sketsa kota mati

mentari masih sungkan
menyembul dari selimut bumi
kaki-kaki tanpa alas telah giat berjalan
memikul isi perut bumi
untuk isi perut anak-anak yang lapar
meringis dengan tatapan nanar

saat mentari tak lagi malu-malu
pedati masih berkeliaran di jalan kota ini
becak masih setia memenuhi emperan toko yang pemiliknya orang nonpribumi
bus beradu sambil mengepulkan emisi
sesekali sumpah serapah sopirnya menghiasi siang yang tak ramah ini
sedang pohon-pohon nan asri
berganti menjadi kavling iklan dan pabrik komisi

saat mentari kembali ke peraduan sunyi
di ujung langitNya yang sepi
manusia tanpa alas kaki
kembali menemui buah hati
memberi sesuap nasi
yang telah kelaparan setengah hari
berharap ada rizqi di esok hari
untuk kembali berangkat saat mentari masih sembunyi

sedang manusia berdasi
penat melepas otak yang dipenuhi
nafsu duniawi
dengan tarian para dewi-dewi
yang tunduk saat komisi
diselipkan ke sandang yang mini

sedang manusia yang takut Illahi
merayu sukma, bergelut rindu di hati
di rumah suci nan jauh dari polusi
di sudut kota yang kian mati ini
mati dari hati nurani

saat mentari nampak esok hari
apa yang akan terjadi?

Tidak ada komentar