Broken The Limit or Broken The Home

 


"Bergeraklah hingga kelelahan itu lelah mengikutimu." (K.H Rahmat Abdullah)


Alhamdulillah, latest mission on pre-Bunsay batch 7!

Hatiku berontak! 

Pikiran bergejolak!

Uwww masyaAllah, menjurnal tiap hari? Mengirimkan setoran misi tanpa jeda bertemu mentari? 

Rasanya kok agak berat ya? Membayangkan misi di kelas Bunda Sayang IIP yang masih rahasia berapa zona dan tantangan apa yang ada di dalamnya. 

Sampai akhirnya triinggg, sebuah pencerahan hadir ketika self talk. Mau tahu ga apa hasil perbincangan dengan hatiku?

 

Setelah pengendapan dan memutar-mutar ulang siaran belajar bareng widyaiswara (padahal aku ikut live, loh) akhirnya baru kemarin malam, tengah malam tepatnya, setelah semua penghuni rumah tidur, barulah aku bisa memahaminya dengan baik.

Sepertinya hal ini disebabkan karena 

1. Faktor W yaitu waktu yang tidak tepat untuk menyimak. 

2. Belum menjadi gelas kosong, euy. Jadinya lubeer dan ga fokus. Noted banget deh untuk pembelajaran selanjutnya. 

Nah, hasil menemukan jawaban untuk sebuah kekuatan dari misi terakhir yaitu "Menemukan tantangan (diri) dan Memilih Karakter Moral" terpusat pada, jreengg, jreenggg ... 

"Keberadaan kita sendiri"

Baiklah, mari kita urai yaaa.


Karakter Moral Ibu Profesional

Sebelumnya, aku ucapkan terima kasih pada widyaiswara yang kebetulan berasal dari satu regional yaitu Mak Dyas P, yang sudah mengajak berpikir (mulai saat ini harus diubah menggunakan kata "menyampaikan materi" deh, hihi) tentang karakter moral Ibu Profesional.

Apa saja tuh? 

1. Sharing is Caring

2. Never stop running the mission of live

3. Know I can be better

4. Always on time

5. Don't teach me, I love to learn


Tantangan Diri saat Nyemplung di Bunsay

Sama seperti emak-emak di seluruh nusantara yang hanya memiliki 24 jam sehari, capeknya sama, rasanya samaaa, namun menurutku, 

Menjadi ibu bukanlah peran tanpa laku. Bukanlah rutinitas jemu tanpa sempat menambah ilmu. 

Aku pun sempat merasa shiplag 🤭 pada bayangan aktivitas pembelajaran di Bunsay nanti. Seperti kutulis di awal tulisan ini, membuat jurnal kegiatan tanpa jeda tiap hari? 

Khawatir ga bisa, khawatir ga didukung paksu, khawatir anak-anak ga kepegang dan anakan kekhawatiran yang lain. 

Tapi sama seperti yang aku bocorkan di depan bahwa setelah self talk akhirnya menemukan jawaban. 

Kenapa merasa berat untuk belajar dan melaporkan tiap hari? Sedang hidup kita memang sejatinya adalah pelaporan tiada henti pada yang Maha Menghidupkan, bukan? 

Alhamdulillah, niat yang sempat belok kembali tertata. Kekhawatiran sudah menjadi puing-puing tanpa menimbulkan rasa pening lagi. 

Namun tetaplah ayo kutuliskan apa saja tantangan yang bakal muncul mengiringi belajarnya emak di Bunsay 7 ini nanti,

1. Waktu.

Jelas bangeet ya, emak-emak di mana-mana sering mengeluhkan kurangnya waktu 24x7. Apalagi kondisi membersamai anak dan suami yang seringkali tak terduga, apalagi di masa pandemi ini. 

Anak-anak dan suami bukanlah tantangan, mereka masyaAllah, sebenarnya adalah mutiara yang Allah titipkan untuk membersamai dan menguatkan kita mengarungi hidup ini. 

Ada support system terindah yang insyaAllah akan menjadi tujuan dan energi positif kita selama Bunsay ini.

Ah, emak, Bunsay ini hanya salah sedikit tapak yang akan kau jalani dari sekian panjang deret dan sekian berat perjuanganmu menjadi emak, insyaAllah akan dimudahkan.

InsyaAllah strategiku dalam kondisi ini adalah membuat jadwal belajar emak selama bunsay dan memberitahukan pada kangmas suami, serta meminta izin waktu belajar khusus tiap hari hanya setengah jam saja mungkin untuk mengerjakan.

2. Kesabaran

Hmm, hmmm ...

Klasik ya, masalah emak-emak dan para istri itu selain waktu ya kesabaran. Aku pun mengalaminya. Betapa kesabaran ini sering teruji agar tidak keluar dari tempatnya. 

Tapi insyaAllah ada strategiku untuk menambah kuota kesabaran di hati, yaitu dengan membasmi masalah pemantik ketidaksabaran. Apa sajakah? 

Biasanya karena waktu yang tidak tertata dengan baik, mood yang kurang bagus biasanya karena imun dan iman menurun serta kalau PMS datang 🤭. 

Selama ini merasa kalau ruhiyah naik, maka kesabaran pun akan meningkat grafiknya. Ketenangan yang menjadi sumber kesabaran pun bertambah.

Semoga Allah mudahkan yaa. 


Jadi, Karakter Moral yang Diperlukan

Dari kelima karakter moral Ibu Profesional di atas, aku memerlukan,

1. Always on time

2. Never stop running a mission of live

3. Sharing is caring

Eh, sepertinya aku memerlukan semuanyaaaaa deh! 😃

Bismillah yaaa,

Semoga Allah mampukan untuk membumikan misi bunda sayang yang insyaAllah sealiran juga dengan misi pribadiku, yaitu 

meningkatkan kualitas diri sebagai istri dan ibu dan mendidik diri serta anak-anak dengan belajar yang mudah dan menyenangkan.

Semoga Allah berikan kemudahan, kelapangan dan kebahagiaan yang berlipat untukku dan keluarga serta seluruh emak-emak yang nyemplung di petualangan batch 7 ini.

Karena judulnya petualangan, maka ayoo kita semangaaaat bareng ya. Main-main itu mesti dengan jiwa yang seneng.


Terakhir, teriring sebuah kata hati bahwa sebenarnya quote paling awal tulisan yang sempat tampil di belajar bareng pra-Bunsay kemarin, namun sayangnya tidak menemukan pencantuman nama pada quote yang terkenal dan saya termasuk fans penulis quote tersebut. Mungkin mak WI terlewat menampilkan 😊.

Semangat yaa, Maaaks!

(Ngadep kaca).


Posting Komentar untuk "Broken The Limit or Broken The Home"