NHW #1 Matrikulasi IIP Adab Menuntut Ilmu "Puzzle Kehidupan"

"Puzzle Kehidupan"

Tugas NHW #1
Oleh : Viana Wahyu





Hidup ialah kepingan puzzle...
Menyusunnya atau tetap membiarkannya terserak ialah pilihan kita
Tapi satu yang tak bisa kita pilih
waktu perlahan habis
dan sampai di manakah susunan puzzle itu ?







Kosongkan dulu gelasnya

Ketika kita menapakkan kaki di IIP ini kita sudah memiliki latar belakang masing-masing. Semuanya pasti emak-emak hebat yang ingin sama-sama mengasah kepekaan dan menyamakan frekuensi belajar agar jadi ibu profesional.

Karena kita adalah seorang ibu (dan calon ibu) sebelum jadi yang lain. Menjadi ibu itulah fitrah tertinggi kita sebagai perempuan. Fitrah kita adalah menjadi seorang ibu, madrasah untuk anak-anak kita, peretas peradaban dan pemakmur bumi dengan kalimat-Nya.

Jadi saatnya kita mengosongkan dulu gelas tabungan ilmu kita untuk mengisinya dengan ilmu-ilmu yang semoga bisa membuat jalan kita menjadi ibu profesional kian mudah, saatnya kita meramaikan IIP dengan gelas-gelas kosong kita (bukan dengan gelas-gelas pecah macam dialog film remaja ya, hihi).


Mengapa harus kenal adab dahulu sebelum ilmu ?
Ini jujur jadi pertanyaan menggelitik untuk saya, bukankah ilmu itu yang mengajarkan adab ? Tapi kenapa para salafus shalih memerintahkan kita untuk belajar adab terlebih dulu ?


Ternyata jawabannya dari materi IIP ialah karena Ilmu adalah syarat sebuah amal, adab adalah pembuka pintu ilmu. Barang siapa yang menimba ilmu karena ingin memperoleh ilmu tersebut maka ia hanya akan mendapatkannya namun ilmu itu tidak akan bermanfaat padanya. Sedang barang siapa menimba ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, maka ilmu yang sedikit pun akan sangat bermanfaat untuknya.

Naaaah.. kita lanjut ya ke ragam puzzle rasa untuk pemantapan pemahaman materi 1 ini..


Puzzle Pertama : Jurusan Kehidupan

Sungguh sangat ingin sekali di universitas kehidupan ini belajar banyak tentang berbagai keilmuan. Tapii ketika diminta hanya satu ilmu saja maka akhirnya saya revisi lagi, karena baru benar-benar menemukan feeling dengan gerbong IIP ini ketika selesai mengerjakan NHW#2 dan ketika bertanya pada mak fasil, diperbolehkan untuk merevisi. Yeaay akhirnya kita sedikit lakukan perombakan ya.

Akhirnya dengan bismillaah dan penuh sadar saya memilih Ilmu Asuhan Keluarga. Yang saya berharap nyambung dengan salah satu bagian dari ilmu akademik yang pernah saya tempuh yang namanya Asuhan Kebidanan Keluarga/ Askeb Keluarga.

Di dalam jurusan  Asuhan keluarga itu nanti harapannya bisa mencakup mata kuliah ibu profesional, ayah profesional, pendidikan anak-anak, manajemen finansial, cara mengolah prouktivitas bersama pasangan, ilmu-ilmu ibadah, kesehatan keluarga, manajemen kesabaran, manajemen waktu, manajemen mengelola rumah dan lain-lain.


Puzzle kedua : motivasi memilih jurusan

Bismillaah.. karena ingin lebih banyak belajar dalam proses pelaksanaan fitrah agar bisa menjadi keluarga produktif di dunia dan di akhirat. Menjadikan keluarga sebagai pilar yang kokoh untuk akhirnya bisa produktif di lingkungan sosial. Sebab bagaimana pun tiga amalan yang terus menjadi pendamping kita ialah anak yang shalih/ah, harta jariyah, dan ilmu yang bermanfaat.

Sebab menjalani pilihan sebagai emak-emak rumahan apalagi ketika Allaah telah memberikan kesempatan menjadi bidan sebelum dikaruniai anak, perlu banyak bekal untuk menjalani peran tersebut. Bukan hal mudah untuk bisa selalu sabar menghadapi kerumitan anak-anak, mengamalkan sedikit ilmu kesehatan untuk keluarga dan masyarakat, menjadi pendamping suami yang tangguh, semua butuh ilmu agar hati tetap selalu terjaga dan pikiran selalu waras.


Puzzle ketiga : Strategi Menimba Ilmu

Seperti halnya kehidupan ialah universitas, maka amat luas sekali jurusan kehidupan yang akan saya jalani. Long life learning. Pembelajaran seumur hidup yang tidak hanya selesai ketika kita telah menimba ilmu lewat sekolah, workshop, seminar maupun kuliah.
Sebab hakikat dari sebuah ilmu ialah pengamalan ilmu tersebut.

Maka dengan itu saya berikhtiar untuk menjalankan strategi dengan cara

1. Menjaga niat agar selalu dalam koridor yang diridhoi-Nya
Hal ini termasuk yang utama ialah ridho suami, karena kita adalah bagian dari keluarga dengan suami sebagai nahkodanya. Tak akan berkah ilmu kita apabila kita mengabaikan keridhoan suami. Ridhonya ialah surga kita.

2. Belajar lewat rutinitas kajian progresif
Belajar ilmu agama harus menjadi motor bagi keluarga. Agar terutama emak sebagai tonggak awal pencetak generasi adalah sebuah mortir yang penuh semangat, penuh kesabaran dan bukan pribadi yang baperan, penuh kelembutan agar bisa sinergi dengan pembagian peran bersama ayah dalam mendidik keluarga.

3. Evaluasi
Selalu melakukan mutabaah atau evaluasi berkala agar bisa mengetahui mana target yang sudah tercapai, hambatan yang menghalangi pencapaian, yang akhirnya bisa menjadi masukan dalam penerapan strategi.

4. Kekompakan bersama suami
Biduk rumah tangga ialah penyatuan visi misi yang berawal dari dua pikiran. Peran emak adalah sebagai guru, sudah seharusnya guru tetap harus berkoordinasi dengan kepala sekolah yaitu ayah agar langkah biduk selalu satu haluan dan terarah.


Puzzle keempat : perubahan perilaku berkaitan dengan adab menuntut ilmu

Mantap sekali puzzle terakhir ini, untuk mencapai goal diperlukan sebuah velocity atau kecepatan. Namun tak cukup hanya percepatan karena kita adalah hamba Allaah yang seperti kita ulas di depan bahwa ilmu memerlukan adab. Untuk itu saya memerlukan sinergi diri saya untuk bisa berlaku seperti :
1. Menjaga niat karena Allaah. Jangan pernah ada siratan pikiran dan lintasan hati untuk niat yang lain. Sebab kalau tidak selalu diluruskan niat saya rentan berbelok-belok heuheu. Ibadah harian harus lebih dimaksimalkan.

2. Ikhlas menimba ilmu. Tidak tergoda untuk tujuan-tujuan lain di luar goal, tidak riya, menjalani masa kehidupan menimba ilmu dengan kesabaran serta tetap tidak boleh ada baper atau over sensitif. Masya Allaah menjadi ibu itu memang tidak mudah. Pantaslah jika Allaah meletakkan surga di bawah telapak kaki ibu. Untuk itulah perlu selalu memantaskan diri agar layak mendapat kehormatan terindah dari Allaah tersebut.

3. Menjadikan semua orang, semua hal adalah guru. Dalam kehidupan ini semua adalah guru kita. Terutama pada anak-anak, halnya kita bukan semata mengajar mereka, namun dengan fitrahnya mereka sebagai anak-anak pun adalah guru untuk kita. Bagaimana 'kepintaran' perilaku anak-anak bisa menjadi guru kesabaran kita (bukan kecerewetan kita), bagaimana bersabar ketika anak-anak sakit dengan memperlakukan mereka sebagai guru saya dalam mengamalkan sedikit ilmu kesehatan (bukan menjadi emak cepat panik), dan bagaimana menjadikan setiap masukan dari suami khususnya adalah sebagai guru yang mengajarkan sikap keluwesan agar tidak menang sendiri (agar tidak menjadi istri cengeng), dan lain-lain.

4. Belajar lagi tentang perpustakaan baik berupa pustaka cetak buku-buku maupun pustaka online dan berikut perlengkapannya. Di rumah alhamdulillaah ada banyak sekali buku-buku cetak untuk saya, suami dan tentu anak-anak. Saya ingin kami bisa lebih memiliki adab pada sumber-sumber ilmu. Terutama untuk anak-anak agar bisa berlatih memperlakukan buku dengan baik (dan saya pun juga bisa terus sabar menjadi pustakawan yang baik hati). Dan salah satu keinginan terbesar saya ialah bisa benar-benar menjadikan rumah sebagai perpustakaan bukan hanya untuk anak-anak kami, tapi juga bisa meminjamkan untuk anak-anak lain atau mendonasikannya nanti.

5. Rajin berilmu di majelis ilmu online ataupun offline. Membangun komunitas dengan sesama penimba ilmu agar bisa saling melengkapi. Saling memberi manfaat tanpa merasa paling bisa, tanpa meminderkan satu sama lain, salah satunya di IIP ini.

6. Fokus. Selama ini fokus adalah PR terberat saya untuk bisa terus semangat berilmu dan menuntaskannya. Kadang menyelesaikan satu goal tidak atau belum rampung-rampung karena berbelok arah. Pun kadang dengan potensi yang Allaah berikan pada emak-emak ialah multitalenta akhirnya melakukan passion yang lain dulu ketika merasa penat. Semoga setelah hal ini tertulis saya bisa lebih maksimal lagi untuk fokus, fokus dan fokus. Selesaikan satu hal yang mudah sebelum menyelesaikan hal yang lain seperti dalam surat Al Insyirah.

7. Serius pada bakat. Menulis dan melukis. Ikatlah ilmu dengan menulis. Ikatlah hati dengan menulis. Ikatlah cahaya dengan melukis. Hal ini ialah passion saya sejak duduk di bangku SD meski hanya menulis cerita singkat, menulis diary dan alhamdulillaah semenjak jadi emak-emak bisa lebih terakomodasi dan jadi beberapa buku. Juga ketika mengenal dunia fotografi sejak main Instagram, akhirnya belajar memotret dengan kamera. Dan ternyata baru tahu ketika saya berumur satu tahun dahulu, kedua orang tua saya memberikan hadiah sebuah kamera yang tersimpan hingga kini untuk saya. Masya Allaah..

Dan karena saya ingin terutama anak-anak dan suami bisa memaksimalkan bakat mereka juga. Ketika saya ingin meminta anak-anak bisa berbakat dan berprestasi, maka saya pun juga harus berubah terlebih dahulu.


Adab itu ditularkan
Bukan diajarkan 


Seperti yang saya tulis di NHW latihan yang saya kutip ke sini lagi,

Duhai emak, kurasa engkaulah barisan calon penghuni surga yang sangat dicemburui

Ketika kau baru tersadar bahwa dunia sebenarnya berada di tanganmu

Allaah telah lebih dulu menundukkan surga di bawah telapak kakimu

(Viana Wahyu)


Semangatlah, emak-emak pembaharu ^_^
Selesaikan puzzle kehidupanmu !



Viana Wahyu
Mahasiswi Matrikulasi IIP Batch 7

Posting Komentar untuk "NHW #1 Matrikulasi IIP Adab Menuntut Ilmu "Puzzle Kehidupan""