelah mak ngasih bunga mawar loh.. tengoklah suami dan anak-anak kita. Merekalah dunia nyata kita. Merekalah sebenar-benarnya dunia kita.

Fokuslah bahwa kita adalah makhluk terbaik yang diciptakannya dengan sebuah tugas khusus yang masing-masing kita emban dalam pencarian/ penaklukan tantangan pada misi spesifik penciptaan kita.

Ah lagi-lagi menyangkut kata-kata ajaib di kelas ya. Hihi iyaa dong mak, ga bisa lepas itu, karena kita sedang sekolah kan, sedang mematri semangat bisa lulus matrikulasi ini. Fokuslah pada kebahagiaan mak dengan yang sudah mak cita-citakan dan mak bangun.

Selesaikan dulu urusan kita dan kosongkan dulu gelas kita agar hikmah bisa masuk leluasa pada hati dan pikiran kita.

3. Take a deep breath

Pejamkan mata mak, bayangkan tempat terindah kesukaan mak, tarik nafas panjang dan hembuskan pelan-pelan. Ulangi lagi hingga paru-paru kita kembali terisi dengan kesegaran.


Lalu tersenyumlah 😊

Apakah sudah mendingan ?

Bila belum mari kita lakukan step selanjutnya

4. Berdoa dan berdua dengan-Nya

Waktu inilah waktu terbaik untuk menghamburkan curhat kita pada-Nya, melabuhkan segala kehampaan kita pada-Nya. Bila perlu menangislah mak, agar terasa lebih lega. Iringi dengan istighfar.

Kalau saya, jika kondisi jiwa down, galau, baper, biasanya karena menurunnya amaliyah. Maka tak ada lagi yang bisa dilakukan jika ingin kembali bersemangat yaitu dengan memaksa diri untuk bisa kembali beribadah yang menenangkan. Karena sejatinya kita hanya ngontrak di bumi-Nya ini. Kalau kontrak kita selesai ya kita harus membayarnya, sedang kita tak punya apa-apa selain hanya amal kita.

"Allah ingin lebih dekat denganmu, mak.. Allah ingin mendengar tangisanmu, mak.. " Saya pernah dapat taushiyah seperti ini ketika galau. Ya Allah, ternyata Allah rindu kita. Mungkin kecenderungan pada aktivitas-aktivitas dangkal kita yang akhirnya membuat kelelahan dan kehilangan semangat juang.

Semoga Allaah mudahkan kita semua bisa terus semangat dan saling menyemangati ya mak πŸ˜™

Kita telah memilih berada di kelas Matriks ini dengan sadar sepenuhnya tanpa ada paksaan pihak manapun untuk mengikutinya, yakin ga kalau hal itu termasuk skenario-Nya ?

Kalau iya teruskan, hayuk kita berjuang bersama, mak.. hayuk kita menyelam sama-sama.. menyelami samudera kesabaran untuk terus belajar hingga pekan kesembilan.. menyelami diri kita sendiri.. menyelam untuk kembali ke daratan dengan semangat dan ingat lulus serta wisuda bersama yuukkk.. !

Kalau jawabannya tidak, kembalilah bertanya pada diri mak apa yang sebenarnya mak cari ? Kata mak walas, lihatlah wajah suami dan anak-anak kita terutama saat mereka tidur. Waktu akan terasa demikian cepat berlalu loh.. Kalau kita tidak berubah menjadi lebih baik sekarang apakah kita masih ada waktu lagi ?

Poin terakhir untuk bangkit nih...

5. Sederhanakan impian

Mungkin kita punya mimpi yang indah, punya cita-cita yang perfect yang kita bangun dari benang-benang NHW. Tidaklah salah selama kita merasakan bahagia untuk menaiki tangga menujunya. Tapi jika impian dan cita-cita indah kita hanya membuat mak terpaksa menjalaninya, tidak bahagia melakukannya dan meminjam istilah Ibu Septi, mak tidak berbinar-binar dalam mewujudkannya, mungkin mak perlu menyederhanakan kembali tujuan mak.

Menyederhanakan itu bukan menggampangkan, apalagi menyepelekan, tapi membuatnya jadi lebih sesuai realita. Adanya gap antara harapan dan kenyataan bisa menghadirkan masalah-masalah. Sederhanakan materi yang kita terima dengan kreasi kita, dengan imajinasi kita yang membuat kita lebih mudah memahaminya, bukan terbebani. Sesuaikan dengan tipe-tipe belajar kita dan maksimalkan dengan kesenangan kita dalam mempelajarinya. Dengan remake materi jadi peta pemikiran misalnya, bikin video pribadi berisi rangkuman materi, bikin catatan sambil berdoodle ria atau sekadar membaca ulang dan menemukan lampu otak kita menyala terang benderang tanda sudah terkoneksi dengan baik dengan materi, yeaaay.. ! Atau koreksi kembali barangkali adab kita terhadap ilmu ada yang kurang tepat sehingga cahaya ilmu belum sejiwa dengan kita.

Sederhana itu bikin mak bahagia, loh.. ingat kaaan ? Misalnya saat malam-malam anak sudah tidur dan mak bisa berdua dengan bapaknya anak-anak lalu makan mie instant bareng πŸ™Š (ini mah sayaaa) atau ketika anak kita bilang "makasih ya bun, masakan bunda paling enak sedunia." Duh, rasanya lapar bunda sudah menguap nak dengan kalimat ajaibmu. Padahal hal-hal contohtadi receh banget kan, tidak perlu cost dan tidak perlu menghabiskan tenaga tapi membahagiakan.

Duduklah mak, ambillah yang receh-receh yang bertebaran di kehidupan kita. Yang receh, yang remeh, meskipun tampak sederhana sejatinya itu membahagiakan kita. Bahagia itu sederhana, kan 😊

Saya sematkan sebuah kalimat penutup yaa yang saya temukan ketika merenung NHW latihan dulu 😊

Duhai emak, kurasa engkaulah barisan calon penghuni surga yang sangat dicemburui

Ketika kau baru tersadar bahwa dunia sebenarnya berada di tanganmu


Allaah telah lebih dulu menundukkan surga di bawah telapak kakimu


(Viana Wahyu)



Sehebat atau se-spektakuler apapun sekolah kita sebagai wasilah, eksekutor perubahan paling dahsyat itu ada di tangan kita sendiri.
Berubah atau kalah.. !

Semangat ya mak-mak saaay...
Sudah ketemu belum receh kesederhanaanya  ? πŸ˜πŸ™Š





Tidak ada komentar