Fear Tension





Bukanlah para pemberani itu tak memiliki rasa takut. Mereka memilikinya, tapi mereka menekannya dan memilih menjadi petarung kehidupan.. dan mereka menang ! 
(Viana Wahyu)

Kehidupan bagi seorang penyelamat jiwa bagaikan sinar matahari yang menghangatkan raga, ketika malam masih memeluk bumi di dini hari. Mereka melihat satu jiwa adalah sebagai sebuah kehidupan secara keseluruhan.

Bahkan seringkali mereka lupa bahwa mereka memiliki kehidupan !




Keberanian adalah Energi

Bagi seorang bidan, kehidupan adalah suatu hal yang sangat berharga. Lewat tangannya, terlahir sebuah kehidupan baru yang meramaikan mayapada. Sosok pembawa perubahan kembali hadir mengisi dunia dengan segala amanah baru yang disematkan-Nya.

Dalam menjalankan tugasnya menolong persalinan, mereka bukan tak kenal takut. Perasaan khawatir bila terjadi kegawatan, bayangan audit dan bui bila sampai malpraktik, dan ketakutan terbesar ialah bayang kematian ibu dan atau anak. Tapi naluri untuk menjadi penyelamat kehidupan, jiwa pengabdian yang terus terpatri dan juga kekaguman pada setiap tangis bayi, yang diharapkan menjadi ending perjuangan yang melelahkan dari setiap ibu yang bersalin, berhasil memangkas rasa takut sang bidan.

Bagaimana bisa melihat peluh, tangis dan darah dari perjuangan seorang ibu bersalin, akan menyurutkan aliran darah keberaniannya? Dan bagaimana mungkin detak dan tendangan manusia kecil yang berada di dalam rahim, akan mengerdilkan nyalinya untuk membantunya keluar dari kegelapan di sana? 

Akhirnya muncullah sebuah energi yang melahirkan sebuah profesionalitas untuk menolong persalinan. Menjadi penjaga setiap pesan terindah untuk semesta. Menjadi penjaga para perempuan yang mengikhlaskan jiwa raganya demi sang buah hati yang tertakdirkan lahir darinya. Dan menjadi tangan pertama penerima bayi mungil yang selalu terbesit harapan agar menangis keras, ketika berhasil ia bantu lahir dari jalan kehidupan sang janin.

Meski dalam profesionalitas tidak mengikut sertakan perasaan sentimentil apalagi perasaan pribadi, namun peristiwa agung sebuah persalinan dengan prosesnya yang tak akan sama, bahkan pada dua ibu kembar identik sekalipun, menghadirkan rasa takjub, bahagia, emosi, bahkan menangis ketika harus menemui ending yang mengharukan bahkan menyedihkan. Tapi air mata mereka dilarang tumpah di hadapan para pejuang persalinan. Betapa pun menyedihkannya.

Di pundak dan tangan bidan tersangkut sebuah harapan bahwa masih ada yang peduli pada para ibu yang seringkali harus sendiri di ruang bersalin atau di ruang operasi. Mata dan ucapan bidan diharapkan mampu menjadi penguat dan pemberi motivasi terbaik.

Kalaupun harus ikut menangis, bertemanlah hanya dengan dinding, bu bidan!


Hidup adalah Keberanian Berharap

Ah, meski tangguh di luar sana, bubid tetap manusia biasa, heuheu. Butuh bahu untuk bersandar, butuh tangan untuk menyeka air mata dan butuh pelukan bumi untuk melangitkan doa.

Di sanalah ada sebuah titik yang menjadi lentera penyemangat. Sebuah titik yang meski kecil namun bisa membuat jiwa calon ibu/ ibu bisa bertahan dalam sembilan bulan perjuangan kehamilannya. Lelah yang semakin bertambah-tambah. Payah yang semakin membumbui resah seiring usia kehamilan yang kian menua.

Titik yang bernama harapan. Siapa pun yang menggenggamnya akan bisa terus hidup dan memberikan penghidupan.

Dalam 40 pekan perjalanan seorang ibu dan calon ibu bersama janinnya, bertautanlah antara kebahagiaan dan kecemasan. Antara bahagia dan khawatir. Antara senang dan cemas. Dan sampailah pada puncak rasa yaitu titik kepasrahan antara hidup dan mati.

Harapanlah yang merengkuh segala rasa yang terpulas di hati. Harapan untuk berjuang dan bertahan hidup demi yang kita sayangi.

Meski harapan itu seperti nyala lilin, yang sekali tiupan akan padam, namun di sana sudah berjejak cahaya yang menjadi penerang. Maka tak perlu ragu untuk terus berharap. Melabuhkan asa pada sang penguasa semesta. Beruntunglah para pemilik harapan yang akan selalu hidup hatta ketika raga mereka tak lagi membersamai. Dan sungguh akan menyesallah para pemutus asa yang kehilangan hidupnya sebelum kehidupan benar-benar meninggalkannya.


Hidup adalah Keberanian Memilih Kehidupan

Mau tidak mau, di era milenial ini kita dihadapkan pada kehidupan nyata dan dunia maya atau sosial media. Zaman ketika jemari adalah pesawat jet super cepat yang membuat kita berkeliling dunia. Zaman yang dengan kata bernama internet, mampu membuat siapa pun menjadi viral. Menjadi trending topic. Menjadi perbincangan jagad raya.

Nah, sayangnya dominasi hati masih menyeruak ikut dalam kedua zona ini. Baper. Bawa perasaan. Sensi. Dan istilah lainnya yang mengartikan kalau emosi menjadi labil dengan feed back yang diterima di sana. Cacian. Hinaan. Nyinyiran. Namun tak jarang juga ada pujian. Meski yang lebih mudah ialah mengutarakan cemoohan pada orang lain. Status orang lain. Nasib orang lain.

Tapi, sekali lagi, bidan juga manusia biasa. Mereka punya hati yang di dalamnya juga terpetakan perasaan sedih, kecewa, tersakiti, terluka, hancur, tercabik, perih, tapi juga suka, lega, damai, tenteram, riang dan bahagia.

Sungguh beruntung, manusia yang tidak capek oleh ejekan dunia. Ia memiliki tujuan yang lebih besar dari sekadar mengurusi penilaian subyektif manusia. Mereka yang meyakini bahwa Allah-lah yang menilai semua laku mereka. Maka mereka seringkali tak merasakan lelah di dunia untuk meraih mulia atau bertahan dalam kemuliaan, sebab mereka hidup dalam ruang tanpa batas energi positif.

Mereka yang memilih menjadi tidak terkenal asal dunia tersenyum adalah pejuang kehidupan. Mereka memilih menghidupkan kehidupan dengan kebahagiaan. Melihat orang lain tersenyum dan bahagia itu sudah cukup menjadi obat lelahnya. Dan salah satu dari mereka ialah para bidan, yang membantu orang lain menjemput kebahagiaannya tanpa berharap yanh ditolong akan terus mengingatnya, meski hanya sekadar nama.

Selamat menjadi pemilih kehidupan hakiki
Selamat hidup di dunia nyata yang sebenarnya
Selamat menjadi berani
Kalahkan rasa takutmu.. !



🌻🌻🌻🌻🌻


Ditulis oleh : Viana Wahyu
Diikut sertakan dalam OWOW #oneweekonewriting
Kelas Minat Menulis Ibu Profesional Depok

Posting Komentar untuk "Fear Tension"