Jumat, 11 Januari 2013

A Message for Ping, I dream U will be filmed ^^

Kita memang tidak tinggal di masa lalu, tapi ada harta terindah yang kita bawa dari sana, yang bisa kita ceritakan berulang-ulang sepanjang ruas jalan kita. (Ping)

Sebenarnya expired banget ya nulis reviu Ping baru tahun 2013, secara Ping lairnya hampir setahun yang lalu (sudah bisa apa engkau, Ping? Hehe). Padahal dapat novel ini lagsung dari penulisnya, gratis pula, plus tanda tangan dan kata-kata yang manis. Tapi sejak Ping mendarat dengan selamat di rumah, baru sempat mengabadikannya lewat foto, bikin reviunya malah tertunda dan akhirnya ketumpuk-tumpuk dengan kerjaan yang lain. Maaf ya, Ping...jadinya sekarang bikin jejak aja ya untuk dirimu.


Sebuah Kesan Sarat Pesan

Lewat tulisan ini akhirnya kupenuhi janjiku mengapresiasi novel ini pada mbak Brina karena ingin kembali membaca novel ini untuk sebuah misi ^_^ . Kali ini minta maafnya pada sang penulis, heuheu...

Kisah dibuka dengan prolog dari sudut pandang 'Aku' : Ping (orang utan). Tentang ia yang bersedih karena melihat banyak teman-temannya mati karena ulah keserakahan manusia. Hutan yang ia tempati bersama ibu dan kawan-kawannya semakin berkurang karena pembukaan lahan sawit yang hanya memikirkan keuntungan manusia. 

Peristiwa kelam yang terus membayangi dan menyesakkan hatinya itu membuatnya berkesimpulan bahwa bukan harta berharga yang dibawa dari masa lalu jika itu menyakitkan, namun luka. *ini asli mengutip kata-kata Ping. Jenius kamu, nak. 

Namun tentunya lebih jenius dalang yang 'menciptakanmu' yakni mbak Shabrina Ws yang memang telah lama bergelut dengan dunia fabel.

Bab berikutnya ditulis dengan sudut pandang 'Aku': Molly'. Nah yang menggarap sisi manusia ini adalah seorang yang piawai meramu kisah remaja yang ceria, yakni mbak Riawani Elyta.

Tokoh remaja itu antara lain: 

1. Molly, seorang gadis yang menyukai dunia satwa, dan suka menulis. 

2. Nick, seorang bule yang sangat peduli dengan konservasi satwa di Indonesia dan telah lama kontak dengan Molly membahas aneka satwa.

3. Archie, sahabat laki-laki dari zaman putih abu-abu; 

4. Andrea, adeknya Nick yang rela mengikuti sang kakak karena ingin menjadi orang tua asih orang utan.


Mulainya sebuah petualangan

Molly yang mendapat info kalau Nick akan ke Borneo untk observasi orang utan, segera mengiyakan tawaran Nick untuk melihat langsung orang utan di sana. Ia terbang dari Jakarta langsung menuju bumi Kalimantan. Di sanalah dia kembali bertemu Archie, sahabatnya.

Pertemuan Molly dengan sahabat lamanya, Archie tak berjalan mulus dan cenderung menyebalkan meski Molly masih tetap berusaha calm dalam emosinya. Archie dan ayahnya adalah pengusaha sawit terkenal di Kalimantan. Dan itu berarti Molly berseberangan dengan Arhie yang ingin menyelamatkan orang utan dan mempertahankan hutannya.

Ping dan Molly bergantian bercerita, jika di bab satu Ping yang bercerita, maka di bab dua Molly yang bercerita. Perbedaan dua sudut pandang dan dua dunia yang berbeda antara manusia dan hewan ini tidak membingungkan, kok. Malah terasa asyik. Bahkan aku saja sampai meleleh saat Ping yang bercerita.

Pendalaman karakter Ping benar-benar totalitas. Dari Ping kita bisa tahu bagaimana kehidupan orang utan, mulai dari cara membuat sarang yang cuma ditempati satu kali dan akan berganti pohon lalu membuat sarang yang baru, kita akan tahu bahwa ceruk di pohon pun bermanfaat buat mereka, mengenali ciri lolongan orang utan, aneka makanan yang berlimpah di hutan yang sebenarnya, pun termasuk emosi dalam raga orang utan. Mereka bisa bahagia, damai, sedih, menangis dan trauma atas kondisi yang mengguncang jiwa. Lewat tokoh Molly dan kawan-kawan pun kita seolah ikut berpetualang bersama mereka. Backpacker gratis lah pokoknya, mah.

Akhirnya aku nyatakan bahwa novel ini recommended banget. Di dalamnya ada banyak fakta tentang konservasi satwa langka di Indonesia. Bahwa kita yang paling banyak mendapat anugerah keragaman flora dan fauna, namun kita juga yang banyak merusaknya. Malah orang asing yang lebih peduli pada negeri kita. Aku saja ingin lho daftar menjadi relawan konservasi orang utan. Lihat friend di mba Brina tapi ga nemu info menjadi volunteer, hiks.

Pantas banget kalau novel ini diangkat menjadi film. Tokoh yang kuharapkan bisa berperan dalam ini adalah Maher Zain 😄 (ups lantaran di awal cerita Molly aku sudah terpanah lagunya "For the rest of my life"  Om Maher, hihi), Molly nya diperankan oleh Maudy Ayundya jika melihat postur yang dijelaskan di novel. Andrea diperankan oleh Kimberly Rider yang ceria. Dan Archie ... hmm enaknya diperankan siapa ya? Eh, satu lagi siapa yang mau memerankan Ping, orang utan kecil betina ? :D

Depok, 10 Januari 2013 : 24.00

:: Viana Wahyu ::

Tidak ada komentar: