Sabtu, 07 November 2020

Pamitnya Nikon dan Potret Kita Hari Ini

 

Foto pribadi Viana

Semua akan (c)antik pada waktunya. Biasanya hal yang antik itu datang dari masa lalu, tapi ternyata masa kini pun bisa membungkus benda yang masih ada saat ini untuk menjadi barang jadul


Nikonian, sebutan bagi pengguna dan pecinta Nikon, sempat kaget dan bersedih dengan kabar bahwa Nikon Indonesia mengalihkan dukungan bagi pengguna produknya. Pasti juga sempat bertanya-tanya akankah ini akhir dari perjalanan mereka bersama Nikon seri terakhir yang mereka miliki saat ini?

Sebagai penikmat dan pembelajar fotografi, yang sejak 5 tahun lalu sempat melabelkan 'nikovian', gabungan nama Nikon dan Viana, saya pun juga ikut terkejut. 

Sebab baru sekitar 8 tahun, Nikon Indonesia menemani karya fotografi nusantara. Sedang pabrik Nikonnya sendiri yang berpusat di Tokyo, hingga sekarang masih ada. Usia yang bisa dibilang terlalu dini untuk 'pensiun' sebagai supporter dunia kamera Indonesia, ya? 

Ketika Nikon Indonesia Menutup Lensa Dukungan


Laman Instagram Nikon Indonesia @nikonindonesia menuai banyak komentar, berita tentang Nikon pun merebak. Namun kalau menurut kesimpulan saya, semua itu hanya spekulasi dugaan pada alasan kenapa Nikon Indonesia pamit.

Dan menurut saya, nikonian jangan terlalu bersedih, sebab masih ada distributor resmi di Indonesia yang ditunjuk oleh Nikon pusat. Kalau mau service atau upgrade gear pasti masih bisa dilakukan. 

Bisa jadi Nikon pun terdampak pandemi ini juga. Kabarnya juga telah terjadi PHK besar-besaran, bahkan pabrik Nikon di negara tetangga dekat kita pun ikut tutup.

Namun memang bukan hanya pandemi saja yang membuat tatanan dunia berubah, tapi juga era millenial yang kita jalani sekarang. Mau tidak mau iklim millenial menuntut kepraktisan serta kemudahan akses untuk sebuah futuristik.

Secara spesifikasi produk, Nikon memang sudah berusaha mengikuti perkembangan zaman, sudah ada produk mirrorless juga. Namun dunia fotografi yang kian banyak peminatnya pun ternyata sebanding dengan giatnya inovasi para pesaing Nikon.

Bukan salah para pecinta dan penikmat dunia kamera juga, jika akhirnya mereka melabuhkan pilihannya pada brand lainnya. Karena fotografi bukan sekadar butuh produk ternama, tapi spesifikasi yang sesuai dengan kebutuhan pencarinya.

Tentang Lensa Kita


Zaman sekarang pertanyaan yang relevan bukan lagi pilihan DSLR atau Mirrorless, melainkan opsi pertanyaan kamera digital atau kamera smartphone.

Things end, but memories last forever.

Saya pernah menyampaikan pernyataan pada suami, ketika pada akhirnya pengajuan peralihan dari foto-foto saya yang menggunakan lensa smartphone menuju kamera digital.

"Yah, dunia fotografi di masa depan sepertinya akan menjadi eranya mirrorless, atau mungkin akan ada bentuk baru lagi. Maka izinkan istrimu ini bisa merasakan pernah memiliki DSLR, mengoperasikan dan mencintainya sebelum masanya benar-benar terganti."

Lantas mendaratlah sebuah kamera Nikon seri D3200 (sudah jadul banget, ya) empat hari sebelum weddingversary kami pada 6 Juni 2015. 

Sebenarnya suami lebih menyarankan untuk membelikan kamera mirrorless, alasannya karena lebih asik modelnya, performa lebih ringkas tapi hasilnya sebagus DSLR, dan pastinya lebih ringan saat dibawa. Alasan terakhir tentu lebih menarik buat suami yang sering kebagian membawakan tas kamera ketika kami bepergian.

Ga nyangka kalau kalimat lima tahun lalu ini terjawab pada 22 Oktober 2020 kemarin dengan resmi pamitnya Nikon Indonesia.

Potret Masa Kini


Seiring pandemi yang belum berakhir di zaman millenial ini, kebutuhan daring semakin meningkat. Lebih banyaknya waktu di rumah bisa menjadi alasan untuk lebih bereksplorasi dan menjadi eksis. Smartphone bisa mengakomodir semua kebutuhan itu dengan kepraktisan.

Kini semakin marak ponsel pintar yang didukung dengan fitur fotografi yang mengagumkan. Orang tidak perlu lagi menenteng kamera yang relatif berat untuk kegiatan dokumentasi peristiwa, tidak butuh waktu lama untuk mengatur mode manual di kamera, karena mode auto di gawai pun bisa menangkap momen kece, bisa masuk saku, tidak terlihat ketika berniat mengcandid, dan yang pasti hanya dilakukan dalam waktu singkat dan voila, sudah bisa terunggah ke sosial media.

"Fotografi dulu adalah untuk orang kaya. Apa yang kita lihat dengan smartphone adalah demokratisasi memotret. Saat ini, ada 5 miliar smartphone di tangan orang dewasa dan kita bisa mengambil foto di manapun. Di masa depan, kamera tidak akan pergi tapi memang akan kembali menjadi niche market." (Damian Thong, analis di Macquarie Group pada Detikinet, 22 Oktober 2020).

Bisa jadi yang tereduksi sekarang ialah kamera digital, tapi mungkin di masa depan smartphone yang kini berada di atas angin bisa terimbas juga karena ponsel pintar pun bukan lagi barang mahal. Dan siapa pun bisa menjadi fotografer. 



Jika dulu melihat orang berkalung strap brand kamera ternama sudah terlihat profesional, maka sekarang profesionalitas dalam dunia fotografi bukan semata pada gearnya yang keren. Sebab man behind the gun itu penentunya. Banyak lho, yang gearnya sudah keren, tapi sayang pemiliknya belum bisa memaksimalkan perangkatnya. Nyatanya hasil bidikan lensa ponsel pun tak kalah dengan hasil dari shutter kamera digital yang seolah seperti mata yang berkedip.

Maksimalkan saja apa yang saat ini sudah ada di genggaman kita. Kamera digital atau smartphone hanyalah alat, otak dan sense of art kita lah yang menjadi penggerak utamanya. 

Maka seperti kata Nikon saat undur diri, "Yuk terus memotret dan berkarya." Masih setia #tetapnikon untuk memotret atau mungkin sudah ada 'adiknya' kamera dari brand lain, semua adalah pilihan. Terima kasih Nikon Indonesia telah membersamai nikonian dan menjadi bagian karya fotografi Indonesia. 

Kekunoan atau kekinian, semuanya tetap terlihat cantik di mata sang fotografer. (Viana Wahyu)


7 November 2020

Salam dari balik viewfinder ... jebreeeet!



1 komentar: