Sabtu, 24 Juli 2021

Aliran Rasa Pra-Bunsay "Petak Umpet Kebahagiaan"





Kehidupan ini bukanlah ajang berkompetisi dengan menoleh ke samping, sebab akan selalu ada cermin yang selalu jujur mengungkap capaianmu hari ini dan kemarin.

Kalau penat di daratan, enaknya ke mana? Nyemplung ke laut aja deh, hihihi. 

MasyaAllah, di tengah pandemi yang mau tidak mau menyisipkan aneka rasa dalam kehidupan, namun lebih banyak rasa ga enak ya, sebagai emak aku pernah merasakan stres, hiks (baca, banyak pikiran).

Nah ternyata seolah pertanyaan di awal tulisan ini terjawab, akhirnya pra-kelas Bunda Sayang Ibu Profesional tiba! Daaaan, beneran mengajak nyemplung ke laut para pembelajar di jenjang ini doong. ๐Ÿ™Š

Duuuh, duuh,
Berasa impian yang terjawab atau lamunan ngasal yang bikin kaget ketika jadi kenyataan tak terduga? 

Di kelas pra-Bunda Sayang ini kami, para pembelajar yang tidak cuma terdiri dari emak-emak doang, karena ada juga mereka yang masih calon emak, semuanya bersemangat sekali. Dan aku? Alhamdulillah jadi makin  semangat juga.



Berdamai dengan waktu vs mengejar waktu

Bagiku, adanya kesempatan belajar ini bisa menjadi semacam "me time" yang membantu menaikkan hormon kortisol yang akan menghalau pasukan stresor yang melemahkan psikis. Meskipun, ketika mengerjakan misi perlu jeda waktu, karena biasanya seringkali aku mengendapkan tangkapan pikiran yang sudah tertangkap di awal mendapat misi.

Kenyataannya malah jadi kaum pemburu deadline. ๐Ÿ™ˆ๐Ÿคญ

Namun waktu ini memang menjadi tantangan banget bagi para emak, apalagi periode pelaksanaan Bunda Sayang-nya Ibu Profesional ini berlangsung selama setahun (semoga tidak lebih lama ๐Ÿ™ˆ), antara nyesek membayangkan bisa bernapas di lautan selama itu dan penasaran bisa ga ya bernapas dalam rentang 365 hari.

Ah, jadi ingat, di awal tulisan ini harus membuat afirmasi positif. Jadi insyaAllah aku bisa bernapas panjang di dalam lautan petualang bunda sayang. Aamiin. 



Main petak umpet dengan hati

Nah, naaah ... ini adalah self talk yang seriiing banget kubangun sejak kelas matrikulasi dulu dan ketika masuk lagi di kelas pra-bunsay ini. Efeknya jadi menemukan lobus-lobus kebahagiaan yang tersembunyi. Kenapa jadi kayak perlu menjemput kebahagiaan? Dan kenapa kebahagiaan itu tersembunyi? 

Yang kurasakan memang kebahagiaan tuh sebenarnya bertebaran dan kadang terhampar di depan kita, namun seringkali kita tak bisa merasakannya. Barulah ketika kita mencoba menyederhanakan harapan dan menggaet syukur, barulah kebahagiaan itu tampak.

Ssstt, tahu ga kapan biasanya self talk itu sering kulakukan? Hihi, saat mengerjakan kerjaan domestik ๐Ÿ˜ƒ.


Teman Petualangan

Uwww, asyik banget ketika baca pengumuman bahwa ada teman satu petualangan. Rasanya tuuh ya seperti menemukan teman sebangku atau sebelahan saat di dalam kapal selamnya bunsay.

Sebab di bunsay yang platformnya ada di FBG ini rasanya ga seintens kalau ada di whatsapp, makanya seneng bangeeet deh. 

Tapii eh tapi, ketika kakak widyaiswara yaitu Nurlian menyampaikan bahwa teman satu petualangan ini cuma berlaku sampai di pos terakhir pra-bunsay aja. Kukira akan bisa bergandengan tangan dengan teman seperjalanan. 

Baiklaah, tidak apa-apa. Alhamdulillah makin tambah energi positif untuk menyelami bunsay nanti. Terima kasih juga ya Mba Reni Wulandari yang sudah berbagi cerita dan rasa di pra-bunsay ini. Nice to meet you. 

Semoga Allah mudahkan semua rencana indah kita di sesi curcol emak-emak yaaa. ๐Ÿ˜

Terima kasih Ibu Profesional ๐Ÿ’™

Oyaa sebagai bentuk cinta, alhamdulillah sudah follow dan subscribe akun logo biru orange nih ๐Ÿ’™๐Ÿงก





Yuk, Mak temukan sendiri kebahagiaan versimu, ya. 
Selamat main petak umpet ๐Ÿ˜


Oleh: 
Viana Wahyu
IP Depok




Tidak ada komentar:

Posting Komentar