Roti Maryam dan Domain Kerinduan

Foto instagram viana


Kadang kerinduan datang bersama ketukan-ketukan sensori perasa yang mengecap manisnya serat-serat kenangan ke bilik peristaltik...

Mau bicara roti apa kerinduan nih ? Keduanya aja yuk biar seru dan jadi simbiosis mutualisme di lorong hati.




Nama roti yang jadi foto pendukung tulisan ini ialah roti Maryam yang ketika saya telusur mesin pencari pun tidak diketahui pasti mengapa dinamakan roti Maryam. Entah yang bikin pertama kali atau yang membawa bernama Maryam tidak ada tulisan yang dengan jelas dan valid membahasnya. Sering sih ya nama di Indonesia itu seperti ini, nama turun temurun saja yang berkisah. Ada pula sebutan roti Cane, roti Canai, roti konde (karena bentuknya melingkar mirip konde emak-emak ya hihi) prata, bahkan piring terbang atau flying bread di bumi Eropa sana.

Pertama kali mengecap roti Maryam ketika masa mendaki bukit dan lewati hutan terus camping di gunung, jaman masih kuliah duluu. Teman-teman dibagi kelompok untuk memasak dengan bahan makanan yang kami bawa. Eh dibawa panitia ding. Tapi status saya saat itu peserta merangkap panitia hihi. Tapinya ketika sesi roti Maryam ini keluar bukan waktu kelompok saya memasak tahu-tahu sudah terhidang sebagai jamuan pagi kami.

Sebuah kenikmatan luar biasa ketika bisa makan roti hangat saat camping, begitu terhidang di nampan per kelompok langsung dieksekusi tanpa toping gula atau semacamnya pun sudah nyusss, atau karena gaster-gaster kami yang sudah merindu melakukan gerakan peristaltik.

Dan alhamdulillaah ketika menikah, suami pun juga suka roti Maryam. Jadilah kami pun sangat antusias ketika kami bertemu dengan dokter yang keturunan Arab dan merekomendasikan sebuah rumah makan yang oke punya khas kuliner Arab namun ramah untuk lidah orang Indonesia yang merekomendasikan Sate Tegal Abu Salim. Bisa dicek keberadaannya yaa, semoga kapan-kapan saya bisa posting review di sana 😊

Dari sisi kandungannya roti Maryam ini banyak seratnya berbeda dengan roti lainnya yang menurut para ahli gizi sudah banyak mengurangi atau menanggalkan serat dalam pembuatannya. Tentulah kita tahu ya bila serat itu dibutuhkan dan baik untuk tubuh.

Selain itu dalam pembuatan roti Maryam ini (saya sih belum pernah bikin πŸ™Š) tidak menggunakan ragi, berbeda dengan roti lainnya. Yang semakin menambah nilai roti Maryam ini di mata saya dan suami yang sedikit-sedikit kami berusaha makan yang lebih baik pilihannya.

Dari mana pun asalnya makanan yang masuk dalam sistem gastrointestinal kita, seringkali menerbitkan impuls-impuls kerinduan karenanya. Mencicip rasa yang serupa masakan ibu akan melenakan lintas pikiran kita pada masa kecil dan kenangan bersama ibu. Yang akhirnya ketika saya menempati posisi sebagai ibu pun merasakan bagaimana ketika anak kangen masakan emaknya ini yang baru sebatas jadi koki rumahan ala-ala (resep modifikasi dan resep utak atik πŸ™Š).

Kadang hanya melihat selebaran foto dokumentasi makanan ketika kami makan di luar sudah menerbitkan kerinduan jua, ini pun biasanya ada cerita emaknya mesti ijin dulu ke anak-anak dan bapaknya anak-anak untuk memotret dulu sebelum disantap yang tidak bisa banyak take karena pasukan sudah pasang kuda-kuda dan serangan udara dengan kata-kata menanyakan kapan kelar bun ? Hihi.. padahal baru satu take πŸ˜…πŸ˜„ . Ya sudah emak mengalah demi perdamaian dunia πŸ™Š

Sebenarnya ada banyak sekali titik-titik kerinduan yang terbesit pada tiap sudut diri kita, kehidupan kita. Hanya saja kadarnya memang ada yang sebatas membuat kembali teringat, kembali sesaat ke masa kenangan, tersenyum, bahagia ataupun terharu hingga batas bekerjanya kelenjar lakrimalis yang membuat berderai.

Dan endingnya antara roti Maryam dengan kerinduan ini apa ? πŸ™Š Bagi saya ketika kehidupan kita seperti serat-serat yang melingkar seolah saling melekat namun sebenarnya bisa diurai satu-satu itu sama halnya dengan kenangan yang saling bertalian satu sama lain. Melingkari dan terus mengikuti alur hidup kita. Selalu beriringan dengan kehidupan kita. Memberikan kekuatan pada diri kita dengan satu demi satu pertaliannya. Bahwa dalam diri kita ada banyak kenangan yang harus membuat kita maju dengan harapan di masa depan sebab kerinduan itu milik kita.

Domain kerinduan itu milik setiap orang, meski waktu bergeser sesuka hatinya namun kehidupan kita tak akan bisa lekang dari kenangan yang selalu memunculkan impuls kerinduan.

Di manakah rindumu ?

❤❤❤❤

Catatan kaki :

Peristaltik = gerakan mengunyah atau meremas seperti pada kerja lambung
Gaster = lambung
Gastrointestinal = pencernaan
Impuls = rangsangan
Lakrimalis = air mata (kel. Lakrimalis = kelenjar air mata)




Tidak ada komentar